Bajike adalah seni perrtunjukan khas puji-pujian masyarakat Tiga Lorong. Berasal dari kata jike, dikir, atauzikir, menggunakan teks lisan dan tulisan. Diiringigendang gebano (gendang satu muka kulit). Kekhasannya karena gendangnya lebih besar dari kebanyakan group dikir yang ada di alam Melayu. Karena kekhasannya itu pulalah seni pertunjukan ini terancam punah karena dibuat dari pohon besar dan pohon besar itu sudah punah oleh skenario makro pemerintah.
Bejikeseni pertunjukan khaspuji-pujian(menggunakan teks lisan dan tulisan) diiringigendang gebano (gendang satu muka kulit) di kenegerian Baturijal, wilayah Tiga Lorong Inderagiri, tempat bertapak Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Bejikeawalnya mirip berzanji kemudian dikembangkan dalam bentuk teks-teks profan seperti genre pantun dan syair. Gendang gebano berukuran besar dengan garistengahmuka atas lebih dari90 centimeter untukpermukaannyasedangkangaristengahkulitnyamencapai 80-95 cm. Ukuranmukabawahberkisar50-60 cm. Tingginyaberkisar 20 cm. Gendang gebano dengan ukuran besar-besar dimiliki oleh jike kenegerian Baturijal, Indragiri.Ukurangebanotidaksamabesar, sehingga menghasilkan nada yang berbeda-beda, dan menjadi sebuah simponi, sedap di dengar telinga.
Istilah jike ini diambil dari kata zikiryakni kegiatan puja-puji kepada Allah. Di beberapa tempat disebut juga dengandike dan sebagian disebut juga dengan jike gebano atau dike berdah untuk penamaan seni pertunjukan yang sama. Memberikanpuji-pujiandengandiiringigebano, dan terkadang dilengkapi dengan gong dan ketawak. Meskipun teks nyanyiannya tergolong sakral, namun bejikeatau berzikir dilaksanakansebagaiacarahiburandalamacaraberhelat upacara adat dan kegiatan resmi pemerintahan di Inderagiri Hulu, Riau.
Setiap kelompok jike biasanya terdiri dari belasan hingga puluhan orang untuk menjaga terpeliharanya kemerduan nyanyian terutama jika mereka saling sambut-menyambut atau bersahut-sahutan suara di samping paluan rebana masing-masing. Para pejike atau penzikir biasanya memakai pakaian Islami atau baju Melayu. Acara diawali dengan makan, kemudian diselingi dengan jedah dengan makan nasi dan juadah bersama, sambil duduk bersela.
Jike gebanoTiga Lorong sudah ada sejak turun-temurun yang tidak diketahui tahun berapa pastinya. Namun, dari beberapa narasumber menjelaskan bahwa jike gebano awal sudah ada berabad-abad lalu di Daik Lingga, Kepulauan Riau, kemudian dibawa ke Kerajaan Inderagiri dan beberapa pesisir Pulau Sumatra lainnya, lalu disebarkan ke Betawi. Dari Betawi dibawa oleh pendakwah ke Semenanjung Malaya, seperti Kampung Berhala Gantang, Temerloh, Pahang dan kemudian tersebar ke daerah Pekan, Temerloh dan Lipis.
Jike gebano dapat juga dikatakan sebagai seni kata.Dalam pertunjukan jikegebanopada awalnya banyak memakai bahasa Arab yang memuji kebesaran Tuhan dan memuliakan Rasul. Khusus Mereka berdikir dengan panduan teks khusus yang mempunyai 14 keturunan dalam bentuk nazam, tetapi tidak memakai tanda yang sebenarnya. Pajike(seniman jike gebano) biasanya tegakdan berjalan, namun di pesisir Pulau Sumatera, pajike lebih beradab, mereka duduk bersila membentuk lingkaran mengelilingi teks yang diletakkan di tengah-tengah di atas bantal. Mereka berjike gebano secara bergiliran mengikuti putaran ke kiri atau ke kanan. Pada peringkat pertama berjike, rebano yang ditepuk diletakkan di atas lantai di hadapan sila, dan pada peringkat kedua, rebana diletakkan di atas riba. Rebana ditepuk dengan menggunakan empat jari. Terdapat tiga jenis tepukan yaitu tepukan cop, tepukan tung dan jentikan.
Bejike untuk meramaikan acara yang dilakukan pada saat perayaan perkawinan, semalam suntuk. Setelah selesai makan bersama, mulai dari sekitar pukul 9 malam, sampai waktu subuh, menyelesaikan beberapa pasal atau bab dalam kitab khusus jike. Bejike dibagi beberapa sesi atau pasal. Setiap menyelesaikan satu pasal, diadakan istirahat atau jedah dengan minum-minuman teh atau kopi dengan penganan. Waktu jedah hanya sekitar 15 menit, digunakan rehat kopi atau teh atau minum-minuman melapangkan suara. Sedangkan jedah besar dengan makan nasi.
Ketikawaktu jedah, gebano yang besarituditelungkupkansekaliandijadikantempatmeletakkantalam (nampan) tempatmakanan.Bagianak-anakjarang yang mampubertahantidaktidursemalaman.Tetapianak-anaktetapramai di tempat orang bejike, dan mendapatkanmakanankuepadawaktujedah, ataumakanmalamdenganlauk yang istimewa.
Bajiketidakhanya dengansuarapelandanrendah, sebagaimana orang berdoadanmemohon kepada Tuhan, melainkanada juga dengan suara keras dan tinggi, kadang-kadangsampaimelengking.Suarajikeyangkerasituditimpaliolehsuararebana yang juga keras, karenadipukulsekuattenagaataubisajugapukulannyadihentikanataudikosong, hanyasemata-matasuarasaja.Karenabajikeinimerupakansuatugrup, harus seirama. Anggota grup selalu berlatih untuk memperbaiki penampilan supaya pelanggan tidak kecewa. Suara orang bejike ini terdengar sampai jauh. Ketika malam semakin sunyi, suara orang bejike semakin jelas. Terdengarnya semakin merdu. Acara-acara ini biasanya di rumah pengantin perempuan.












