Masjid Raya Pusaka Kenegerian Baturijal

  • Bagikan

Masjid raya ini merupakan masjid tertua yang ada di kenegerian Baturijal. Masyarakat membangun masjid ini sekitar 27 Agustus 1827 sejak masyarakat Baturijal berpindah dari Kototuo menuju Tebing Tinggi, Baturijal Hulu. Masjid ini dibangun atas kesepakatan bersama oleh masyarakat dan dikerjakan secara gotong royong.

Berdiri megah di tepi Sungai Inderagiri pada posisi S0 31.526 E101 56.298. Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan gaya Melayu klasik dan gaya Melayu purba  yang indah dengan atap berbentuk limas. 

Menara masjid yang cukup tinggi ini disangga oleh 4 tiang kokoh. Keempat tiang menandakan bahwa tiang sebelah barat dibangun oleh suku Kampung Besar, sebelah timur dibangun oleh masyarakat dari Baturijalhilir, sebelah selatan dibangun oleh suku Tiga Nenek, dan sebelah utara dibangun oleh suku Kampung Baru dan suku Kampung Kecik. Hal ini menandakan kekerabatan yang sangat erat pada masyarakat kenegerian Tiga Lorong, khasnya Baturijal sejak zaman dahulu kala.

Di dalam masjid ada juga terdapat tabuh yang sangat besar dan panjang. Diameternya mencapai satu meter dan panjangnya kira-kira 15 meter, sebuah tabuh terpanjang di Inderagiri. Dahulunya bunyi tabuh ini terdengar sampai berkilometer, hingga di negeri Baturijal Hilir. Tabuh ini juga bertujuan untuk memanggil atau membangunkan masyarakat Baturijal apabila tejadi kebakaran, gempa, mati lemas, atau bencana lainnya.

Konon di bawah masjid ini terdapat tajau atau tempayan yang berisi emas. Kalau sempat melihat dan memukul tajau dengan kain besah maka tajau ini akan pecah dan emas tersebut akan berserakan serta bisa diambil. Konon peneliti dari Jepang sempat ingin membeli Masjid ini hanya untuk sekedar meneliti keberadaan tajau ini. Namun tindakan ini tidak disetujui oleh masyarakat kenegerian Baturijal.

Mesjid di tepi arus batang Kuantan yang berubah

Masjid Raya Pusaka Kenegerian Baturijal di pinggir Batang Kuantan

Arus Sungai Inderagiri Kuantan itu setiap hari, detik per detik mengikis tebing tinggi yang berbatu-batu, kaghak terjal. Meskipun setengah mili setiap hari tebing terkikis, berapa banyak kalau sudah berlalu selama sepekan, sebulan, setahun atau seabad. Hanya sekitar satu meter lagi, sudut bagian selasa Masjid Raya itu akan terjuntai. Menurut perhitungan, dalam sepuluh tahun, tebing itu tergerus runtuh berikut bagian dari masjid. Masyarakat berpikir keras bagaimana mencegah tebing tidak erosi, supaya masjid tua yang penuh sejarah, dapat diselamatkan.

Sebenarnya tebing tinggi dekat masjid itu relatif aman. Pertama, tanah tebingnya keras, bakaghak – tanah bercampur bebatuan. Kedua, aliran Batang Kuantan di depan masjid lurus. Tebing tinggi dekat masjid , itu jatuhnya di seberang beting Pulau Jambu. Sifat beting tidak melebar lagi, mengambil jatah tebing di seberangnya. Karena lurus, di situ dijadikan tempat pacu perahu. Karena lurus pula, terjangan arus air ke tebing tidak begitu kuat. Terjangan arus mulai dari Telang tepat di seberang pulau, sebelah hulu Pulau Jambu. Lanjutan arus berbelok menuju Teluk, sebelah hulu tebing tinggi. Itu sebabnya, terjadi sebuah teluk. Arus kemudian lurus dan baru membentur tebing dekat muara sungai Sebungkul. Akibatnya, tebing di seberang pulau dan di bencah, setiap tahun selalu runtuh ketika banjir. Sedangkan tebing tinggi aman. Ternyata orang tua-tua dahulu kala, sangat tepat memilih lokasi mendirikan masjid, tebingnya aman. Perhitungan mereka sangat jitu. 

Sungai Inderagiri runtuh sudah biasa. Setiap banjir, pasti runtuh. Bahkan dalam setahun ada yang mencapai lima meter tebing runtuh. Jalan yang tadinya di tepi Batang Kuantan, sering pindah karena jalan itu sudah runtuh. Jangankan jalan, Istana Raja di Rengat tidak luput dari serangan tebing runtuh. Hanya tebing tinggi dekat masjid yang aman, agak lambat proses runtuhnya. Namun cepat atau lambat, menurut perhitungan, tebing itu pasti akan tergerus juga. Untung tebing tinggi itu berjenis kaghak, kalau tanah biasa apalagi berpasir, sudah lama masjid tercebur. Seperti di Seberang Pulau, lebak lebua tebing runtuh ketika banjir.

Seperti sungai-sungai yang lain, tidak ada yang lurus. Berbelok-belok seperti ular raksasa. Pemandangan seperti itu akan jelas kalau dilihat dari pesawat terbang. Begitu juga dengan Batang Kuantan. Batang Kuantan yang berbelok-belok dan berliku-liku itu, hampir bertemu kembali dekat Silunak. Terjadilah tanah genting. Jarak antara dua tebing, di tanah genting itu, kurang dari 100 meter. Timbul ide untuk mengamankan masjid dengan membuat terusan. Dengan menggali dan membuat parit. Parit sebagai jalan pintas air. Dengan mengalirkan air sebagian melalui parit itu otomatis akan mengurangi derasnya arus melalui kenegerian Baturijal.

Di luar perhitungan, bukan terjangan air ke tebing tinggi berkurang, lebih dari itu, habis sama sekali, tanpa arus. Galian parit yang semula kecil itu, dihantam air dengan debit yang sangat besar. Parit melebar, sama dengan Batang Kuantan itu sendiri. Tak ada yang mampu nenahan arus yang semakin besar. Aliran Batang Kuantan berpindah. Air yang mengalir berkilo-kilo meter itu, mendapatkan jalan pintas, melalui parit itu. Batang Kuantan yang melewati negeri Baturijal menjadi tenang, mirip sebuah danau. Benar, masjid selamat, sesuai dengan harapan, tetapi dampaknya sangat luas.

Terjadi perubahan situasi. Kalau dulu, minimal sekali sepekan ada motor mudik dengan tiga belungkang, atau hilir, sekarang sudah tidak ada lagi. Cincu motor tidak khawatir lagi mudik, karena tidak melewati kenegerian Baturijal. Tinggal kenangan. Anak-anak yang berenang dan begayut pada tali belungkang pun hanya tinggal cerita.

Setelah arus Batang Kuantan tidak lagi melalui Kenegerian Baturijal, Kuantan menjadi tenang. Lumpur banyak mengendap dan pendangkalan terjadi dengan cepat. Di Pulau Raman, mobil pun sudah dapat menyeberang tanpa melalui jembatan atau rakit. Pada musim kemarau dengan sedikit menyensek kain atau celana dapat menyeberang dengan berjalan kaki tanpa berbasah-basah. Terjadi suatu perubahan ekologi yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Selain dampak ekologis, juga terjadi dampak sosiologis. Wilayah Pulau Jambu, banyak ditinggalkan orang. Batang Kuantan khususnya bagi penduduk Baturijal, tidak lagi menjadi alat transportasi dan sumber kehidupan yang banyak menghasilkan ikan. Tidak ada lagi puluhan perahu yang menjala ketika patin mudik. Juga tidak ada lagi jua mauno, menggoda penduduk menyeghakken jalo.

Sedangkan dampak ekonomisnya belum pernah dihitung. Batang Kuantan tidak dapat lagi dijadikan sumber penghidupan. Jangankan ikan besar seperti patin, baung, tapah, juara, ikan lemak atau lampam, ikan-ikan kecil pun sudah banyak berkurang. Airnya, jangankan untuk diminum, untuk niandi saja, airnya keruh. Maklum airaya tidak mengalir lagi. Air hanya berkunak-kunak di situ saja.

Dengan demikian, jelaslah peran Batang Kuantan bagi penduduk kenegerian Baturijal selama ini, sebagai sumber kehidupan yang berkaitan dengan kebutuhan ekonomis, sosiologis, spiritual dan seni budaya.

Batang Kuantan tinggal kenangan. Tidak ada lagi lagu dan pantun, air yang deras jernih mengalir sudah berubah menjadi tenang. Tadinya berkilauan karena sinar bulan purnama, menjadi kelam dan sirna. Tenang dan diam, seperti orang termenung mengenangkan nasibnya. Sejak Batang Kuantan menjadi tenang, kehidupan Pulau Jambu pun menjadi lesu, ditinggalkan penduduknya, menjadi sunyi, sepi. Hanya suara beghiang yang melengking nyaring, terdengar dari tempat hinggapnya, menempel di batang duku atau batang pinang.

[Sumber: Tarmizi Yusuf. 2010. Baturijal. Jakarta: La Tira]

  • Bagikan

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *