- Sapaan terhadap orang tua perempuan. sapaan yang digunakan untuk menyapa orang tua perempuan adalah ‘mak’. Sapaan ini biasa digunakan dalam sistem kekerabatan anak terhadap dapat ibunya. Contoh kalimat:
+ mak lagi mamasak ghasidah di dapuo?
= Ibu sedang memasak rasidah di dapur?
- Sapaan terhadap saudara laki-laki dari bapak. Bentuk sapaan terhadap saudara laiki-laki dari bapak dalam masyarakat Baturijal adalah bapak yang dalam pemakainya sering digunakan kata ‘pak’ saja. Apabila saudara dari bapak ini lebih dari satu orang maka sapaan yang digunakan ditambah dengan urutan usia dalam keluarga tersebut, kalau ia lebih tua dari orang tua si penyapa maka disapa ‘pak wo’ dan jika lebih muda di sapa ‘pak usu’. Selain di panggil ‘wo’ sering juga di panggil Lung dari sulung. Selain itu ada juga yang menyapa sesuai urutan kelahiran dalam keluarga bapak si penyapa, seperti kalau ia lahir nomor dua maka di sapa ‘pak ngah’, lahir ketiga di sapa ‘pak do’ lahir keempat dipanggil ‘pak cik’, lahir kelima dipanggil ‘pak tih’ dari putih, lahir keenam dipanggil ‘pak andak’ dari pandak, lahir kedelapan dipanggil ‘pak tam’dari hitam dan lahir terakhir disapa ‘pak usu’ atau ‘pak oncu’.
- Sapaan terhadap saudara perempuan dari bapak. Bentuk sapaan terhadap saudara perempuan dari bapak dalam masyarakat Baturijal adalah ’mak’. Apabila saudara lebih dari satu orang maka sapaan ’mak’ tersebut ditambah dengan sapaan menurut urutan kelahiran, seperti mak wo, ngah, do, cik, tih, andak, tam (mbung), dan usu.
- Sapaan terhadap saudara laki-laki dari ibu. Sapaan terhadap saudara laki-laki sebelah ibu dalam masyarakat Baturijal adalah ‘ngku’. Selain itu sapaan ‘ngku’ tersebut dapat ditambah sesuai bentuk tubuh yang bersangkutan, seperti jika badannya pendek disapa ‘ngku pendek’, jika badannya tinggi disapa ‘ngku tinggi’, atau jika badannya kuning disapa ‘ngku kuning’.
- Sapaan terhadap saudara perempuan dari ibu. Sapaan yang digunakan untuk menyapa saudara perempuan dari ibu adalah ‘mak’ atau ‘etek’, ‘amai’.
- Sapaan terhadap mertua. Mertua dalam masyarakat Baturijal disebut ‘mantuo’. Sapaan yang digunakan untuk menyapa mertua adalah mengikuti bahasa yang digunakan oleh anaknya (suami/istri) si penyapa terhadap orang tuanya. Apabila suami/istri menyapa dengan sapaan ‘bah’ untuk orang tua laki-lakinya, maka si penyapa (menantu) juga akan menyapa dengan sapaan ‘abah’, begitu pula untuk sapaan terhadap orang tua perempuannya, apabila suami/istri menyapa ‘mak’, maka si menantu juga menyapa dengan sapaan ‘mak’.
- Sapaan terhadap istri dari saudara laki-laki dari pihak bapak. Sapaan terhadap istri dari saudara laki-laki dari pihak bapak (pak) dalam masyarakat Baturijal disapa dengan sapaan ‘mak’ ditambah dengan tambahan sapaan terhadap ‘pak ‘ dari si penyapa ‘ pak’, seperti istri dari ‘pak wo’ di sapa ‘mak wo’ istri dari ‘pak ngah’ disapa ‘mak ngah’ dan seterusnya.
- Sapaan terhadap suami dari saudara perempuan dari pihak bapak. Sapaan terhadap suami dari saudara perempuan dari pihak bapak dalam masyarakat Baturijal ‘pak’ di tambah dengan sapaan tambahan yang digunakan pada istrinya, seperti untuk menyapa suami dari ‘mak do’ di sapa’ pak do’, sapaan untuk suami dari ‘mak cik’ disapa ‘pak cik’ dan seterusnya.
