Gelombang pasang yang disebabkan kuatnya arus yang mengalir ke hilir yang bertabrakan dengan gelombang pasang laut, khususnya pada bulan purnama, yang naik dengan cepat. Arus bono ini di Riau terdapat di Sungai Kampar, Sungai Siak dan Sungai Rokan.
Bono yang paling terkenal adalah yang terjadi di Sungai Kampar. Di sungai ini gelombang pasang naik air laut mendesak aliran sungai hingga 70 kilometer ke hulu. Terjadi mulai dari Pulau Ketam hingga ke Desa Kualapanduk, di dekat muara cabang Sungai Karumutan. Ketinggian bono dapat mencapai dua meter dengan kecepatan 12 kilometer per jam dan dapat berlangsung sampai dua jam. Biasanya, tujuh hingga delapan gelombang tiba-tiba muncul pada permukaan sungai, lalu mendesak arus ke hulu secara berurutan, meliuk-liuk seperti ular. Kemunculan bono diiringi suara gemuruh yang menakutkan, disertai kepulan kabut air di sekelilingnya.
Bono Sungai Kampar dapat dilihat di Kampung Telukmeranti, 8 jam menghilir Sungai Kampar dari Teratak Buluh, di dekat Pekanbaru. Penduduk muara Sungai Kampar sudah sangat hafal dengan saat-saat datang dan perginya bono untuk menghindari kesulitan berlayar di sungai. Bono meskipun menggerunkan tapi bukan sesuatu yang mesti dihindari. Bono ini dapat disaksikan di Desa Teluk Meranti, Kuala Kampar.
Fenomena bono sudah menjadi hal yang menarik sejak lama. Pada tahun 1882, penulis Belanda J.A. van Ruijn van Alkemade menulis dalam bukunya “Reis van Siak naar Pulau Lawan”(Perjalanan dari Siak ke Pulau Lawan) dan Faes dalam bukunya “Het Rijk can Pelalawan”menyebutkan Gubernur Sumatera, Spit, yang berkedudukan di Aceh, sengaja datang ke Kualakampar dengan kapal pesiar Diana dari Belawan melewati Selat Melaka, Bengkalis dan Selatpanjang hingga ke Telukmeranti hanya untuk melihat “keajaiban” bono. Di Telukmeranti, Spit disambut oleh Moofd yang menjadi demang (kepala distrik) di Kualakampar. Moofd bahkan membuat menara pengintai agar Spit dapat menyaksikan kehadiran bono di sungai itu.
Bagi masyarakat Desa Meranti, kedatangan bono menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu anak-anak untuk bermain-main dalam gelombang pasang tersebut. Permainan tradisional yang memanfaatkan bono adalah Bekudo Bono,yang telah menjadi tradisi.
Bono merupakan fenomena alam yang menakjubkan. Di mana, ketika pasang memudiki sungai, maka air sungai akan menggelombang, berombak besar. Tinggi gelombang tersebut mencapai 6 meter. Konon, menurut salah-satu cerita, Bono yang terdapat di daerah Kuala Kampar ini merupakan pasangan jantan dari Bono Betina yang terdapat di Sungai Rokan. Bono ini akan mengamuk pada awal hari bulan, atau tepatnya ketika pasang lagi naik. Bila pasang mati, maka Bono pun menghilang entah ke mana. Bono ini muncul biasanya antara tanggal 10 sampai 20 bulan Hijriyah. Peristiwa yang menakjubkan ini dimulai dengan bunyi desingan seolah-olah badai akan turun. Oleh masyarakat di sekitar Kuala Kampar, Bono merupakan kejadian biasa yang sudah mereka kenal sejak kecil. Tak heran bila tua dan muda di sana menganggap Bono lebih sebagai arena bermain sambil menguji ketangkasan mereka berperahu.
Bagi masyarakat Tiga Lorong khususnya Baturijal, Bono merupakan permainan tradisional mereka, karena masyarakat Baturijal menjadikan muara Kampar khsususnya Pulau Penyalai menjadi kampung kedua mereka, sejak awal abad ke-19.
[Sumber: Barnard, Timothy P., Pusat Kekuasaan Ganda: Masyarakat dan alam Siak & Sumatra Timur, 1674-1827, Pekanbaru: P2KK-Unri, 2006; Multiple centres of authority: Society and environment in Siak & eastern Sumatra, 1674-1827, Leiden: KITLV Press, 2003; Ediruslan Pe Amariza (ed.), Warisan Riau, Tanah Melayu Indonesia yang Legendaris, hal. 171-174, Pekanbaru: Yayasan Warisan Riau, 2001Elmustian, dkk. Ensiklopedia Kebudayaan Melayu Riau, bersama Al azhar, Sita Rohana, Junaidi-Syam. Pusat Penelitian dan Kebudayaan Universitas Riau. Pekanbaru. 2012].












