Padi merupakan bahan makanan pokok orang rantau Melayu Tiga Lorong. Terdapat beberapa penamaan padi di antaranya yaitu padi ceghai dan padi pulut. Padi ceghai yang ditanam di sawah yakni: padi putih ghendah, padi putih tinggi, padi kuateik ghendah, padi kuateik tinggi, padi katite, padi aceh, padi narun, padi bebe.
Padi-padi ini ditanam dalam satu tahun dan panennya pun juga sekali setahun. Dalam teknis penanamannya dari awal penanaman sampai panen ini membutuhkan waktu selama 4 sampai 5 bulan.
Pantang larang dalam menanam padi yaitu pada saat penanaman yaitu pada saat padi mulai ditancapkan ke tanah ini tidak boleh ada interaksi antara orang yang menanam padi dengan orang lain, karena akan mengakibatkan padi tersebut tidak akan tumbuh. Apabila padi sudah ditanam, si penjaga sawah atau ladang tidak boleh ribut-ribut karena takut menso (babi) menggangu tanaman padi yang berada di areal persawahan.
Padi pulut terbagi beberapa macam yaitu: pulut siam, pulut cempako, pulut hitam, pulut jambi. Dalam teknis penanaman ini sama halnya dengan penananman padi yaitu selama 4-5 bulan dan satu tahun sekali.
Meti Tanah
Metih tanah adalah suatu prosesi tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Baturijal ketika mendirikan bangunan, membuka lahan pertanian, dll. Masyarakat percaya bahwa setiap lokasi atau tempat bangunan memiliki penghuni gaib yang menetap pada lokasi tersebut. Dengan demikian pendiri rumah harus meminta izin atau permisi kepada penghuni tersebut untuk mendirikan bangunan atau rumah supaya dalam mendirikan dan menghuni rumah tersebut nantinya tidak diganggu oleh penghuni lain yang menghuni lokasi tersebut terlebih dahulu. Menurut kepercayaan orang zaman dulu, jika hal ini tidak dilakukan maka kemungkinan keluarga yang menghuni rumah tersebut nantinya akan mendapat berbagai masalah dalam keluarganya, misalnya sering sakit-sakitan, rezeki tidak ada, sering bertengkar, dll.
Untuk meminta izin tersebut, maka dilakukanlah metih tanah. Proses ini dilakukan oleh seorang dukun. Bahan-bahan yang digunakan pada proses metih tanah ini adalah anak pisang lidi putih, anak pandan berduri, tebu salah (tebu yang berwarna merah), lengkuas, serai, kunyit, lio (halia), jerangau, bunglai, cekur, kotoran kuda, kotoran angsa, tai besi atau taik kelong atau sisa-sisa tempahan besi, sekam padi, tulang-tulangan hewan yang sudah lama dan kering. kulit alo-alo, pecahan piring batu, yang bukan dari kaca, parang bekas atau tua yang sudah karatan dan tak terpakai lagi, tempurung tua, kemenyan, beras dan air secukupnya. Tepung Tawalimo yang terdiri dari: sepulih; setawa; sedingin; kumpai, dan cekerau
Proses Meti Tanah. Bahan nomor 1 sampai dengan 10 (ramuan I), diikat rapi dengan tali apa saja. Kemudian Bahan dari nomor 11 sampai dengan 18 (ramuan II) dikumpulakan dan dimasukkan dalam tempurung tua. Setelah kedua ramuan di atas siap maka berikutnya adalah menggali tanah pada lokasi bangunan yang diinginkan. Letaknya boleh sembarang sesuai keinginan yang punya tanah asalkan masih dalam area lokasi pembangunan.
Ukuran tanah yang digali kira-kira 20×20 cm dengan kedalaman 20 cm juga. Sesuai dengan banyaknya dan tinggi bahan-bahan ramuan metih tanah. Setelah selesai menggali maka ramuan I dimasukkan dengan posisi berdiri, pangkal di bawah dan pucuk di atas. Di samping ramuan I dimasukkan ramuan II berdampingan. Kemudian disamping ramuan I juga di tancapkan Parang Tua dengan posisi pangkal di bawah lalu tanah galian ditutup kembali dengan padat. Setelah selesai menutup maka diasapi dengan kemenyan, lalu memercikkan ramuan Tepung Tawa di atas tanah galian sembari membacakan mantera yang hanya diketahui oleh Pemetih Tanah tersebut. Setelah selesai semua proses Metih Tanah barulah bangunan boleh didirikan.
Ada juga versi lain meti tanah, yaitu untuk membuka sebuah lahan baru baik itu kilang ataupun tempat usaha baru agar terhindar dari makhluk halus. Bahan-bahan yang digunakan untuk ritual ini adalah: taik besi, taik angso, dan taik kelelawar kemudian dikuburkan di tanah yang akan dibangun tiang yang paling tua. Kemudian dipotongkan ayam dan pentawa limo.
[Narasumber: Mardan dan Musliadi]
Menumbuk Padi
Setelah padi ditanam, disiangi dan dituai, akhirnya dijemur dan ditumbuk baru menjadi beras, siap untuk ditanak. Baturijal tidak familiar dengan “kisa”. Apalagi huller seperti sekarang ini.
Padi yang tersimpan dalam balubua, baik dibuatkan tersendiri di luar rumah atau masih dalam rumah, diambil untuk diighik – melepaskan butir-butir dari tangkainya. Biasanya padi dijemur untuk ukuran makan seminggu. Tetapi kalau memang ada acara mau menumbuk bersama, maka padi dijemur lebih banyak, misalnya untuk dua minggu.
Padi dijemur di atas ghumbing – sejenis tikar dari pandan, dianyam kasar khusus digunakan untuk menjemur padi. Tempat menjemur biasanya di halaman rumah supaya langsung terkena sinar matahari. Musuh menjemur padi biasanya ayam. Kadang-kadang ayam dak telap disiuh. Apabila panasnya cukup, tengah hari padi sudah kering boleh diangkat. Selepas zhuhur sudah boleh ditumbuk. Kalau padinya banyak yang dijemur, menumbuk dapat dilanjutkan sampai malam.
Sekali lagi pekerjaan tumbuk menumbuk ini adalah pekerjaan kaum perempuan. Padi, baru dapat ditumbuk apabila sudah kering. Padi yang belum kering, kalau ditumbuk banyak yang patah, banyak penukutnya. Tetapi kalau cukup kering, berasnya utuh, penukutnya sedikit. Kepala beras yang mempunyai banyak vitamin itu masih menyatu dengan beras. Itu sebabnya beras tumbuk lebih sehat daripada beras giling dengan mesin. Apalagi yang dipoles supaya mengilap putih, tidak higinis lagi.
Menumbuk padi ini menggunakan lesung yang terbuat dari kayu yang cukup besar, dibuat lubang yang dapat menampung sekitar 2 atau 3 kg. sekali menumbuk. Padi yang sudah ditumbuk, meskipun beras sudah lepas dari kulitnya, tetapi masih bercampur. Untuk memisahkan kulit yang disebut sekam itu, harus ditampi dengan menggunakan nighu. Dengan menampi tinggal beras dan padi yang disebut dengan atah. Memisahkan beras dengan atahnya diayak sehingga beras bersih dari sekam dan atah. Beras yang sudah bersih ini sudah siap untuk dimasak atau disimpan.
Menumbuk padi beramai-ramai ini, sangat menyenangkan. Semuanya untuk menghilangkan rasa bosan dan letih. Menumbuk padi bersama, sejak awal sampai selesai selalu dalam keadaan bergembira. Satu lesung adayang sampai 4 atau 5 orang. Kalau satu lesung satu orang atau berdua sudah biasa, tetapi sampai lima orang mengerubuti lubang lesung untuk menjatuhkan antan perlu seni tersendiri. Di sinilah letaknya kenikmatan dalam menumbuk padi bersama.
Lima orang secara bergantian, menjatuhkan antan ke dalam lubang lesung yang sudah penuh dengan padi yang sudah dijemur. Masing-masing peserta, sudah siap menurut gilirannya, tidak pernah bentrok antar antan yang satu dengan antan yang lain. Sekali-sekali memang tidak langsung masuk ke lubangnya melainkan di pinggir lesung sebingga bunyinya berbeda. Bagi yang sudah biasa, giliran yang diseling-seling itu mempunyai irama tersendiri. Suaranya terdengar dari kejauhan dan mengundang bujang untuk datang. Suara tingkah menumbuk padi itu lebih indah dari sebuah musik dhangdhut, sekali pun.
Beras dari padi yang baru dituai, disebut dengan beghas baghu, mempunyai aroma tersendiri, mengundang selera makan. Apalagi kalau ditanak dengan menggunakan kayu api, dalam periuk kuningan yang berleher genting. Lauknya puyu bapanggang dan sambal belacan dan pucuk ubi diuap. Membuat makan semakin nikmat. Supaya nasi tidak cepat sejuk, periuk dibungkus dengan gendam atau selimut tebal, tahan sampai 3-4 jam nasi dalam keadaan hangat.
