<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ensiklopedia Arsip - Tiga Lorong</title>
	<atom:link href="https://tigalorong.id/tag/ensiklopedia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tigalorong.id/tag/ensiklopedia/</link>
	<description>Masyarakat Hukum Adat</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Dec 2021 09:39:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/cropped-logo-tiga-lorong-copy-32x32.png</url>
	<title>ensiklopedia Arsip - Tiga Lorong</title>
	<link>https://tigalorong.id/tag/ensiklopedia/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Batang Kuantan</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/batang-kuantan/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/batang-kuantan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elmustian Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 09:39:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kosabudaya]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[ensiklopedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=700</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aliran sungai yang bernama Kuantan, sebelah hilir batang Ombilin dan sebelah hulu sungai Indragiri. Kehidupan...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/batang-kuantan/">Batang Kuantan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Aliran sungai yang bernama Kuantan, sebelah hilir batang Ombilin dan sebelah hulu sungai Indragiri. Kehidupan penduduk Baturijal tergantung dengan Batang Kuantan. Sebelum berkembang alat transportasi modern, pesawat terbang dan mobil, sarana transportasi menggunakan air, laut atau sungai. Baik kapal bermesin maupun kapal layar yang menggunakan tenaga angin, merupakan alat transportasi dunia, menggunakan laut. Melalui laut, kapal-kapal Belanda datang ke Indonesia. Saudagar dari Arab, Persia maupun Gujarat, melalui laut menyinggahi pelabuhan-pelabuhan untuk bemiaga, sambil mengembangkan agama Islam. Tempat persinggahan saudagar itu, berkembang menjadi kota-kota yang ramai sebagai Bandar tempat bersandar kapal-kapal yang membawa para saudagar. Kota-kota besar di Indonesia pada umumnya berada tidak jauh dari laut atau sungai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Batang Kuantan pun tidak berbeda dengan laut. Sepanjang tepi Batang Kuantan, merupakan tempat berdiam penduduk. Batang Kuantan merupakan sarana transportasi utama. Air Batang Kuantan yang dijadikan air minum mengandung banyak jenis ikan. Batang Kuantan menjadikan sumber kehidupan bagi penduduk Baturijal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">a.&nbsp;&nbsp; Aliran Batang Kuantan, dijadikan sarana transportasi. Melalui Batang Kuantan, perahu dan motor <em>babelungkang &#8211; </em>sejenis perahu besar khusus sebagai gandengan, hilir mudik. Perahu sebagai alat transportasi penduduk yang berada sepanjang tepi Batang Kuantan. Motor dengan <em>belungkangnya </em>sebagai kendaraan mudik membawa barang dagangan ke pedalaman, sampai ke Teluk Kuantan yang berjarak lebih 300 km dari pantai. Kemudian hilir membawa hasil bumi, teratama karet, kayu rotan dan lain-lain. Pada musim kemarau, motor <em>babelungkang </em>itu tidak dapat mudik, takut <em>tersanggat &#8211; </em>kandas, karena <em>ayek usak.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">b.&nbsp;&nbsp; Air Batang Kuantan merupakan tempat berkembang-biak berjenis-jenis ikan, baik kecil mau pun besar. Mulai dari ikan sekecil kelingking seperti seluang, sampai ikan sebesar paha manusia dewasa seperti tapah. Ikan yang hanya beberapa senti, sampai ikan yang panjangnya melebihi satu meter. Kalau dipikul, <em>ikuknya </em>sampai <em>menyesea </em>ke tanah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">c.&nbsp;&nbsp; Kuantan dijadikan MCK, mandi, mencuci dan kakus tempat buang hajat. Selain sebagai tempat mandi dan mencuci, Batang Kuantan menjadi WC terpanjang di dunia. Tempat mandi dan tempat menambatkan perahu, disebut dengan <em>tepian. </em>Beberapa <em>tepian </em>dibuat rakit dari kayu-kayu besar yang timbul dan diberi berlantai tempat mencuci. Di bagian ujung sebelah hilir dibuat kotak berdinding, . tempat buang hajat. Keseluruhan perangkat rakit itu, disebut dengan <em>jamb an.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">d.&nbsp;&nbsp; Batang Kuantan sebagai sumber air minum selain air hujan. Sambil mandi <em>mencibuk ayek, </em>dengan menggunakan <em>labu </em>atau <em>geluk. </em>Ada juga yang menggunakan <em>beladi. </em>Penduduk tidak ada yang mengambil air tanah melalui mata air untuk air minum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">e.&nbsp;&nbsp; Di tepi Batang Kuantan itu khususnya di Baturijal, ada pasir dan batu kerikil yang disebut dengan<em>pulau. </em>Pada musim kemarau,<em>pulau </em>yang terdiri dari pasir putih bersih, ini sangat luas. Pasir dan batu kerikil dapat dijual kepada pemborong untuk pembuatan jalan. Pada waktu itu rumah belum banyak menggunakan semen, sehingga pasir belum diperlukan penduduk, kecuali untuk jalan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">f.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di pasir itu pula tempat <em>tuntung </em>sejenis penyu, bertelur. Setiap malam, pada musimnya tuntung naik ke pasir untuk bertelur. Telur yang jumlahnya berpuluh-puluh itu ditimbun dalam pasir oleh induknya sampai menetas. Kadang-kadang belum sempat ditimbun oleh induk <em>tuntung, </em>penduduk sudah datang. Telur <em>tuntung merupakan </em>makanan bergizi tinggi. Berburu <em>tuntung mi </em>merupakan kesenangan tersendiri. Konon kabarnya, tuntung itu mudik sampai Baturijal saja. Orang Cerenti, Inuman, Baserah, Pangean, apalagi Simandolak dan Benai tidak mendapatkan keberkahan telur tuntung. Patut dan perlu mensyukurinya, sehingga mendapat tambahan nikmat yang lebih banyak lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun Batang Kuantan ini mengalami banjir setiap tahun, tidak menjadi masalah bagi penduduk. Banjir yang datang setiap tahun, merupakan dinamika hidup penduduk di sepanjang aliran Batang Kuantan Dengan menggunakan perahu, perjalanan tidak terhalang. Kunjung mengunjung silaturrahim antara penduduk yang berdiam berseberangan, tidak terhalang oleh banjir. Lumpur-lumpur yang ditinggalkan setelah ; banjir, merupakan pupuk yang menyuburkan tanah. Penduduk Baturijal tidak mengenal pupuk untuk bertani, walaupun pupuk kandang, apalagi pupuk kimia. Cukup lumpur sisa banjir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banjir, baru membawa masalah ketika padi belum sempat dituai. Karena salah dalam perhitungan waktu bertanam, padi belum masak banjir sudah datang. Kalau padi belum masak, banjir sudah datang, penduduk berlomba menuai padi dengan banjir. Musuh petani dalam menanam padi selain hama, adalah banjir. Tetapi, bersamaan dengan datangnya banjir, ikan pun ada di mana-mana. Di Kuantan sampai ke <em>ghowang-ghowang, </em>begitu banyaknya ikan, merupakan rezeki tersendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belasan perahu hilir mudik di Batang Kuantan dekat Pulau Jambu, merupakan tontonan menarik bagi penduduk dari atas tebing tinggi. Perahu masing-masing dengan dua penumpang, seorang duduk di belakang berkayuh dan <em>mengecuik </em>perahu. Sedangkan yang seorang lagi berdiri di depan dengan jala siap untuk <em>diseghakken. </em>Peristiwa itu disebut mengepung. Mengepung ikan patin, ketika musim patin mudik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada waktu musim patin mudik, patin-patin ini berhijrah ke hulu, menyongsong aras Batang Kuantan. Menyongsong arus ini disebut dengan mudik. Sedangkan mengikuti arus disebut, menghilir atau hilir saja. Ikan yang hidup di sungai, mempunyai kebiasaan menyongsong arus termasuk patin. Sejenis ikan jua dengan ukuran sebesar jempol kaki, kalau lagi musim mudik, permukaan air terlihat bergelombang. Melihat gelombang itu, mempermudah untuk menjalanya. Rombonganjua mudik yang tampak bergelombang, disebut dengan jua <em>mauno.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menjala patin mudik sangat mengasyikkan. Selain mendapat patin, ikan lain pun tidak sedikit yang kena jala, seperti baung, tapah atau juara. Begitu juga ikan yang lebih kecil seperti kepiat, mentulu atau jua. Khusus seluang, tidak kena jala karena lebih kecil. Kecuali dengan jala rapat, khusus untuk ikan yang kecil-kecil. Untuk mendapatkan ikan seluang, menggunakan <em>segho. </em>Sekali membangkit <em>segho </em>bisa mendapatkan seluang <em>sebeladi.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak jenis ikan yang hidup di Batang Kuantan. Ikan-ikan yang hidup di Batang kuantan, penduduk menyebutnya ikan kuantan atau ikan sungai, sedangkan yang hidup di <em>ghawang, </em>disebut dengan <em>ikan ghawang. </em>Ikan <em>ghawang </em>jarang ditemukan di Kuantan, sebaliknya ikan kuantan khususnya berjenis lecil, banyak terdapat di <em>ghawang. </em>Di Kuantan ini, udang pun tidak ketinggalan. Khususnya udang kecil-kecil sebesar kelingking.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menangkap ikan di Batang Kuantan tidak semata-mata dengan menjala saja. Banyak cara lain untuk menangkap ikan, sesuai dengan situasinya. Ada yang menggunakan lukah gedang, sebuah bubu dengan diameter dua meter lebih. Selain dengan <em>lukah gedang, </em>ada <em>pangila, menteban </em>juga dengan jaring dan <em>atnbai. </em>Ikan juga dapat ditangkap dengan mengailnya, <em>menguntang </em>dan bisa juga dengan <em>meghawai. </em>Dengan <em>mengenjut </em>perahu, ikan kecil-kecil akan berlompatan, sebagian masuk ke dalam perahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tebing dekat teluk, ketika musimnya, puluhan orang mengail dengan melemparkan ke tengah. Kail dengan umpan lipas tanah yang dapat ditemukan di bawah papan, kayu atau apa saja yang ada di bawah rumah penduduk yang kering. Lipas ditangkap dijadikan umpan masih hidup untuk memancing ikan lais, patin atau juara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi yang tidak biasa, takut menceburkan kaki ke Batang Kuantan. Ikan-ikan kecil ini membuat kaki geli, terasa digitik kalau direndam di dalam air. Ikan dengan mulutnya yang kecil itu akan mengigit-gigit kaki kita. Kalau kaki <em>berkudis, tukik, tukak, kedal, pughu </em>atau <em>bubul, </em>kulit-kulitnya yang sudah kering atau terkelupas, bahkan daging yang terbuka, bersih digigit ikan. Orang yang baru bersunat, hams memakai canting untuk menutup barang yang belum <em>betah </em>itu, supaya tidak <em>disisil </em>ikan. Apalagi kalau ada yang buang hajat besar. Ikan akan berebut dan mengerubuti kotoran yang timbul sedang hanyut. Sulit melukiskan dengan kata-kata, begitu banyaknya ikan di Batang Kuantan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun kaya ikan, tidak lengkap kalau tidak menyebutkan makhluk lain yang ada dalam Batang Kuantan, apalagi kalau bukan buaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biasanya buaya senang tinggal dekat air yang teduh dan tenang. Tidak jauh dari muara Sebungkul merupakan tempat ideal bagi buaya. Di tempat lain bukannya tidak ada. Meskipun demikian, penduduk tidak takut dengan buaya, karena di Baturijal itu ada tiga beradik sebagai pemburu buaya. Tiga beradik yang ini, bukan dari Koto Simbung, melainkan asli Baturijal. Mereka itu ialah, Ali Tihim yang tertua, Serah yang tengah dan adiknya Thalib.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan peralatan hanya tempuling, sejenis tombak pakai <em>ghuit </em>diberi bertali yang cukup panjang dan lampu sinang cap gajah tiga. Tiga beradik, dengan sebuah perahu, turun ke Batang Kuantan. Sebelum mengayuh perahu, diam sejenak, mereka langsung tahu di mana buaya sedang berada. Perahu dikayuh menuju ke sana. Ketika buaya ditemukan, langsung ditombak dengan tempuling. Tempuling menancap tidak mudah terlepas karena <em>adaghuitnya, </em>tambahan pula kulit buaya itu keras. Setelah kena tombak, buaya tidak langsung menyerah. Kadang-kadang bisa sampai satu jam melakukan tarik ulur, sampai buaya kelelahan. Tidak jarang sampai terbelit tunggak. Kalau sudah demikian, tanpa ragu salah seorang terjun menyelam, melepaskan belitan tali itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga beradik ini bukan sekedar jago kandang, mereka sudah kesohor sampai ke daerah lain. Seorang anak pejabat di Minang, menjadi korban keganasan buaya. Mendengar ada tiga beradik sebagai pemburu buaya, pejabat itu langsung menghubungi dan minta bantuan untuk menangkap buaya yang memakan anaknya. Dengan membawa perahu sendiri yang dinaikkan ke atas bis, tiga beradik berangkat memburu buaya atas permintaan pejabat tersebut. Menggunakan perahu yang dibawa sendiri, tempuling mulai beraksi. Puluhan buaya, sudah menggeletak di atas pasir di tepi danau. Satu persatu dibantai dan perutnya dibelah. Dari perut salah satu buaya terdapat bagian dari tubuh dan pakaian anak pejabat yang menjadi korban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karena senangnya hati pejabat tersebut, sampai memberikan lahan kebun untuk tiga beradik itu sebagai hadiah. Selain hadiah dan mendapatkan upah, kulit buaya yang mahal harganya itu pun menjadi milik mereka bertiga dan dibawa pulang. Kulit buaya mahal harganya, mereka jual dijadikan uang.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/batang-kuantan/">Batang Kuantan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/batang-kuantan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 0/92 objects using Memcache
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching using Redis (Request-wide modification query)

Served from: tigalorong.id @ 2026-10-05 20:25:22 by W3 Total Cache
-->