Upacara adat, prosesi arak-arakan (berarak) mengantar atau menjemput tabak ke rumah anak panca (anak dari saudara perempuan) atau mak bako (perempuan sebelah ke bapak). Tabak adalah jenis makanan yang bahan dasarnya dari nasi pulut biasa yang berwarna hitam kecoklatan, rasanya manis yang ditempelkan pada buluh yang sudah dibelah-belah menyerupai sungkup. Pulut itu biasanya dibungkus dengan plastik dan diberi hiasan seperti roti, telur dan lainnya. Sedangkan buluh yang dipotong panjang juga diberi hiasan dengan kertas-kertas yang biasanya dibentuk seperti bunga dan berbentuk bunga manggar.
Biasanya tabak dibuat pada acara tertentu saja, misalnya pada acara perkawinan atau sunatan. Pada acara berarak dalam rangka perkawinan atau bersunat, tabak biasanya dibawa dengan cara dijunjung.
Pada acara sunatan, tabak biasanya dibuat oleh saudara bapak atau mak bako atau pak bakonya. Dan biasanya tabak ini dijunjung oleh saudaranya, tidak boleh dijunjung oleh sembarang orang. Tabak ini disebut juga dengan nasi manis, merupakan salah satu makanan yang dibawa pada acara pertunangan.
Adapun macam-macam tabak yaitu ada tabak bolu atau cacah inai, nasi lemak yaitu pulut yang ditanak seperti biasa kemudian dilumuri dengan tahi minyak, yang dihasilkan ketika menanak minyak dari santan, tabak sidah, yaitu syarat-syarat untuk melengkapi tabak lain, dan tabak nasi manis yaitu tabak yang dibuat atau wajib untuk proses acara adat.
Bahan-bahan yang digunakan: pulut, kelapa, gula merah dan gula putih serta garam. Cara membuatnya: masak pulutnya di tempat lainnya, lalu ditempat yang berbeda masak santan diberi gula merah, lalu putih lalu ditambahkan sedikit garam, aduk-aduk sampai rata, setelah itu masukkan pulut yang telah dimasak tadi kedalam santan tadi. Lalu diaduk sampai mengeras dan masak. Setelah itu baru siap disajikan.
Ada dua bentuk berarak, yaitu berarak manganta tabak dan berarak manyeput tabak.
Beghaghak Manganta tabak
Upacara mengantar tabak oleh mak bako ke rumah anak panca yang sedang melaksanakan perhelatan sunat rasul atau nikah kawin yang diiringi jike gebano. Tabak diantar dengan oleh seperangkat iring-iringan. Sebelum upacara manganta tabak dilakukan, terlebih dahulu dilaksanakan jikea berdah dan makan kacindul umo bersama. Sementara itu, di rumah anak panca juga disediakan pula kolak kacang atau kolak pisang untuk dimakan bersama pengunjung yang datang.
Beghaghak Manyeput tabak
Menjemput tabak ini sebenarnya sama saja dengan manganta tabak. Jadi arakan menganta (mengantar) tadi adalah rombongan anak panca yang menjemput tabak tadi ke rumah mak bako yang anak pancanya sedang melakukan sunat rasul atau nikah kawin. Tabak dalam hal ini dijemput oleh seperangkat iring-iringan. Manyeput tabak juga dilakukan bagi anak murid yang khatam kaji. Seperti halnya manganta tabak pada manyeput tabak juga diiringi oleh jikea berdah dan rombongan lainnya.
- Baik manganta tabak maupun manyeput tabak mempunyai urutan iring-iringan, seperti berikut ini:
- Iringan pertama adalah anak yang mengangkat kayu tanak sekebat, nio bakulit satali, dan sekumpulan segagang sirih, setandan pinang, sesisir pisang. Kayu sekebat merupakan simbol kemandirian.
- Iringan kedua ninik mamak, mak dan pak bako, orang adat, dan orang syarak.
- Iringan ketiga yaitu pengantin atau anak yang bersunat rasul.
- Iringan keempat arak-arakan tabak, didahului oleh tabak sirih sebagai pembuka jalan diikuti oleh tabak-tabak lainnya. Biasanya jumlah tabak tergantung dari jumlah mak bakonya. Ada kalanya satu mak bako memberi lebih dari satu tabak. Jenis-jenis tabak antara lain tabak nasi manis, tabak ghasidah, dan tabak kue bolu bakar.
- Iringan kelima rombongan jikea berdah.
- Iringan terakhir ialah para jemputan.
Membantai tabak
Membongkar tabak untuk dibagi-bagikan disebut membantai tabak. Orang yang mendapat bagian tabak ialah anak zikir, orang adat, orang syarak, mak bako dan pak bako, ninik mamak, dan jemputan lainnya.
Sumber:
Ensiklopedia Baturijal oleh Elmustian Rahman dan Tarmizi Yusuf, 2012. Pekanbaru: Unri Press.