Menurun benih
Upacara kecil dalam pertanian masyarakat Baturijal. Membuat lobang dengan kayu untuk diisi benih padi. Tetapi mengapa menjadi istimewa? Acara manugal ini biasanya juga diikuti oleh bujang dan gadis. Bujang yang manugal, gadis membenih. Selama prosesi manugal itu saling mencurahkan isi hati, menjajagi lebih dalam sifat pribadi masing-masing calon pasangannya, diawali dengan saling menyindir dengan menggunakan pantun, mesra dan mengasyikkan. Manugal dapat dijadikan kesempatan proses melakukan pendekatan.
Menyenggan
Banyak cara, bervariasi penduduk Baturijal menangkap ikan. pula jenis alat untuk menangkap ikan ini. Alatnya sangat sederhana. Bahkan tanpa alat, cukup dengan tangan kosong seperti meghawang dan mengecal. Anak-anak pun tidak ketinggalan melakukan kreativitas dalam menangkap ikan ini dengan cara sendiri, meskipun sekedar untuk kesenangan saja, seperti menyenggan. Menyenggan ini tidak pernah lagi ditemukan di Baturijal, karena sudah dilupakan. Asli ciptaan anak-anak Baturijal tidak akan ditemukan di manapun.
Sekeliling pohon enau dekat pelepahnya terdapat ijuk, hitam seperti rambut. Ada yang halus dan ada yang kasar. Yang halus dapat dibuat menjadi sapu atau dipintal menjadi tali tambang yang sangat kuat. Ijuk dibuat juga untuk lapisan atap pondok atau gubuk. Di kota, ijuk dibuat sebagai saringan ketika membuat septicteng. Sedangkan ijuk yang kasar disebut dengan ghegih, sering dibuat untuk kalam, menjadi alat tulis. Ijuk yang tanggung, tidak terlalu halus, tetapi masih lentur, diambil dan dipotong sepanjang dua senti saja. Kemudian diikat dengan selisia –benang dari batang pisang – dan diberi pelampung, disebut dengan “senggan “.
Umpan menyenggan menggunakan api-api yang banyak hinggap di daun tebeghau. Api-api yang bersayap warna merah itu lebih kecil dari lalat, tapi lebih panjang. Mata senggan ditekuk dan ditusukkan ke api-api sebagai umpan. Ukuran api-api, pas dengan panjangnya senggan. Senggan dihanyutkan dan diringi sambil berenang dan berendam mengikut arus. Ketika umpan dimakan ikan, api-api pecah, mata senggan menjadi lurus kembali dan menusuk pipi ikan kiri dan kanan sehingga tersangkut. Posisi mata senggan melintang. Sebagai tanda senggan sudah mengena, pelampung mulai berubah arah, melawan arus. Senggan pun diambil perlahan-lahan supaya talinya tidak putus dan ikan tidak lepas. Menarik senggan yang sudah ada ikan tersangkut merupakan kenikmatan tersendiri. Kadar nikmatnya, sama dengan ketika pemain golf melakukan drive bola melambung lurus karena impact bola dengan clubnya tepat.
Menyenggan biasanya di pulau, khususnya di Pulau Baru. Tidak terlalu deras tetapi ada arus airnya. Biasanya ikan jenis seluang, kepiat, mentulu dan lain-lain, kira-kira sebesar induk jari tangan. Ikan yang lebih besar tidak akan tertahan oleh benang selisia pisang. Menyenggan ini sebagai mainan saja. Ikannya dikumpulkan dalam lubang yang digali pada pasir. Ikan-ikan hasil menyenggan tersebut jarang yang dibawa pulang, dibakar di atas batu kiling dan dimakan di tempat.
Ikan hasil menyenggan, jangan ditanyakan rasanya. Ikan yang dibakar tanpa garam atau bumbu lainnya di atas batu kiling yang berbau angit. Kesenangan yang luar biasa ketika senggan sudah mengena. Mempermainkan ikan yang mulutnya sudah kena senggan itu nikmatnya tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Dan tidak dapat diceritakan, betapa nikmatnya. Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Harus dirasakan sendiri.
[sumber: Tarmizi Yusuf. 2010. Baturijal. Jakarta: La Tira; Elmustian Rahman dan Tarmizi Yusuf. Ensiklopedia Baturijal. Pekanbaru: Unri Press – Pusat Penelitian Kebudayaan dan Masyarakatan Universitas Riau]