- Sapaan terhadap istri dari saudara laki-laki dari pihak ibu. Sapaan yang digunakan dari istri dari saudara laki-laki dari pihak ibu, yang dalam masyarakat Baturijal di sapa ngku adalah ‘amai’. Apabila ‘ngku’ tersebut lebih dari satu orang dan adat secara bersamaan maka sapaan tersebut di tambah dengan tambahan kepada ‘ngku’ si penyapa seperti untuk menyapa istri dari ‘ngku wo’ di sapa ‘amai wo’. Sapaan dari istri ‘ngku ngah’ di sapa ‘ amai ngah’ dan stereusnya. Namun apabila ‘amai’ tersebut tidadka bersamaan dengan ‘amai-amai’ yang lain maka sapaan yang digunakan cukup ‘amai’ saja.
- Sapaan terhadap suami dari saudara perempuan dari pihak ibu. Sapaan yang digunakan untuk menyapa suami dari saudara perempuan dari pihak ibu penyapa yang dalam bahasa Baturijal di sapa ’mak’ adalah ‘pak’ dari penyapa lebih dari satu orang maka sapaan untuk istrinya di tambah sesuai dengan tambahan yang di gunakan untuk menyapa ‘pak’ dari penyapa, seperti untuk istri ‘pak wo’ disapa ‘mak wo’, untuk istri ‘mak wo’, untuk istri ‘pak ngah’ di sapa ‘mak ngah’ dan seterusnya.
- Sapaan terhadap saudara kandung yang lebih-tua dari penyapa. Sapaan yang digunakan untuk menyapa saudara kandung yang lebih tua dari penyapa dalam bahasa Baturijal adalah berdasarkan urutan kelahirannya.
- Sapaan terhadap saudara kandung yang lebih muda dari penyapa (adik). Sapaan yang digunakan untuk menyapa saudara kandung yang lebih muda dari penyapa (adik) di sapa dengan menyebut namanya saja. Selain itu ada pula sapaan kesayangan. Sapaan kesayangan ini biasanya oleh orang tuanya. Sapaan kesayangan itu di beda untuk laki-laki dan perempuan, untuk adik laki-laki disapa ‘jantan atau ntan’ dan untuk adik perempuan disapa ‘supik atau pik’
- Sapaan terhadap suami. Terhadap suami, masyarakaat Baturijal tidak ada yang menyapa dengan menyebut namanya, sapaan yang digunakan untuk menyapa suami dalam bahasa Baturijal ada beberapa sapaan, seperti abang, awak, klen, yah/bah ditambah nama anak, atau sapaan yang digunakan oleh adik-adik dari suami tersebut (wo, ngah, do, dan seterusnya). Sapaan yang paling banyak digunakan saat ini adalah ‘abang’ , sedangkan sapaan ’klen’ digunakan oleh pasangan suami istri yang sudah tua atau generasi tua dan sudah jarang digunakan oleh pasangan muda sekarang.
- Sapaan terhadap istri. Terhadap istri, masyarakat Baturijal menyapa dengan menyebut namnya atau dengan sapaan ‘mak’ di tambah nama anaknya. Sapaan yang paling banyak digunakan adalah dengan menyebut nama dari istrinya tersebut.
- Sapaan terhadap suami dari kakak. Sapaan terhadap suami dari kakak dalam masyarakat Batrijal adalah ‘abang’ dan disebut abang ipar. Apabila abang ipar tersebut lebih dari seseorang maka sapaan tersebut ditambah dengan sapaan terhadap kakak si penyapa, seperti abang wo, abang ngah, abang do, dan seterusnya.
- Sapaan terhadap istri dari abang. Sapaan terhadap istri dari abang yang dalam masyarakat Baturijal di sebut dengan ‘kakak ipar’, disapa ‘kakak’.
- Sapaan terhadap abang atau kakak dari suami atau istri. Sapaan terhadap abang atau kakak dari suami atau istri yang dalam bahasa Baturijal disebut ‘abang ipar’ atau ‘kakak ipar’ adalah sesuai dengan sapaan yang digunakan oleh suami atau istri penyapa tersebut. Kalau suami atau istri menyapa dengan sapaan ‘do’, maka si penyapa juga menyapa dengan sapaan ‘do’ juga.
- Sapaan terhadap suami atau istri dari adik kandung. Sapaan terhadap suami atau istri dari adik kandung si penyapa yang dalam bahasa Baturijal disebut ‘adik ipar’ adalah dengan menyebut namanya saja.












