Semah Tanah

  • Bagikan

Disebut juga dengan menetau tanah merupakan ritual yang dilakukan apabila membuka hutan untuk dijadikan umo kasang atau lahan perladangan atau kebun. Selain membuka hutan-hutan baru menyemah tanah jika dilakukan jika akan mengelola hutan yang sudah beberapa musim tidak diolah kembali. Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk meminta izin kepada makhluk halus penunggu hutan dan tanah sudah lama tidak dipakai. Masyarakat percaya bahwa Allah menjadikan makhluk gaib dibumi dengan tempat-tempat yang telah disediakan. Oleh karena itu, hutan dan pohon merupakan salah satu tempat yang menjadi tempat makhluk gaib itu berada, sehingga untuk mengolahnya manusia harus meminta izin terlebih dahulu. 

Selain itu menyemah tanah juga diperlukan untuk berdoa kepada Allah agar dijauhkan mambang dan ‘jembalang’ tanah, sehingga apa-apa yang ditanam di atasnya bisa menghasilkan dan mendapat hasil yang memuaskan. Selain itu jika tanah yang akan digarap sudah disemah maka sangat kecil kemungkinan orang yang bekerja mengolah tanahnya menderita sakit seperti kesurupan atau kemasukan.

Prosesi menyemah tanah:

  1. Semah tanah dilakukan oleh seorang dukun, yang menjadi penguasa spiritual diwilayah tempat lokasi tanah itu berada. Semah juga dihadiri oleh seorang lebai yang bettugas membacakan doa selamat.
  2. Pemilik tanah akan menyejiakan nasi kunyit, dan hidamngan makanan lainnya.
  3. Saat pertama tanah dibuka dipasang ‘Pasak/pasu’ diempat penjuru tanah.’pask/pasu’ merupakan bahan-bahan semah tanah yang disediakan oleh dukun. Beberapa isi pasak itu adalah tai besi, tai kambing, kayu serpang, kayu arang, kemenyan, kuning telur dan bertih. Sekarang barang-barang ini mnurut keterangan dukun dapat dibeli di pasar tradisional Siak. Semua kelengkapam itu dibungkus dengan sebuah kain kecil lalu sambil dibacakan mantra oleh dukun,’pasu/pasak’ itu ditanam diempat panjuru tanah.
  4. Setelah ’pasu atau pasak’ ditanak, Lebai akan membacakan doa selamat yang akan dibacakan pemilik tanah dan orang yang hadir lainnya.
  5. Usai doa dibacakan, nasi kunyit dan hidangan lainnya yang telah disiapkan oleh pemilik tanah dimakan bersama-sama.

Adapun pantang larangnya adalah sebelum prosesi menetau diadakan belum boleh dilakukan aktivitas di areal tanah tersebut, seperti menebang kayu atau mencabut rumput sebab kalau dilakukan akan datang hal yang tidak baik. Selama proses menetau juga tidak boleh ada aktivitas pertanian perkebunan yang dilakukan. Pada saatnya jam istirahat, yaitu ketika matahari sudah diatas kepala, mak senua aktivitas harus dihentikan. Sebab menurut dukun, pada saat itu merupakan bagi makhluk lainnay umntuk beraktivitas.

Menetau tanah berarti’mematikan tanah’ merupakan ritual yang dilakukan masyarakat prlalawan apabila membuka hutan untuk dijadikan tanah perladanagn atau kebun. Selain membuka ‘ hutan baru’ upacara ini juga dilakukan terhadap hutan yang sudah bebrapa musim tidak diolah kembali. Tujuan diadakannya ritual menetau tanah ini adalah untuk meminta izin kepada makhluk halus penunggu hutan dan tanah yang sudah lama tidak dipakai. Dipercayai bahwa tuhan menjadikan mahklik gaib dibumi dengan tempat-tempat yang telah disediakan, antara lain di hutan dan pohon-pohon. Oleh karna itu, ditempat itu dijadikan tempat menyemah, menusia diharuskan meminta izin terlebih dahulu.

Selain itu menetau juga diperlukan untuk menuhkan’ jumalang’ tanah, sehingga apa-apa yang ditanam diatasnya bisa menghasilkan dan mendapat hasil yang memuaskan. Selain itu jikka tanah yang akan digarap sudah disemah maka sangat kecil kemungkinan orang yang bekerja mengolah tanahnya menderita sakit seperti kesurupan, atau kemasukan.

Istiadat menyemah tanah dilakukan seorang dukun yang dianggap menjadi penguasa spiritual di wilayah tempat lokasi tanah itu berada. Ritual ini juga dihadiri oleh seorang dukun dan terkadang orang syarak yang bertugas membacakan selamat. Pemilik tanah menyediakan nasi kunyit dan hidangan lainnya. Saat pertama tanah dibuka dipasang ‘Pasak’ atau ‘pasu’ diempat penjuru tanah. Pasak merupakan bahan-bahan semah tanah yang disediakan oleh dukun. Beberapa isi pasak itu adalah tai besi, tai kambing, kayu serpang, kayu arang, kemenyan, kuning telur, dan bertih. Semua kelengkapan dibungkus dengan sebuah kain kecil lalu sambil dibacakan doa atau mantra oleh dukun, pasak itu ditanam di empat panjuru tanah. Setelah ’pasu’ ditanak, Dukun membacakan doa selamat yang akan dibacakan pemilik tanah dan orang yang hadir lainnya. Usai doa dibacakan, nasi kunyit dan hidangan lainnya yang telah disiapkan oleh pemilik tanah dimakan bersama-sama. Dalam menyemah tanah beberapa pantang larang yang mesti dilakukan adalah sebelum prosesi menetau diadakan belum boleh dilakukan aktivitas di areal tanah tersebut, seperti menebang kayu atau mencabut rumput sebab kalau dilakukan akan datang hal yang tidak baik. Selam proses menetau juga tidak boleh ada aktivitas pertanian perkebunan yang dilakukan. Pada saatnya tengah hari gegat (matahari sudah di atas kepala), maka semua kegiatan harus dihentikan. Sebab menurut dukun, pada saat itu merupakan makhluk lainnya untuk beraktivitas.

[sumber: Tarmizi Yusuf. 2010. Baturijal. Jakarta: La Tira; Elmustian Rahman dan Tarmizi Yusuf. Ensiklopedia Baturijal. Pekanbaru: Unri Press – Pusat Penelitian Kebudayaan dan Masyarakatan Universitas Riau]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *