Silat

  • Bagikan

Masyarakat Hukum Adat Tiga Lorong sudah memiliki seni bela diri mulai dari nenek moyang mereka sejak dahulu kala. Tercatat dalam Tembo Tiga Lorong ketika Tiga Beradik pendekar utusan dari Inderagiri menang tanding melawan Ajo Dubalang dari Pagaruyung. 

Seni bela diri asli Tiga Lorong dilengkapi dengan unsur-unsur seni dan tatasusila adat khas Tiga Lorong. Dari segi estetika, pencak silat memadukan gerakan indah dan lemah lembut, namun mengandung kekuatan bahkan kekuatan magis. Teknik silat seperti tercatat dalam Tembo itu kemudian berkembang dalam beragam jenis. Sebagian besar bersifat ringan, cepat, dan mengecoh lawan ketika menyerang. Silat membela diri lebih bersifat menghindar mengelak pertikaian. Ketika diri tak dapat lagi mengelak ada juga jurus-jurus untuk menyerang lawan. Silat juga dikembangkan dengan memakai senjata seperti keris, pisau, dan lembing.

Selain sebagai seni beladiri, silat juga dikembangkan sebagai kesenian yang ditampilkan untuk menyambut pengantin, penabalan datuk-datuk, perayaan hari besar Islam dan upacara adat lainnya. Silat permainan atau silat laman diiringi musik gendang, celempong, dua buah gong (satu suara tinggi satu suara rendah), dua buah gendang panjang; Permainan celempong atau gendang ada juga dimainkan oleh wanita sedangkan untuk musik gong dimainkan oleh laki-laki dan penyanyinya juga laki-laki. Silat tersebar begitu meluas di alam Melayu dan diamalkan oleh berbagai-bagai rumpun Melayu. Terkenal dengan berbagai panggilan dan terdiri dari berbagai genis.

Silat Sembah

Di Inderagiri hingga Tiga Lorong dikenal dengan silat sembah yang merupakan rangkaian dari adat perkawinan. Pertunjukkan dua orang laki-laki menampilkan unsur seni gerak silat sembah, diiringi oleh musik gong, gendang tingkah. Silat Sembah ditampilkan pada saat menyambut kedatangan arakan pengantin laki-laki, arakan basunat rasul dan juga menyambut tamu, orang-orang besar negeri yang datang ke Indragiri.

Di antara silat yang sempat tercatat adalah Silat Pangean. Disebut demikian karena berasal dari Pangean, Rantau Kuantan. Awal kisah berkembangnya Silat ini di Tiga Lorong bermula ketika pemudaJarib dan ayahnya, yang merupakan tokoh terkemuka masyarakat Baturijal bermastautin di Semenanjung Malaya. Pada suatu saat mereka berjumpa dengan Haji Somad yang merupakan seorang guru silat terkenal di Kuala Lumpur. Saat itu balatentara Malaya menyiapkan pasukan Melayu yang tangguh menghadapi balatentara Inggris dan Jepun. Jepun berpura-pura menjanjikan akan membantu pasukan Melayu, tetapi hanya cerita belaka. Jarib masih muda belia dan siap sedia berjuang ikut membebaskan Malaya dari penjajahan asing seperti Inggris dan Jepun. Perang tanding secara terbuka belum berlangsung, Jarib dan kawannya sudah menyiapkan diri. Jarib dan ayahnya merasa Malaya sudah aman, mereka pun pulang ke kampung halamannya Baturijal. Mereka pun kemudian mengembangkan ilmu silat ini di Pangean, kemudian mereka menamakan silat mereka ini dengan Silat Pangean.

Di Kampung halamannya, Jarib mendirikan lapangan silat di Danau. Tercatatlah murid Pak Jarib awalnya berjumlah 30 orang. Murid-murid ini diajar oleh induk berempat. Kemudian disebutlah nama induk berempat, yakni Hanafi, Kafli, Simandundung, dan Muhammad Noer, dengan pak Jarib sebagai guru besarnya. Pada 14 juni 1963 Jarib wafat. Tugas perguruan diteruskan oleh putranya Muhammad Noer.

Dahulunya Laman silat ini banyak bertebaran di kenegerian Baturijal. Di awal kemerdekaan terdapat banyak laman silat, di antaranya:

  1. Laman Muhamad Nur di Kampung Danau
  2. Laman Ismail di Kampung Cempedak
  3. Laman Amirullah di Tanjung Rasau
  4. Laman Datuk tongka di Pulau Jambu
  5. Laman Haji salam di Gaung
  6. Laman Ma’arif di Batuaceh
  7. Laman Dighun di Tanjung Rasau
  8. Laman Yusuf di Sibungkul (Baturijal Hilir)
  9. Laman Harmaini atau Tan Kiting di Pulaupadang
  10. Laman Haji Syafi’i di kampong Cempedak

Silat Tiga Lorong ini menggunakan ilmu batin yang bertujuan untuk menjalin silaturahmi. Silat ini tidak boleh digunakan sembarangan, kecuali jika sangat-sangat dibutuhkan, misalnya untuk membela diri, ketika sang pendekar berada dalam keadaan terpojok atau terdesak. Untuk menjadi murid dalam silat ini, harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu dengan menyerahkan 4 macam benda berikut kepada sang guru:

  1. Sebuah limau, limau yang dimaksud adalah jenis limau mato kaghebau atau limau mantimun.
  2. Sekabung kain putih.
  3. Seekor ayam kampong untuk disembelih dan akan dimakan bersama.
  4. Sebuah cincin besi. Cincin tidak boleh diganti dengan cincin jenis lain, misalnya cincin emas, intan atau berlian sekalipun. Seandainya sang calon murid tidak bisa menemukan jenis cincin ini, maka sang murid boleh menggunakan cincin yang dimilki oleh sang guru dengan cara meminjam, dan sebagai simbol mereka menggantinya dengan uang seikhlasnya. Uang seikhlasnya itu karena cincin besi milik sang guru itu tidak dapat dinilai harganya.

Jika persyaratan yang tersebut di atas telah terpenuhi maka sudah sah lah si pemohon menjadi murid dari keguruan silat ini. Tetapi, terkadang beberapa calon murid ada yang menambahkan selain empat persyaratan di atas, seperti beras, kain, uang, dan bahan makanan lainnya. Barang-barang ini bukanlah sebagai persyaratan, melainkan hanya sebagai sedekah untuk menghormati seorang guru. Dalam silat ini juga terdapat “undang-undang”, di antaranya:

  1. Susunan keguruan di kenegerian silat Tiga Lorong ini sama seperti:
  2. Guru besar sebagai pejabat tertinggi di kenegerian silat Pangean
  3. Wakil guru besar, sebagai pembantu dari guru besar.
  4. Anak tuo
  5. Induk berempat
  6. Murid-murid di ajar oleh induk berempat, jika induk berempat tidak mampu maka anak tuo yang turun, jika tidak mampu juga maka wakil guru besar yang turun. Dan jika tidak mampu juga barulah guru besar yang turun untuk mengajar para murid.
  7. Murid jika ingin menikahi janda dari temannya yang sesame murid maka harus minta izin terlebih dahulu kepada teman yang bersangkutan
  8. Murid jika menikahi janda dari induk berempat maka akan  dikenakan denda berupa seekor kambing
  9. Murid jika menikahi janda dari guru besar, wakil guru besar dan anak tuo maka dikenakan sanksi berupa seekor jawi atau kerbau.
  10. Melaksanakan sholat lima waktu
  11. Tidak boleh berkata sombong atau bersikap riya
  12. Harus siap sakit, siap patah, siap buta, siap tuli,  dan berhutang demi kegiatan persilatan. Berhutang yang dimaksudkan ialah hutang laman, yakni setiap sudah hari raya Idul Adha harus  berziarah dan menyumbang seikhlasnya saja.

Di atas disebutkan menyerahkan sebuah limau. Limau ini nanti akan ditetas (dipotong) oleh sang guru. Lalu sang murid disuruh untuk mandi ke sungai atau air yang mengalir dengan menggosok-gosokkan limau yang sudah ditetas tadi ke badan. Selesai mandi limau tersebut diletakkan di bawah sebuah pohon yang bergetah dan limau tersebut ditutupi dengan tempurung yang memiliki mata. Setelah tiga hari limau tersebut diambil dan kemudian dilihat apa yang terdapat dalam tetasan limau tersebut. Sang murid kemudian memberitahu kepada sang guru apa gerangan isi tempurung limau.  Isi limau itu menggambarkan sifat atau karakter dari murid. Setelah guru diberitahu murid kemudian mandi kembali ke sungai dengan menggosokkan limau tersebut kebadan. Kemudian setelah mandi, limau digantungkan di atas perapian rumah untuk dikeringkan. Limau dibungkus dengan kain putih dan kemudian disimpan. Khasiat dari limau ini dapat digunakan sebagai pelindung diri dan sebagai penyembuh penyakit bagi si murid.

Jika ada seorang murid dari sebuah perguruan silat dan kemudian dia ingin pindah ke perguruan yang lain, maka ketika di perguruannya yang baru saat penetasan limaunya terdapat sedikit perbedaan. Jika pada penetasan limau pada calon murid yang belum pernah berguru sekali tetas, maka pada calon murid yang pindah keperguruan penetasan limaunya adalah dua kali tetas. Saat penetasan limau terkadang terjadi kejadian yang aneh. Saat limau ditetas keluar darah dari dalam limau. Ini menandakan bahwa calon murid memiliki jiwa yang tangguh dan akan menjadi pendekar yang luar biasa kuat.

Dalam silat dikenal empat jenis gerakan yang dikenal dengan istilah langkah empat, yaitu:

  1. Gerakan cincang
  2. Gerakan tenju
  3. Gerakan sembar/tepuk
  4. Dan gerakan tepuk.

Gerakan-gerakan di atas dalam suatu pertunjukan dimainkan dalam sekali alur main. Sebelum dilakukan permainan silat ini, terdapat beberapa ketentuan, di antaranya:

  1. Menggunakan kain sarung atau kopiah (kain sarung cukup dililitkan di pinggang)
  2. Bersalaman pada guru
  3. Kedua pemain duduk menghadap kiblat dan berdoa
  4. Kedua pendekar bersalaman
  5. Kemudian berdiri, kaki dirapatkan, dan saat melangkah kaki kanan yang didahulukan (setiap awal gerakan dimulai dengan kaki kanan).

Ketika bertanding atau bertarung, sang pendekar mengamati gerik dari sang lawan terlebih dahulu, sehingga ketika sang musuh menyerang sang pendekar sudah siap dengan tangkisannya. Dalam silat ini lebih banyak gerakan menangkis dari pada menyerang, karena hakikat dari silat ini adalah untuk membela diri.  Setelah bermain, sebagai penutup maka anak berempat bermain dengan sang guru besar.

Beberapa petuah silat ini yaitu segalo jadi, lunak datangnyo lunak pulo sambutnyo, keras datangnyo keras pulo sambutnyo. Tidak mencari lawan tapi kalau datang pantang menghindar. Tak boleh mengkhianati, jika dilakukan hilang petuah.

Silat ini sering  dipertunjukkan baik dalam acara-acara resmi daerah Tiga Lorong maupun acara adatnya, seperti penyambutan pejabat pemeritahan, peresmian suatu kegiatan atau lokasi, pesta pernikahan (walimah), sunnatan rasul dan kegiatan-kegiatan lainnya. Pertunjukan silat biasanya diiringi oleh gendang beghegung, alat-alat musiknya terdiri dari gendang (lodi dan bass), gong, dan celempong dengan jenis nyanyian yang disebut dengan kedidi. Ketika pertunjukan silat dimainkan tidak lupa untuk menaruh sirih, kapur, pinang dan rokok dalam sebuah piring. Ini merupakan suatu keharusan, penggunaan benda-benda tersebut adalah sebagai makanan buat sang bathin (para leluhur) jika datang pada saat silat dimainkan. Ada juga hubungan antara silat dengan harimau. Setiap membuka halaman silat, sering harimau berada di sekitar itu, seolah-olah memperhatikan orang latihan.

[Rujukan: Wilkinson, R.J., A Malay–English Dictionary, London: Macmillan & Co. Ltd., 1959; Taslim F., dan Junaidi Syam, Trombo Rokan, Pasirpengarayan: Yayasan Garasibumy, 2007; Elmustian Rahman dan Tarmizi Yusuf. 2012 Ensiklopedia BaturijaÏ. Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan; Elmustian, dkk, Ensiklopedia Kebudayaan Melayu Riau, Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau, 2012].

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *