Tradisi Bersunat

  • Bagikan

Bersunat atau khitan disebut juga dengan sunat rasul adalah prosesi memotong kulit ujung zakar laki-laki. Biasanya dilakukan ketika masih kanak-kanak. Dari sudut adat istiadat, bersunat merupakan upacara peralihan dari keadaan kotor masa bayi atau kanak-kanak kepada keadaan suci selepas bersunat.

Dalam adat istiadat Baturijal anak laki-laki yang akan disunat terlebih dahulu direndam di dalam sungai pagi-pagi. Lama perendaman tersebut adalah sampai anak tersebut kecut atau menggigil kedinginan. Tujuan dari merendam tersebut adalah agar kulit anak terseabut lembut dan tidak terasa sakit ketika disunat. Sementara mudin menyiapkan segala peralatnya, seperti: pisau, penjepit, pembalut, obat dan sebagainya. Batang pisang diletakkan di tempat berlangsungnya upacara sebagai tempat duduk. Beberapa orang pembantu mudin telah bersiap untuk membantu memegang anak yang akan disunat. Setelah selesai berendam anak tersebut diangkat, lalu didudukkan di atas batang pisang yang telah disediakan. Pembantu-pembantu mudin membantu memegangi anak yang akan disunat. Kepalanya ditegakkan ke atas agar ia tidak dapat melihat apa yang dikerjakan oleh mudin. Kemudian mudin mengulur dan menarik kulub anak-anak memanjang dan menjepit kulit itu melebihi kepala kemaluan untuk melindungi kepala kemaluan. Satu lagi sepit  dikenakan diujung kulit yang berlebihan. Kemudian anak tersebut diangkat ke tempat tidur dan punco kain sarungnya digantung supaya tidak mengenai kemaluannya.

Setelah itu, diadakan acara bajikea atau zikir bardah. Bajikea ini dilakukan dari malam hari sampai menjelang subuh. Ini dilakukan agar dapat menjaga anak yang bersunat tadi.

Biasanya pelaksanaan upacara bersunat itu dapat dilaksanakan denagan menggabungkan dengan khatam Alqur’an. Sebab sebagai seorang muslim, anak harus khatam membaca Al Qur’an di bawah bimbingan seorang guru mengaji. Orang tua merasa megah dan kehormatannya tinggi apabila ia melaksanakan upacara bersunat rasul anaknya bersamaan dengan berkhatam Al Qur’an.

Selama luka bersunatnya belum sembuh, anak yang bersunat itu tidak dibenarkan minum air banyak-banyak, agar lukanya tidak sampai gelembung. Dan menurut pantang larang masyarakat Baturijal selama anak disunat dan lukanya belum sembuh, anak tersebut harus memakai alas kaki bila keluar rumah karena jika terpijak kotoran ayam maka lukanya akan lama sembuh. Anak tersebut dilarang memegang tangga rumah.

Secara simbolik, upacara bersunat rasul menandai peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa dan sudah boleh memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *