Boria

  • Bagikan
Boria.

Sejenis kesenian tradisional di kalangan orang Melayu di Semenanjung Malaysia yang tersebar luas di Tiga Lorong Inderagiri, Bengkalis, Kepulauan Riau. Boria berupa lakonan (lawak jenaka) dan diikuti dengan nyanyian yang diiringi sekelompok penari. Video ini direkam di Melaka, pada acara Dialog Selatan 5, Hotel Seri Costa, Melaka Malaysia 20-22 Oktober 2023.

Ada yang mensinyalir seni pertunjukan ini berasal dari masyarakat India Selatan yang banyak bermukim di Pulau Pinang semenanjung Tanah Melayu. Boria sangat populer pada pemerintahan Sultan Riau-Lingga yang terakhir, Sultan Abdul Rahman al-Muazam Syah (mulai memerintah dari 18 Februari 1886 di Daik Lingga dan dimakzulkan dengan Surat Abdikasi yang dibacakan di gedung Rusydiah Kelab 10 Fenbruari 1911. Yayasan Indera Sakti Pulau Penyengat ada menyimpan contoh lirik lagu-lagu yang dinyanyikan oleh perkumpulan Boria ketika menyambut Hari Raya Puasa di depan sultan kerajaan Riau-Lingga itu.

Hubungan antara kerajaan Riau dengan Pulau Pinang sudah terbina sejak lama. Hubungan itu bertambah erat setelah pada pertengahan abad ke-19 rombongan haji dari Riau banyak yang berangkat ke Jeddah dengan alur perjalanan melalui Pulau Pinang dari Singapura.

Wilkinson (1959:153) mengartikan “boria” sebagai berikut: Muharram minstrels or singer of carols. At the Muharram, esp.in Penang, it is (or was) the custom for bands of serenaders in fancy dress to visit houses of prominent citizens and sing topical songs. Such bands are known as boria.

Di Riau permainan Boria telah mendapatkan sentuhan di sana sini sehingga mempunyai ciri khas dan sedikit berbeda secara keseluruhan jika dibandingkan dengan Boria di Pulau Pinang itu. Seniman-seniman setempat telah memasukkan unsur-unsur kesenian yang memang sudah lama diakrabi di daerahnya.

Jadi kalau di tempat asalnya di Pulau Pinang, boria merupakan suatu kelompok yang datang berarak beramai-ramai ke rumah-rumah orang berada untuk menyanyikan lagu-lagu pujian pada bulan Muharram, di Riau Boria dimainkan pada setiap hari besar seperti Hari Raya Idulfitri, Idul Adha, peringatan naik tahta sultan, diundang untuk memeriahkan hari-hari besar pemerintah Hindia-Belanda, dan lain-lain.
Lagu dan nyanyian yang dimainkan dalam Boria di Riau dan Kepulauan Riau tidak hanya lagu dan nyanyian yang ditiru dari Boria Pulau Pinang, tapi ditambah dengan lagu-lagu setempat dan lagu-lagu yang dipelajari dari orkestra tentera Hindia-Belanda. Seperti dinyatakan dalam buku kronik kerajaan Riau ketika penabalan Sultan Abdul Rahman Lingga putera Sultan Mahmud pada 1858 orkestra tentera Belanda ikut merayakannya (Netscher, 1870).

Lagi pula unsur cerita pun secara samar-samar sudah dimasukkan ke dalam Boria olahan Riau dan Kepulauan Riau. Namun, batang tubuh yang memperlihatkan seni pertunjukan Boria itu dipelajari dari luar, dari negeri yang banyak didiami orang Keling, sangatlah kentara. Di antara perangkatan Boria itu biasanya terdapat seorang penari yang gerak geriknya sangat lucu. Penari ini seorang anak lelaki yang berpakaian seperti perempuan dan menari mengikut irama musik dengan gerak yang berlebih-lebihan. Inilah asal penari “Jogi”.

Boria sebagaimana yang ada di Riau dan Kepulauan Riau sejak parohan kedua abad ke-19 ialah sekelompok orang yang berarak mengunjungi rumah-rumah orang berada yang memberikan sagu-hati yang layak. Barisan paling depan terdiri dari sekelompok orang (anak-anak) yang berpakaian seperti tentara (Eropa) pada masa itu, memperlihatkan kepandaian berbaris dan menari mengikuti irama musik dalam berbagai lagu dan irama. Rombongan pertama diikuti oleh rombongan kedua, ketiga, dan seterusnya yang terdiri dari rombongan pesilat, penari, dan ditutup dengan perarakan pengantin (biasanya anak kecil berpengantin-pengantinan). Makin panjang dan ragam kelompok itu makin dipandang baik. Khusus untuk perarakan pengantin akan dinyatakan sebagai yang terbaik jika kelompok Boria menggelarkan perarakan pengantin lengkap dengan segala macam upacara bersanding seperti nasi-kunyit bunga melur dan kedua pengantin melaksanakan upacara bersuap-suap.

[Rujukan: Permainan Rakyat Daerah Riau. Pekanbaru Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1983/84. Dikutip dari Seni Pertunjukan Sastra yang Digayakan oleh Dr. Elmustian, MA Pekanbaru: Unri Press,2023

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *