Tembo adalah sejarah adat dan asal-usul yang diyakini kebenarannya. Tembo Tiga Lorong dibacakan dalam setahun sekali dihadapan Orang Negeri. Biasanya, pembacaan Tambo diadakan pada hari-hari keagamaan seperti Isra’ Mi’raj atau Maulid Nabi. Orang Negeri adalah Orang yang berada di wilayah Tiga Lorong. Pembaca Tambo disebut Ketua Tambo, Ahli Tambo atau Pengetahu Tambo. Manuskrip tambo ditulis oleh Muhammad Thaib menggunakan aksara Jawi (Arab Melayu) pada tanggal 3 Februari 1917.
Manuskrip Tembo Tiga Lorong ditulis oleh Mohammad Thaib menggunakan aksara Jawi atauArab Melayu pada tanggal 3 Februari 1917. Dalam naskah manuskrip Tiga Lorong tidak ada tertulis kata tembo menggunakan aksara jawi (Arab Melayu), kecuali pada sampul naskah manuskrip Syafi’i Thaib tahun 1971, tertulis kata ‘tambo’ dalam aksara latin. Naskah asli disimpan oleh Syafei Thaib, sekarang disimpan ahli warisnya dalam kondisi masih terpelihara baik. Naskah yang digunakan untuk menulis buku ini berasal dari photo copy, diperoleh dari Isjoni Ishak. Halaman pertama naskah ditandatangani langsung oleh Mohammad Thaib. Halaman isi didominasi tetang kisah tiga orang bersaudara yang datang dari Jambi, yang berhasil menjalankan titah tugas dari Sultan Inderagiri untuk membunuh Siaja Dubalang. Lembar halaman 29 dan 30 terdapat risalah rapat di kantor Sutan Muda Peranap, antara penghulu-penghulu Tiga Lorong dengan Engku Raja Sulung (menteri jabatan Sutan Muda), penghulu Peranap, penghulu Gumanti, dan menti-menti lainnya. Diterakan pula tanggal pelaksanaan rapat 16 April 1918. Keseluruhan naskah manuskrip tembo Tiga Lorong terdiri atas 37 lembar, terdiri atas 5 kategori, antara lain:

- halaman judul atau kulit naskah sengaja ditambah oleh Syafi’i Thaib pada tahun 1971
- satu halaman kosong bertempel secarik kertas bertulisan latin dan aksara kanji Jepang, penanda folder arsip masa pendudukan Jepang di Inderagiri
- lembar surat keterangan dan pernyataan; (1) lembar pernyataan Sutan Muda Inderagiri, No. 47, 10 September 1926, beraksara latin. Isinya mengakui keabsahan pengangkatan Mohammad Thaib sebagai penghulu Baturijal Hilir. Surat pernyataan Sutan Muda ini diterbitkan berdasarkan surat Mohammad Thaib No. 126, 27 Juli 1926. Ditandatangani sekaligus berbubuh cap assisten residen wedana, cap pejabat Sutan Muda Inderagiri, dan cap Soetan Muda Inderagiri, (2) surat pernyataan bertulisan Jawi, ditandatangani sendiri oleh Mohammad Thaib tertanggal 3 Februari 1917. Berisi keterangan keabsahan riwayat Tiga Lorong, dihimpun dari pengulu Pematang bernama Raja Janggut (Danang Lelo), sekaligus diyakini keabsahannya
- halaman 01 – 20 berisi riwayat orang tiga beradik, dimulai sejak berangkat dari Batujangko, hingga memperoleh kurnia pangkat dan tanah Tiga Lorong
- halaman 21 – 33 berisikan persoalan batas tanah dengan Peranap, dan risalah rapat soal pembangunan jalan raya Taluk-Rengat.











