Nandung, bernandung, bersenandung, nyanyian yang berfungsu untuk menidurkan anak dan sebagai penghibur diri. Dinyanyikan oleh orang tua untuk menidurkan anaknya. Isi dari nandung berupa nasehat-nasehat yang bernas dan bermutu. Banyak petuah-petuah dan pelajaran yang dapat diambil dari isi nandung, untuk menghadapi kehidupan. Keistimewaan nandung, selain kata-katanya bernilai sastra tinggi, juga lagu dan iramanya. Mendayu-dayu sendu, membuat hati terharu. Biasanya bersenandung ini ketika mau menidurkan anak yang berada dalam buai. Bisa menidurkan pada waktu siang, maupun waktu malam, suara nandung yang sayup-sayup terdengar, sangat menggugah hati. Jangankan anak kecil, orang dewasa pun mendengar lagu nandung ini membuat mata mengantuk.
Kata-kata dalam nandung mirip susunan pantun. Ada sampiran dan ada isi. Hanya saja untuk nandung ada kata-kata ekstra yang diulang-ulang. Berikut beberapa contoh kata-kata nandung, diekspresikan menggunakan bahasa Melayu dialek Baturijal.
Nandung la dinandung nak, nandung dinandung
Pejamken mato, cepatlah tidua
Asam kandeh nak, asam galugua
Katigo asam nak, si ghiang-ghiang
Manangeh mayat nak di pintu kubua
Mengenangken badan nak idak sembahyang
La ilaahaillallah muhammad
Muhammad itu utusan Allah
Luwak lah si luwak luai
Ma alau lah pipit pakai galaga
Tidu lah anak di dalam buai
Jagolah saying di waktu paja……
Gondo lah riyah si gondo ridah
Ibu mamuji kebesaran Allah
Teranglah paja teranglah hati
Teranglah sapaghoti Rasulullah……
Banyaklah bungo antagho bungo
Bungo lah ghum lepik di tilam
Banyaklah agamo di lingkunagn alam
Tidaklah saelok Tidaklah saelok agamo islam…..
Banyaklah aghi antagho aghi
Tidaklah saelok aghi lah jama’at
Banyaklah nabi antagho nabi nak
Tidak samulio nabi Muhammad…….
Laa ilahaillallah Muhammad
Itu lah nabinyo Allah
Ndak ado tuhan selain Allah
Ikuti lah ajaran agamo Allah…
Kadang-kadang kesempatan orang yang menandung mencurahkan isi hatinya. Melepaskan kerinduan ketika suaminya belum pulang dari rantau mencari rezeki:
Nandung lah dinandung nak,nandung dinandung
Pejamken mato nak, cepat lah tidua
Ambek padi nak, dari balubua
Padi diighik nak, lansung dijemo
Jangan manangeh nak, cepatlah tidua
Iyahkan pegi, idak ken lamo.
Putik pauh pelanting pauh
Gugua sabuah digunggung ulat
Anak jauh mak pun jauh
Kasih bertemu di dalam sughat
Babuai nak talambung-lambung
Batanjak nak sebaleah kaki
Taurai rambut cik mbung
Bagai kan bungo nak kembang tak jadi
Sebagian ibu-ibu terkadang menandungkan anaknya cukup dengan membaca shalawat dan bacaan doa yang lainnya. Banar-benar luar biasa kesenian Rantau Tiga Lorong dulu. Ibarat, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ada seni, ada nasehat dan tak lupa unsure spiritual. Untuk menjaga dan melestarikan, kalau perlu dapat saja dilombakan, untuk membangkitkan bakat-bakat terpendam.
[Sumber: Tarmizi Yusuf. 2010. Baturijal. La tira: Jakarta; Elmustian Rahman dan Tarmizi Yusuf. Ensiklopedia Baturijal. Pekanbaru: Unri Press – Pusat Penelitian Kebudayaan dan Masyarakatan Universitas Riau. Narasumber: Emasta, Lismar]












