Sungai Kuantan

  • Bagikan

Sungai atau Sungai Kuantan bagi masyarakat Tiga Lorong adalah penamaan lain dari Sungai Inderagiri. Rantau Tiga Lorong berada di daerah perbatas antara wilayah budaya Inderagiri dengan wilayah budaya Rantau Kuantan. Masyarakatnya sudah terbiasa menyebut batang Kuantan dengan Sungai Inderagiri tanpa merasa ragu. Alih-alih menggunakan batang Kuantan namun alih-alih lagi menggunakan Sungai Kuantan atau Sungai Inderagiri. 

Kehidupan masyarakat Tiga Lorong sejak berabad-abad lalu bergantung kepada Sungai Kuantan. Sebelum berkembang alat transportasi modern, pesawat terbang dan mobil, sarana transportasi menggunakan air, laut atau sungai. Masyarakat Tiga Lorong menghuni di sepanjang sungai Kuantan itu. Batang atau Sungai Kuantan merupakan sarana transportasi utama. Air Sungai Kuantan yang dijadikan air minum mengandung banyak jenis ikan. Sungai Kuantan menjadikan sumber kehidupan bagi masyarakat Rantau Tiga Lorong. 

Aliran Sungai Kuantan, dijadikan sarana transportasi. Melalui Sungai Kuantan, perahu dan motor babelungkang – sejenis perahu besar khusus sebagai gandengan, hilir mudik. Perahu sebagai alat transportasi masyarakat yang berada sepanjang tepi Sungai Kuantan. Motor dengan belungkangnya sebagai kendaraan mudik membawa barang dagangan ke pedalaman, sampai ke Teluk Kuantan yang berjarak lebih 300 km dari pantai. Kemudian hilir membawa hasil bumi, teratama karet, kayu rotan dan lain-lain. Pada musim kemarau, motor babelungkang itu tidak dapat mudik, takut tersanggat – kandas, karena air dangkal (ayek usak).

Air Sungai Kuantan merupakan tempat berkembang-biak berjenis-jenis ikan, baik kecil mau pun besar. Mulai dari ikan sekecil kelingking seperti seluang, sampai ikan sebesar manusia dewasa seperti patin dan tapah. Ikan yang hanya beberapa senti, sampai ikan yang panjangnya melebihi satu meter. Kalau dipikul, ikuknyo (ekornya) sampai menyesea (menyeser) ke tanah.

Sungai Kuantan tempo dulu secara umum menjadi tempat interaksi sosial dan keperluan lainnya seperti tempat mandi, mencuci, dan bahkan tempat buang hajat, Tempat mandi dan tempat menambatkan perahu, disebut dengan tepian. Beberapa tepian dibuat rakit dari kayu-kayu besar yang timbul dan diberi berlantai tempat mencuci. Di bagian ujung sebelah hilir dibuat kotak berdinding, tempat buang hajat. Keseluruhan perangkat rakit itu, disebut dengan jamban.

Sungai Kuantan sebagai sumber air minum selain air hujan. Sambil mandi mencibuk ayek (menimba air), dengan menggunakan labu atau geluk. Ada juga yang menggunakan beladi (ember). Masyarakat tidak ada yang mengambil air tanah melalui mata air untuk air minum.

Di tepi Sungai Kuantan itu khasnya di Rantau Tiga Lorong, ada pasir, dan batu kerikil yang membentuk pematang. Masyarakat Inderagiri dan Rantau Kuantan menyebutnya dengan pulau. Pada musim kemarau, pulau yang terdiri dari pasir putih bersih, ini sangat luas. Pasir dan batu kerikil dapat dijual kepada pemborong untuk pembuatan jalan. Pada waktu itu rumah belum banyak menggunakan semen, sehingga pasir belum diperlukan masyarakat, kecuali untuk jalan.

Di pasir itu pula tempat tuntung sejenis penyu, bertelur. Pada saat musimnya tuntung naik ke pasir untuk bertelur. Telur yang jumlahnya berpuluh-puluh itu ditimbun dalam pasir oleh induknya sampai menetas. Kadang-kadang belum sempat ditimbun oleh induk tuntung, masyarakat sudah datang. Telur tuntung merupakan makanan bergizi tinggi. Berburu tuntung ini bagi masyarakat Rantau Tiga Lorong merupakan kesenangan tersendiri. 

