Harimau (Panthera tigris sumatrae), dalam masyarakat Tiga Lorong memiliki beberapa senutan sebagai penghormatan kepada hewan yang paling berkuasa. Ada sebutan Harimau Tingkih atau Ghimau Tingkih. Sebutan untuk hewan yang cenderung dikategorikan sebagai hewan magis berupa harimau yang menjaga kampung di kenegerian Baturijal, Inderagiri, Riau. Harimau ini mempunyai perbedaan dari harimau biasa lainnya yaitu satu kaki depannya berukuran kecil. Harimau ini akan keluar mengelilingi kampung Baturijal apabila ada kejadian-kejadian yang dilarang agama dan adat terjadi, misalnya perzinahan. Harimau ini tidak bisa dilihat oleh manusia biasa, yang dapat melihat harimau ini hanya orang-orang tertentu yang mempunyai kelebihan, harimau ini seketika akan berbunyi atau mengaum sekali-kali.
Datuk duten
Istilah lain untuk harimau. Asal kata duten berasal dari kata di hutan atau datuk yang dituakan. Kalau datuk duten berbunyi di Pulai Teleng atau Bukit Kepau maka dibalas oleh ghimau tingkih (yang memiliki kaki sebelah), berarti ada penduduk yang berbuat tidak elok di kenegerian Baturijal, seperti melakukan perzinahan, dll. Biasanya berbunyi tiga malam berturut-turut. Setelah itu biasanya masyarakat segera tahu siapa yang berselingkuh. Maka bertindaklah orang adat dan orang syarak. Pelaku segera dinikahkan. Selama Datuk Duten berbunyi, tidak ada seorangpun yang menakik karena ketakutan.
Apabila datuk Duten atau ghimau tingkih berbunyi di Durian Simat pertanda ada harimau lain yang datang, atau disebut juga harimau turun. Hal itu sebagai pemberi informasi kepada penduduk dan penduduk pun waspada dan tidak menakik getah.
Harimau juga bisa memberi informasi dengan mematahkan kayu dengan melintang jalan. Jika itu terjadi pertanda tidak boleh lewat atau melanjutkan jalan tersebut karena ada musuh di depan, yakni harimau lain, atau harimau datang. Bisa juga harimau tersebut membuat pekasam atau sisa bangkai yang dimakannya.
Apabila penduduk sesat di hutan, maka penduduk juga bisa meminta bantuan kepada Datuk Duten, “Oooo datuk duten, ngan ko lah sesat, tulong tunjukken jalan.” Maka harimau tersebut memberi petunjuk dengan berbunyi dan mematahkan kayu sepanjang jalan, patahannya mengikuti alur jalan. Penduduk biasanya mengikut bunyi dan tanda kayu yang dipatahkan.
Dahulu kala jika harimau turun, biasanya harimau tersebut berasal dari Cenaku atau Metah, jika hewan itu turun biasanya beratus ekor. Harimau dan silat juga berhubungan erat. Setiap membuka halaman silat, sering harimau berada di sekitar itu, seolah-olah memperhatikan orang latihan.
Sumber:
Elmustian dan Tarmizi Yusuf, 2012. Ensiklopedia Baturijal. Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau. Narasumber: Mardan





