Seni pertunjukan berbentuk gerak tari, dendang musik, dan nyanyian, menggunakan lirik syair dan pantun. Berkembang pada masyarakat kampung Sonde Suku Akit, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Meranti, Riau. Bahasa yang mereka gunakan bahasa Melayu dialek suku Akit sesuai dengan logat keseharian mereka. Lirik biasanya menceritakan kehidupan sehari-hari, bentangan alam, dan kebiasaan sehari-hari.
Disebut dengan joget sonde karena seni pertunjukan ini lebih populer di kampung Sonde. Kampung tersebut disebut sonde karena banyak tumbuhan pohon sonde. Pohon ini bermanfaat banyak bagi kehidupan masyarakat. Pokok kayu sonde manis rasanya. Kayunya memiliki nilai ekonomis tinggi, sehingga banyak masyarakat yang menjadikannya sebagai komoditas perdagangan. Daunnya dijadikan wadah penampung air hujan.
Bunyi musik terdengar dari kejauhan “Dang kung.. dang kung”, itulah sebabnya sebagian orang menyebutnya dengan joget dangkung. Biasanya berlangsung sejak petang hari hingga menjelang magrib oleh kaum lelaki. Tabuhan ini mengabarkan bahwa malamnya akan dilaksanakan pementasan Joget Sonde. Saat tetabuhan dimulai, saat itu jugalah para gadis Sonde mulai bersolek di atas rakit. Berbedak, bergincu dan beralis tebal. Rias tebal seperti itu biasanya menggunakan mantra pemanis dan memukau kaum laki-laki
Malam pun tiba, para pejoget naik ke darat dengan pakaian kebaya pendek, kain dan selendang panjang. Mak penjoget atau induk joget pun bersiap-siap. Duduk di sudut ruang. Persis di samping pemusik. Ada gendang pendek dan biola. ‘’Dang kung… dang kung.. dang kung…’’ Tarian magis pun dimulai.
Biasanya joget berlangsung lama. Para lelaki berdiri mencari pasangannya, sambil menari. Selendang panjang disangkutkan ke leher lelaki. Dalam nuansa magis kecantikan para penjoget mengikat laki-laki sehingga tak hendak lepas dari lilitan selendang. Sampai joget usai, penjoget kembali ke rakit, para lelaki turut masuk ke dalam lumpur tepian.
Joget Sonde konon kabarnya diciptakan oleh salah seorang masyarakat asli suku Akit dari Kampung Sonde, Cik Minah namanya. Sebenarnya Joget Sonde ini diciptakan untuk mengungkapkan kebahagiaan berupa tarian gembira dan hiburan. Namun berkembang ke taris yang dibumbui magis. Populer pada era 1960-an pada acara perhelatan nikah kawin, dan acara adat lainnya. Ditetapkan Kemdikbud sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.