Banjir bagi Rantau Tiga Lorong

Meskipun Sungai Kuantan ini mengalami banjir setiap tahun, tidak menjadi masalah bagi masyarakat. Banjir yang datang setiap tahun merupakan dinamika hidup masyarakat di sepanjang aliran Sungai Kuantan. Dengan menggunakan perahu, kegiatan tidak terhalang. Kunjung-mengunjung silaturrahim antara masyarakat yang berdiam berseberangan, tidak terhalang oleh banjir. Lumpur-lumpur yang ditinggalkan setelah banjir, merupakan pupuk yang menyuburkan tanah. Masyarakat rantau Tiga Lorong tidak mengenal pupuk untuk bertani, walaupun pupuk kandang, apalagi pupuk kimia. Cukup lumpur sisa banjir. Banjir juga mendatangkan ikan di sungai naik ke rawang-rawang dan sawah. Rawang Pinang di Pulau Jambu banyak kolam ikan. Terutama kolam ikan suku Tiga Nenek. Kolam itu dibuat kemudian ketika banjir ikan masuk ke dalamnya. Ketika musim kemarau kolam itu penuh berisi ikan dan dirawanglah (tradisi menangkap ikan) oleh anak keponakan suku Tiga Nenek. 

Ada juga banjir membawa masalah yakni ketika padi belum sempat dituai musim penghujan tiba. Hal ini akibat salah dalam perhitungan waktu bertanam, padi belum masak banjir sudah datang. Kalau padi belum masak, banjir sudah datang, masyarakat berlomba menuai padi dengan banjir. Tetapi, bersamaan dengan datangnya banjir, ikan pun ada di mana-mana. Di Kuantan sampai ke ghowang-ghowang, begitu banyaknya ikan, merupakan rezeki tersendiri. 

Belasan perahu hilir mudik di Sungai Kuantan dekat Pulau Jambu, merupakan tontonan menarik bagi masyarakat dari atas tebing tinggi. Perahu masing-masing dengan dua penumpang, seorang duduk di belakang berkayuh dan mengecuik perahu. Sedangkan yang seorang lagi berdiri di depan dengan jala siap untuk diseghakken. Peristiwa itu disebut mengepung. Mengepung ikan patin, ketika musim patin mudik. Patin adalah sejenis ikan bergizi tinggi. Bagian dada patin ini kalau di panggang akan mengeluarkan minyak. Karena minyaknya banyak, menetes, dapat membuat bara api padam. Ikan tidak bersisik ini dapat mencapai berat 10kg. per ekor.

Pada waktu musim patin mudik, patin-patin ini berhijrah ke hulu, menyongsong arus Sungai Kuantan. Menyongsong arus ini disebut dengan patin mudik. Banyak jenis ikan yang hidup di Sungai Kuantan. Ikan-ikan yang hidup di Sungai kuantan, masyarakat menyebutnya ikan kuantan atau ikan sungai, sedangkan yang hidup di ghawang, disebut dengan ikan ghawang. Ikan ghawang jarang ditemukan di Kuantan, sebaliknya ikan kuantan khususnya berjenis lecil, banyak terdapat di ghawang. Di Kuantan ini, udang pun tidak ketinggalan. Khususnya udang kecil-kecil sebesar kelingking.

Dekat Sungai Agho di Tebing Tinggi Baturijal Hulu, sebelah hulu tangga tebing tinggi, sebelum tepian ughang batino, ketika banjir, menagan segho. Hasilnya sangat mengejutkan. Sekali membangkit waktu pagi, dapat udang sepenyalinan, kira-kira setempab, ketika segho diangkat ke atas tebing. Padahal menagan segho hanya main-main saja dengan menggunakan sedikit sawa daun nio.

Menangkap ikan di Sungai Kuantan tidak semata-mata dengan menjala saja. Banyak cara lain untuk menangkap ikan, sesuai dengan situasinya. Ada yang menggunakan lukah gedang, sebuah bubu dengan diameter dua meter lebih. Selain dengan lukah gedang, ada pangila, menteban juga dengan jaring dan atnbai. Ikan juga dapat ditangkap dengan mengailnya, menguntang dan bisa juga dengan meghawai. Dengan mengenjut perahu, ikan kecil-kecil akan berlompatan, sebagian masuk ke dalam perahu.

Gambar lukah gedang

Di tebing dekat teluk, ketika musimnya, puluhan orang mengail dengan melemparkan ke tengah. Kail dengan umpan lipas tanah yang dapat ditemukan di bawah papan, kayu atau apa saja yang ada di bawah rumah masyarakat yang kering. Lipas ditangkap dijadikan umpan masih hidup untuk memancing ikan lais, patin atau juara.

Bagi yang tidak biasa, takut menceburkan kaki ke Sungai Kuantan. Ikan-ikan kecil ini membuat kaki geli, terasa digitik kalau direndam di dalam air. Ikan dengan mulutnya yang kecil itu akan mengigit-gigit kaki kita. Kalau kaki berkudis, tukik, tukak, kedal, pughu atau bubul, kulit-kulitnya yang sudah kering atau terkelupas, bahkan daging yang terbuka, bersih digigit ikan. Orang yang baru bersunat, hams memakai canting untuk menutup barang yang belum betah itu, supaya tidak disisil ikan. Apalagi kalau ada yang buang hajat besar. Ikan akan berebut dan mengerubuti kotoran yang timbul sedang hanyut. Sulit melukiskan dengan kata-kata, begitu banyaknya ikan di Sungai Kuantan.

Meskipun kaya ikan, namun ada pula buaya. Biasanya buaya senang tinggal dekat air yang teduh dan tenang. Tidak jauh dari muara Sebungkul merupakan tempat ideal bagi buaya. Di tempat lain bukannya tidak ada. Meskipun demikian, masyarakat tidak takut dengan buaya, karena di Rantau Tiga Lorong itu ada tiga beradik sebagai pemburu buaya. Tiga beradik yang ini ialah Ali Tihim yang tertua, Serah yang tengah, dan adiknya Thalib.

Dengan peralatan hanya tempuling, sejenis tombak pakai ghuit diberi bertali yang cukup panjang dan lampu sinang cap gajah tiga. Tiga beradik, dengan sebuah perahu, turun ke Sungai Kuantan. Sebelum mengayuh perahu, diam sejenak, mereka langsung tahu di mana buaya sedang berada. Perahu dikayuh menuju ke sana. Ketika buaya ditemukan, langsung ditombak dengan tempuling. Tempuling menancap tidak mudah terlepas karena ada ghuitnya, tambahan pula kulit buaya itu keras. Setelah kena tombak, buaya tidak langsung menyerah. Kadang-kadang bisa sampai satu jam melakukan tarik ulur, sampai buaya kelelahan. Tidak jarang sampai terbelit tunggak. Kalau sudah demikian, tanpa ragu salah seorang terjun menyelam, melepaskan belitan tali itu.

Tiga beradik ini bukan sekedar jago kandang, mereka sudah kesohor sampai ke daerah lain. Seorang anak pejabat di Minang, menjadi korban keganasan buaya. Mendengar ada tiga beradik sebagai pemburu buaya, pejabat itu langsung menghubungi dan minta bantuan untuk menangkap buaya yang memakan anaknya. Dengan membawa perahu sendiri yang dinaikkan ke atas bis, tiga beradik berangkat memburu buaya atas permintaan pejabat tersebut. Menggunakan perahu yang dibawa sendiri, tempuling mulai beraksi. Puluhan buaya, sudah menggeletak di atas pasir di tepi danau. Satu persatu dibantai dan perutnya dibelah. Dari perut salah satu buaya terdapat bagian dari tubuh dan pakaian anak pejabat yang menjadi korban. Karena senangnya hati pejabat tersebut, sampai memberikan lahan kebun untuk tiga beradik itu sebagai hadiah. Selain hadiah dan mendapatkan upah, kulit buaya yang mahal harganya itu pun menjadi milik mereka bertiga dan dibawa pulang. 

Lihat Kuantan

[sumber: Tarmizi Yusuf. 2010. Baturijal. Jakarta: La Tira; Elmustian Rahman dan Tarmizi Yusuf. Ensiklopedia Baturijal. Pekanbaru: Unri Press – Pusat Penelitian Kebudayaan dan Masyarakatan Universitas Riau]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *