Sistem Sapaan Masyarakat Adat Tiga lorong

  • Bagikan

Sistem sapaan di wilayah masyarakat adat Tiga Lorong memiliki kekhasan. Namun memiliki beberapa varian dan versi dengan wilayah kenegerian Baturijal dan Pematang Selunak dan Peranap. Berikut ini adalah sistem sapaan Baturijal.

Bentuk sapaan Bahasa Melayu Riau dialek Baturijal dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: adat, agama, jabatan, jenis kelamin, umur, dan faktor status social. Sapaan yang dipakai oelah masyarakat Baturijal berkembang, bentuk sapaan itu ada yang berubah. Perubahan itu disebabkan oleh bahasanya, perkembangan jumlah penduduk serta pembauran antara penduduk asli dengan pendatang. Sapaan yang digunakan masyarakat Baturijal beragam, hal ini karena pengaruh orang yang datang dari luar daerah membawa masuk bahasa dan sapaan yang mereka pakai ke Baturijal.

  1. Sistem Sapaan Kekerabatan masyarakat Baturijal
    1. Sapaan terhadap orang tua dari bapak atau ibu. Untuk orang tua bapak atau ibu yang laki-laki “Datuk”, dan untuk orang tua perempuan dari bapak atau ibu disapa “No”

      Contoh sapaan dalam kalimat yaitu:

      + Datuk lah samayang maghrib?

      = Kakek sudah sembayang maghrib?

      + No ado buah ghembut lagi?

      = nenek ada buah rambutan lagi?

  • Sapaan terhadap orang tua laki-laki. Sapaan terhadap orang tua laki-laki yang digunakan dalam masyarakat Baturijal ada beberapa maam, yaitu ‘iyah’, ‘abah’, dan ‘bapak’. Namun yang sering dan banyak digunakan adalah ‘iyah’ dan ‘abah’. Sapaan ‘bapak’ jarang digunakan dan biasanya juga digunakan sapaan oleh anak tiri terhadap bapak tirinya.

      + Di mano yah mengail tadi?

      = di mana Ayah memancing tadi?

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *