<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>adat istiadat Arsip - Tiga Lorong</title>
	<atom:link href="https://tigalorong.id/tag/adat-istiadat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tigalorong.id/tag/adat-istiadat/</link>
	<description>Masyarakat Hukum Adat</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Feb 2026 03:56:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/cropped-logo-tiga-lorong-copy-32x32.png</url>
	<title>adat istiadat Arsip - Tiga Lorong</title>
	<link>https://tigalorong.id/tag/adat-istiadat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bono; Beno</title>
		<link>https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elmustian Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2026 03:52:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Saujana]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=1004</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gelombang pasang yang disebabkan kuatnya arus yang mengalir ke hilir yang bertabrakan dengan gelombang pasang...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/">Bono; Beno</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Gelombang pasang yang disebabkan kuatnya arus yang mengalir ke hilir yang bertabrakan dengan gelombang pasang laut, khususnya pada bulan purnama, yang naik dengan cepat. Arus <em>bono</em> ini di Riau terdapat di Sungai Kampar, Sungai Siak dan Sungai Rokan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Bono</em> yang paling terkenal adalah yang terjadi di Sungai Kampar. Di sungai ini gelombang pasang naik air laut mendesak aliran sungai hingga 70 kilometer ke hulu. Terjadi mulai dari Pulau Ketam hingga ke Desa Kualapanduk, di dekat muara cabang Sungai Karumutan. Ketinggian <em>bono</em> dapat &nbsp;mencapai dua meter dengan kecepatan 12 kilometer per jam dan dapat berlangsung sampai dua jam. Biasanya, tujuh hingga delapan gelombang tiba-tiba muncul pada permukaan sungai, lalu mendesak arus ke hulu secara berurutan, meliuk-liuk seperti ular. Kemunculan <em>bono</em> diiringi suara gemuruh yang menakutkan, disertai kepulan kabut air di sekelilingnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bono Sungai Kampar dapat dilihat di Kampung Telukmeranti, 8 jam menghilir Sungai Kampar dari Teratak Buluh, di dekat Pekanbaru.   Penduduk muara Sungai Kampar sudah sangat hafal dengan saat-saat datang dan perginya bono untuk menghindari kesulitan berlayar di sungai. Bono meskipun menggerunkan tapi bukan sesuatu yang mesti dihindari. Bono ini dapat disaksikan di Desa Teluk Meranti, Kuala Kampar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena <em>bono</em> sudah menjadi hal yang menarik sejak lama. Pada tahun 1882, penulis Belanda J.A. van Ruijn van Alkemade menulis dalam bukunya “<em>Reis van Siak naar Pulau Lawan</em>”(Perjalanan dari Siak ke Pulau Lawan) dan Faes dalam bukunya “<em>Het Rijk can Pelalawan</em>”menyebutkan Gubernur Sumatera, Spit, yang berkedudukan di Aceh, sengaja datang ke Kualakampar dengan kapal pesiar <em>Diana </em>dari Belawan melewati Selat Melaka, Bengkalis dan Selatpanjang hingga ke Telukmeranti hanya untuk melihat “keajaiban” <em>bono</em>. Di Telukmeranti, Spit disambut oleh Moofd yang menjadi <em>demang </em>(kepala distrik) di Kualakampar. Moofd bahkan membuat menara pengintai agar Spit dapat menyaksikan kehadiran <em>bono</em> di sungai itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi masyarakat Desa Meranti, kedatangan <em>bono</em> menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu anak-anak untuk bermain-main dalam gelombang pasang tersebut. Permainan tradisional yang memanfaatkan <em>bono</em> adalah <em>Bekudo Bono</em>,yang telah menjadi tradisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bono merupakan fenomena alam yang menakjubkan. Di mana, ketika pasang memudiki sungai, maka air sungai akan menggelombang, berombak besar. Tinggi gelombang tersebut mencapai 6 meter. Konon, menurut salah-satu cerita, Bono yang terdapat di daerah Kuala Kampar ini meru­pakan pasangan jantan dari Bono Betina yang ter­dapat di Sungai Rokan. Bono ini akan mengamuk pada awal hari bulan, atau tepatnya ketika pasang lagi naik. Bila pasang mati, maka Bono pun menghilang entah ke mana. Bono ini muncul biasanya antara tanggal 10 sampai 20 bulan Hijriyah. Peristiwa yang menakjubkan ini dimulai dengan bunyi desingan seolah-olah badai akan turun. Oleh masyarakat di sekitar Kuala Kampar, Bono meru­pakan kejadian biasa yang sudah mereka kenal sejak kecil. Tak heran bila tua dan muda di sana menganggap Bono lebih sebagai arena bermain sambil menguji ketangkasan mereka berperahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi masyarakat Tiga Lorong khususnya Baturijal, Bono merupakan permainan tradisional mereka, karena masyarakat Baturijal menjadikan muara Kampar khsususnya Pulau Penyalai menjadi kampung kedua mereka, sejak awal abad ke-19. <sup></sup></p>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph">[<strong>Sumber</strong>: Barnard, Timothy P., <em>Pusat Kekuasaan Ganda: Masyarakat dan alam Siak &amp; Sumatra Timur, 1674-1827</em>, Pekanbaru: P2KK-Unri, 2006; <em>Multiple centres of authority: Society and environment in Siak &amp; eastern Sumatra, 1674-1827</em>, Leiden: KITLV Press, 2003; Ediruslan Pe Amariza (ed.), <em>Warisan Riau, Tanah Melayu Indonesia yang Legendaris</em>, hal. 171-174, Pekanbaru: Yayasan Warisan Riau, 2001Elmustian, dkk. <em>Ensiklopedia Kebudayaan Melayu</em> Riau, bersama Al azhar, Sita Rohana, Junaidi-Syam. Pusat Penelitian dan Kebudayaan Universitas Riau. Pekanbaru. 2012].</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/">Bono; Beno</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Harimau Tingkih, Ghimau Tingkih</title>
		<link>https://tigalorong.id/saujana/harimau-tingkih-ghimau-tingkih/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/saujana/harimau-tingkih-ghimau-tingkih/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2025 09:19:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Saujana]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=985</guid>

					<description><![CDATA[<p>Harimau (Panthera tigris sumatrae), dalam masyarakat Tiga Lorong memiliki beberapa senutan sebagai penghormatan kepada hewan...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/saujana/harimau-tingkih-ghimau-tingkih/">Harimau Tingkih, Ghimau Tingkih</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Harimau (Panthera tigris sumatrae), dalam masyarakat Tiga Lorong memiliki beberapa senutan sebagai penghormatan kepada hewan yang paling berkuasa. Ada sebutan Harimau Tingkih atau Ghimau Tingkih. Sebutan untuk hewan yang cenderung dikategorikan sebagai hewan magis berupa harimau yang menjaga kampung di kenegerian Baturijal, Inderagiri, Riau. Harimau ini mempunyai perbedaan dari harimau biasa lainnya yaitu satu kaki depannya berukuran kecil. Harimau ini akan keluar mengelilingi kampung Baturijal apabila ada kejadian-kejadian yang dilarang agama dan adat terjadi, misalnya perzinahan. Harimau ini tidak bisa dilihat oleh manusia biasa, yang dapat melihat harimau ini hanya orang-orang tertentu yang mempunyai kelebihan, harimau ini seketika akan berbunyi atau mengaum sekali-kali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Datuk duten<br>Istilah lain untuk harimau. Asal kata duten berasal dari kata di hutan atau datuk yang dituakan. Kalau datuk duten berbunyi di Pulai Teleng atau Bukit Kepau maka dibalas oleh ghimau tingkih (yang memiliki kaki sebelah), berarti ada penduduk yang berbuat tidak elok di kenegerian Baturijal, seperti melakukan perzinahan, dll. Biasanya berbunyi tiga malam berturut-turut. Setelah itu biasanya masyarakat segera tahu siapa yang berselingkuh. Maka bertindaklah orang adat dan orang syarak. Pelaku segera dinikahkan. Selama Datuk Duten berbunyi, tidak ada seorangpun yang menakik karena ketakutan.<br>Apabila datuk Duten atau ghimau tingkih berbunyi di Durian Simat pertanda ada harimau lain yang datang, atau disebut juga harimau turun. Hal itu sebagai pemberi informasi kepada penduduk dan penduduk pun waspada dan tidak menakik getah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Harimau juga bisa memberi informasi dengan mematahkan kayu dengan melintang jalan. Jika itu terjadi pertanda tidak boleh lewat atau melanjutkan jalan tersebut karena ada musuh di depan, yakni harimau lain, atau harimau datang. Bisa juga harimau tersebut membuat pekasam atau sisa bangkai yang dimakannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila penduduk sesat di hutan, maka penduduk juga bisa meminta bantuan kepada Datuk Duten, “Oooo datuk duten, ngan ko lah sesat, tulong tunjukken jalan.” Maka harimau tersebut memberi petunjuk dengan berbunyi dan mematahkan kayu sepanjang jalan, patahannya mengikuti alur jalan. Penduduk biasanya mengikut bunyi dan tanda kayu yang dipatahkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dahulu kala jika harimau turun, biasanya harimau tersebut berasal dari Cenaku atau Metah, jika hewan itu turun biasanya beratus ekor. Harimau dan silat juga berhubungan erat. Setiap membuka halaman silat, sering harimau berada di sekitar itu, seolah-olah memperhatikan orang latihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:<br>Elmustian dan Tarmizi Yusuf, 2012. <em>Ensiklopedia Baturijal.</em> Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau. Narasumber: Mardan</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/saujana/harimau-tingkih-ghimau-tingkih/">Harimau Tingkih, Ghimau Tingkih</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/saujana/harimau-tingkih-ghimau-tingkih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Upacara Menjemput Tabak</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/upacara-menjemput-tabak/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/upacara-menjemput-tabak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Dec 2023 07:53:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=884</guid>

					<description><![CDATA[<p>Upacara adat, prosesi arak-arakan (berarak) mengantar atau menjemput tabak ke rumah anak panca (anak dari...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/upacara-menjemput-tabak/">Upacara Menjemput Tabak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Upacara adat, prosesi arak-arakan (berarak) mengantar atau menjemput tabak ke rumah anak panca (anak dari saudara perempuan) atau mak bako (perempuan sebelah ke bapak). Tabak adalah jenis makanan yang bahan dasarnya dari nasi pulut biasa yang berwarna hitam kecoklatan, rasanya manis yang ditempelkan pada buluh yang sudah dibelah-belah menyerupai sungkup. Pulut itu biasanya dibungkus dengan plastik dan diberi hiasan seperti roti, telur dan lainnya. Sedangkan buluh yang dipotong panjang juga diberi hiasan dengan kertas-kertas yang biasanya dibentuk seperti bunga dan berbentuk bunga manggar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biasanya tabak dibuat pada acara tertentu saja, misalnya pada acara perkawinan atau sunatan. Pada acara berarak dalam rangka perkawinan atau bersunat, tabak biasanya dibawa dengan cara dijunjung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada acara sunatan, tabak biasanya dibuat oleh saudara bapak atau mak bako atau pak bakonya. Dan biasanya tabak ini dijunjung oleh saudaranya, tidak boleh dijunjung oleh sembarang orang. Tabak ini disebut juga dengan nasi manis, merupakan salah satu makanan yang dibawa pada acara pertunangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun macam-macam tabak yaitu ada tabak bolu atau cacah inai, nasi lemak yaitu pulut yang ditanak seperti biasa kemudian dilumuri dengan tahi minyak, yang dihasilkan ketika menanak minyak dari santan, tabak sidah, yaitu syarat-syarat untuk melengkapi tabak lain, dan tabak nasi manis yaitu tabak yang dibuat atau wajib untuk proses acara adat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahan-bahan yang digunakan: pulut, kelapa, gula merah dan gula putih serta garam. Cara membuatnya: masak pulutnya di tempat lainnya, lalu ditempat yang berbeda masak santan diberi gula merah, lalu putih lalu ditambahkan sedikit garam, aduk-aduk sampai rata, setelah itu masukkan pulut yang telah dimasak tadi kedalam santan tadi. Lalu diaduk sampai mengeras dan masak. Setelah itu baru siap disajikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada dua bentuk berarak, yaitu berarak manganta tabak dan berarak manyeput tabak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beghaghak Manganta tabak<br>Upacara mengantar tabak oleh mak bako ke rumah anak panca yang sedang melaksanakan perhelatan sunat rasul atau nikah kawin yang diiringi jike gebano. Tabak diantar dengan oleh seperangkat iring-iringan. Sebelum upacara manganta tabak dilakukan, terlebih dahulu dilaksanakan jikea berdah dan makan kacindul umo bersama. Sementara itu, di rumah anak panca juga disediakan pula kolak kacang atau kolak pisang untuk dimakan bersama pengunjung yang datang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beghaghak Manyeput tabak<br>Menjemput tabak ini sebenarnya sama saja dengan manganta tabak. Jadi arakan menganta (mengantar) tadi adalah rombongan anak panca yang menjemput tabak tadi ke rumah mak bako yang anak pancanya sedang melakukan sunat rasul atau nikah kawin. Tabak dalam hal ini dijemput oleh seperangkat iring-iringan. Manyeput tabak juga dilakukan bagi anak murid yang khatam kaji. Seperti halnya manganta tabak pada manyeput tabak juga diiringi oleh jikea berdah dan rombongan lainnya.</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Baik manganta tabak maupun manyeput tabak mempunyai urutan iring-iringan, seperti berikut ini:</li>



<li>Iringan pertama adalah anak yang mengangkat kayu tanak sekebat, nio bakulit satali, dan sekumpulan segagang sirih, setandan pinang, sesisir pisang. Kayu sekebat merupakan simbol kemandirian.</li>



<li>Iringan kedua ninik mamak, mak dan pak bako, orang adat, dan orang syarak.</li>



<li>Iringan ketiga yaitu pengantin atau anak yang bersunat rasul.</li>



<li>Iringan keempat arak-arakan tabak, didahului oleh tabak sirih sebagai pembuka jalan diikuti oleh tabak-tabak lainnya. Biasanya jumlah tabak tergantung dari jumlah mak bakonya. Ada kalanya satu mak bako memberi lebih dari satu tabak. Jenis-jenis tabak antara lain tabak nasi manis, tabak ghasidah, dan tabak kue bolu bakar.</li>



<li>Iringan kelima rombongan jikea berdah.</li>



<li>Iringan terakhir ialah para jemputan.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Membantai tabak<br>Membongkar tabak untuk dibagi-bagikan disebut membantai tabak. Orang yang mendapat bagian tabak ialah anak zikir, orang adat, orang syarak, mak bako dan pak bako, ninik mamak, dan jemputan lainnya.</p>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph">Sumber:<br>Ensiklopedia Baturijal oleh Elmustian Rahman dan Tarmizi Yusuf, 2012. Pekanbaru: Unri Press.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/upacara-menjemput-tabak/">Upacara Menjemput Tabak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/upacara-menjemput-tabak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gendang beregung</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/gendang-beregung/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/gendang-beregung/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2021 06:27:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=480</guid>

					<description><![CDATA[<p>Musik tradisional yang terdiri dari dua buah gendang panjang, sebuah gong, calempong.Digunakan acara-acara adat, upacara...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/gendang-beregung/">Gendang beregung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Musik tradisional yang terdiri dari dua buah gendang panjang, sebuah gong, calempong.Digunakan acara-acara adat, upacara nikah kawin, hari-hari besar Islam, mengiringi silat dan menyambut tamu kehormatan, dll.Dimainkan oleh empat orang. Mempunyai lagu khusus gendang-beregung.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/gendang-beregung/">Gendang beregung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/gendang-beregung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tradisi Bersunat</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bersunat/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bersunat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2021 06:24:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bersunat atau khitan disebut juga dengan sunat rasul adalah prosesi memotong kulit ujung zakar laki-laki....</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bersunat/">Tradisi Bersunat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Bersunat atau khitan disebut juga dengan sunat rasul adalah prosesi memotong kulit ujung zakar laki-laki. Biasanya dilakukan ketika masih kanak-kanak. Dari sudut adat istiadat, bersunat merupakan upacara peralihan dari keadaan kotor masa bayi atau kanak-kanak kepada keadaan suci selepas bersunat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam adat istiadat Baturijal anak laki-laki yang akan disunat terlebih dahulu direndam di dalam sungai pagi-pagi. Lama perendaman tersebut adalah sampai anak tersebut <em>kecut</em> atau menggigil kedinginan. Tujuan dari merendam tersebut adalah agar kulit anak terseabut lembut dan tidak terasa sakit ketika disunat. Sementara <em>mudin</em> menyiapkan segala peralatnya, seperti: pisau, penjepit, pembalut, obat dan sebagainya. Batang pisang diletakkan di tempat berlangsungnya upacara sebagai tempat duduk. Beberapa orang pembantu <em>mudin</em> telah bersiap untuk membantu memegang anak yang akan disunat. Setelah selesai berendam anak tersebut diangkat, lalu didudukkan di atas batang pisang yang telah disediakan. Pembantu-pembantu <em>mudin</em> membantu memegangi anak yang akan disunat. Kepalanya ditegakkan ke atas agar ia tidak dapat melihat apa yang dikerjakan oleh <em>mudin</em>. Kemudian <em>mudin</em> mengulur dan menarik kulub anak-anak memanjang dan menjepit kulit itu melebihi kepala kemaluan untuk melindungi kepala kemaluan. Satu lagi sepit  dikenakan diujung kulit yang berlebihan. Kemudian anak tersebut diangkat ke tempat tidur dan <em>punco</em> kain sarungnya digantung supaya tidak mengenai kemaluannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu, diadakan acara <em>bajikea</em> atau zikir bardah. <em>Bajikea</em> ini dilakukan dari malam hari sampai menjelang subuh. Ini dilakukan agar dapat menjaga anak yang bersunat tadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biasanya pelaksanaan upacara bersunat itu dapat dilaksanakan denagan menggabungkan dengan khatam Alqur’an. Sebab sebagai seorang muslim, anak harus khatam membaca Al Qur’an di bawah bimbingan seorang guru mengaji. Orang tua merasa megah dan kehormatannya tinggi apabila ia melaksanakan upacara bersunat rasul anaknya bersamaan dengan berkhatam Al Qur’an.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama luka bersunatnya belum sembuh, anak yang bersunat itu tidak dibenarkan minum air banyak-banyak, agar lukanya tidak sampai gelembung. Dan menurut pantang larang masyarakat Baturijal selama anak disunat dan lukanya belum sembuh, anak tersebut harus memakai alas kaki bila keluar rumah karena jika terpijak kotoran ayam maka lukanya akan lama sembuh. Anak tersebut dilarang memegang tangga rumah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara simbolik, upacara bersunat rasul menandai peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa dan sudah boleh memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bersunat/">Tradisi Bersunat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bersunat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Beghaghak (Berarak)</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/beghagha-berarak/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/beghagha-berarak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2021 06:22:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=471</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tradisi Khas Tiga Lorong Upacara adat MKH Tiga Lorong. Disebut dengan prosesi arak-arakan mengantar atau...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/beghagha-berarak/">Beghaghak (Berarak)</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tradisi Khas Tiga Lorong</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Upacara adat MKH Tiga Lorong. Disebut dengan prosesi arak-arakan mengantar atau menjemput tabak ke rumah anak panca (anak dari adik beradik yang laki-laki atau mak bako (saudara perempuan dari bapak). Di kenegerian Baturijal ada dua bentuk berarak, yaitu berarak <em>manganta tabak</em> dan berarak <em>manyeput tabak</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Beghaghak </em></strong><strong><em>Manganta tabak</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Upacara mengantar tabak oleh <em>mak bako</em> ke rumah <em>anak panca</em> yang sedang melaksanakan perhelatan sunat rasul atau nikah kawin yang diiringi <em>jike berdah</em>. Tabak diantar dengan oleh seperangkat iring-iringan. Sebelum upacara manganta tabak dilakukan, terlebih dahulu dilaksanakan <em>jikea berdah</em> dan makan <em>kacindul umo</em> bersama.Sementara itu, di rumah anak panca juga disediakan pula kolak kacang atau kolak pisang untuk dimakan bersama pengunjung yang datang.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="alignleft size-medium"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="300" height="188" src="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Berarak-300x188.jpg" alt="" class="wp-image-473" srcset="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Berarak-300x188.jpg 300w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Berarak-1024x642.jpg 1024w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Berarak-768x481.jpg 768w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Berarak.jpg 1200w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption>Beghaghak</figcaption></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Beghaghak</em></strong><strong><em> Manyeput tabak</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Upacara adat menjemput tabak ke rumah <em>mak bako</em> oleh <em>anak panca</em> yang sedang melakukan sunat rasulatau nikah kawin. Tabak dalam hal ini dijemput oleh seperangkat iring-iringan.Manyeput tabak juga dilakukan bagi anak murid yang khatam kaji. Seperti halnya <em>manganta tabak </em>pada<em> manyeput tabak</em> juga diiringi oleh <em>jikea berdah</em>danrombongan lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baik <em>manganta tabak</em> maupun <em>manyeput tabak</em> mempunyai urutan iring-iringan, seperti berikut ini:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Iringan&nbsp; pertama adalah anak yang mengangkat&nbsp; kayu tanak sekebat, nio bakulit satali, dan sekumpulan segagang sirih, setandan pinang, sesisir pisang.Kayu sekebat merupakan simbol kemandirian.</li><li>Iringan&nbsp; kedua ninik mamak, mak dan pak bako, orang adat, dan orang syarak.</li><li>Iringan&nbsp; ketiga yaitu pengantin atau anak yang bersunat rasul.</li><li>Iringan&nbsp; keempat arak-arakan&nbsp; tabak, didahului oleh tabak sirih sebagai pembuka jalan diikuti oleh tabak-tabak lainnya. Biasanya jumlah tabak tergantung dari jumlah mak bakonya. Ada kalanya satu&nbsp; mak bako memberi lebih dari satu tabak. Jenis-jenis tabak&nbsp; antara lain tabak nasi manis, tabak ghasidah, dan tabak kue bolu bakar.</li><li>Iringan kelima rombongan <em>jikea</em> berdah.</li><li>Iringan terakhir ialah para jemputan.</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Membantai tabak</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Membongkar tabak untuk dibagi-bagikan disebut <em>membantai tabak</em>.Orang yang mendapat bagian tabak ialah anak zikir, orang adat, orang syarak, mak bako dan pak bako,&nbsp; ninik mamak, dan jemputan lainnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/beghagha-berarak/">Beghaghak (Berarak)</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/beghagha-berarak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Silat</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/silat/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/silat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2021 06:07:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=461</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masyarakat Hukum Adat Tiga Lorong sudah memiliki seni bela diri mulai dari nenek moyang mereka...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/silat/">Silat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Masyarakat Hukum Adat Tiga Lorong sudah memiliki seni bela diri mulai dari nenek moyang mereka sejak dahulu kala. Tercatat dalam Tembo Tiga Lorong ketika Tiga Beradik pendekar utusan dari Inderagiri menang tanding melawan Ajo Dubalang dari Pagaruyung. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Seni bela diri asli Tiga Lorong dilengkapi dengan unsur-unsur seni dan tatasusila adat khas Tiga Lorong. Dari segi estetika, pencak silat memadukan gerakan indah dan lemah lembut, namun mengandung kekuatan bahkan kekuatan magis. Teknik silat seperti tercatat dalam Tembo itu kemudian berkembang dalam beragam jenis. Sebagian besar bersifat ringan, cepat, dan mengecoh lawan ketika menyerang. Silat membela diri lebih bersifat menghindar mengelak pertikaian. Ketika diri tak dapat lagi mengelak ada juga jurus-jurus untuk menyerang lawan. Silat juga dikembangkan dengan memakai senjata seperti keris, pisau, dan lembing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain sebagai seni beladiri, silat juga dikembangkan sebagai kesenian yang ditampilkan untuk menyambut pengantin, penabalan datuk-datuk, perayaan hari besar Islam dan upacara adat lainnya. Silat permainan atau silat laman diiringi musik gendang, celempong, dua buah gong (satu suara tinggi satu suara rendah), dua buah gendang panjang; Permainan celempong atau gendang ada juga dimainkan oleh wanita sedangkan untuk musik gong dimainkan oleh laki-laki dan penyanyinya juga laki-laki. Silat tersebar begitu meluas di alam Melayu dan diamalkan oleh berbagai-bagai rumpun Melayu. Terkenal dengan berbagai panggilan dan terdiri dari berbagai genis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Silat Sembah</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Inderagiri hingga Tiga Lorong dikenal dengan silat sembah yang merupakan rangkaian dari adat perkawinan. Pertunjukkan dua orang laki-laki menampilkan unsur seni gerak silat sembah, diiringi oleh musik gong, gendang tingkah. Silat Sembah ditampilkan pada saat menyambut kedatangan arakan pengantin laki-laki, arakan <em>ba</em><em>sunat </em><em>r</em><em>asul</em> dan juga menyambut tamu, orang-orang besar negeri yang datang ke Indragiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara silat yang sempat tercatat adalah Silat Pangean. Disebut demikian karena berasal dari Pangean, Rantau Kuantan. Awal kisah berkembangnya Silat ini di Tiga Lorong bermula ketika pemuda<em>Jarib</em><em> </em>dan ayahnya<em>,</em> yang merupakan tokoh terkemuka masyarakat Baturijal bermastautin di Semenanjung Malaya. Pada suatu saat mereka berjumpa dengan Haji Somad yang merupakan seorang guru silat terkenal di Kuala Lumpur. Saat itu balatentara Malaya menyiapkan pasukan Melayu yang tangguh menghadapi balatentara Inggris dan Jepun. Jepun berpura-pura menjanjikan akan membantu pasukan Melayu, tetapi hanya cerita belaka. <em>Jarib</em> masih muda belia dan siap sedia berjuang ikut membebaskan Malaya dari penjajahan asing seperti Inggris dan Jepun. Perang tanding secara terbuka belum berlangsung, Jarib dan kawannya sudah menyiapkan diri. Jarib dan ayahnya merasa Malaya sudah aman, mereka pun pulang ke kampung halamannya Baturijal. Mereka pun kemudian mengembangkan ilmu silat ini di Pangean, kemudian mereka menamakan silat mereka ini dengan Silat Pangean.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Kampung halamannya, Jarib mendirikan lapangan silat di Danau. Tercatatlah murid <em>Pak Jarib</em> awalnya berjumlah 30 orang. Murid-murid ini diajar oleh induk berempat. Kemudian disebutlah nama induk berempat, yakni Hanafi, Kafli, Simandundung, dan Muhammad Noer, dengan pak Jarib sebagai guru besarnya. Pada 14 juni 1963 <em>Jarib </em>wafat. Tugas perguruan diteruskan oleh putranya <em>Muhammad Noer</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dahulunya Laman silat ini banyak bertebaran di kenegerian Baturijal. Di awal kemerdekaan terdapat banyak <em>laman </em>silat, di antaranya:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Laman Muhamad Nur di Kampung Danau</li><li>Laman Ismail di Kampung Cempedak</li><li>Laman Amirullah di Tanjung Rasau</li><li>Laman Datuk tongka di Pulau Jambu</li><li>Laman Haji salam di Gaung</li><li>Laman Ma’arif di Batuaceh</li><li>Laman Dighun di Tanjung Rasau</li><li>Laman Yusuf di Sibungkul (Baturijal Hilir)</li><li>Laman Harmaini atau Tan Kiting di Pulaupadang</li><li>Laman Haji Syafi’i di kampong Cempedak</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Silat Tiga Lorong ini menggunakan ilmu batin yang bertujuan untuk menjalin silaturahmi. Silat ini tidak boleh digunakan sembarangan, kecuali jika sangat-sangat dibutuhkan, misalnya untuk membela diri, ketika sang pendekar berada dalam keadaan terpojok atau terdesak. Untuk menjadi murid dalam silat ini, harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu dengan menyerahkan 4 macam benda berikut kepada sang guru:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Sebuah limau, limau yang dimaksud adalah jenis limau <em>mato k</em><em>aghe</em><em>bau </em>atau limau mantimun<em>.</em></li><li>Sekabung kain putih.</li><li>Seekor ayam kampong untuk disembelih dan akan dimakan bersama.</li><li>Sebuah cincin besi. Cincin tidak boleh diganti dengan cincin jenis lain, misalnya cincin emas, intan atau berlian sekalipun. Seandainya sang calon murid tidak bisa menemukan jenis cincin ini, maka sang murid boleh menggunakan cincin yang dimilki oleh sang guru dengan cara meminjam, dan sebagai simbol mereka menggantinya dengan uang seikhlasnya. Uang seikhlasnya itu karena cincin besi milik sang guru itu tidak dapat dinilai harganya.</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Jika persyaratan yang tersebut di atas telah terpenuhi maka sudah sah lah si pemohon menjadi murid dari keguruan silat ini. Tetapi, terkadang beberapa calon murid ada yang menambahkan selain empat persyaratan di atas, seperti beras, kain, uang, dan bahan makanan lainnya. Barang-barang ini bukanlah sebagai persyaratan, melainkan hanya sebagai sedekah untuk menghormati seorang guru. Dalam silat ini juga terdapat “undang-undang”, di antaranya:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Susunan keguruan di kenegerian silat Tiga Lorong ini sama seperti:</li><li>Guru besar sebagai pejabat tertinggi di kenegerian silat Pangean</li><li>Wakil guru besar, sebagai pembantu dari guru besar.</li><li>Anak tuo</li><li>Induk berempat</li><li>Murid-murid di ajar oleh induk berempat, jika induk berempat tidak mampu maka anak tuo yang turun, jika tidak mampu juga maka wakil guru besar yang turun. Dan jika tidak mampu juga barulah guru besar yang turun untuk mengajar para murid.</li><li>Murid jika ingin menikahi janda dari temannya yang sesame murid maka harus minta izin terlebih dahulu kepada teman yang bersangkutan</li><li>Murid jika menikahi janda dari induk berempat maka akan&nbsp; dikenakan denda berupa seekor kambing</li><li>Murid jika menikahi janda dari guru besar, wakil guru besar dan anak tuo maka dikenakan sanksi berupa seekor jawi atau kerbau.</li><li>Melaksanakan sholat lima waktu</li><li>Tidak boleh berkata sombong atau bersikap riya</li><li>Harus siap sakit, siap patah, siap buta, siap tuli,&nbsp; dan berhutang demi kegiatan persilatan. Berhutang yang dimaksudkan ialah hutang laman, yakni setiap sudah hari raya Idul Adha harus&nbsp; berziarah dan menyumbang seikhlasnya saja.</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Di atas disebutkan menyerahkan sebuah limau. Limau ini nanti akan <em>ditetas </em>(dipotong) oleh sang guru. Lalu sang murid disuruh untuk mandi ke sungai atau air yang mengalir dengan menggosok-gosokkan limau yang sudah <em>ditetas</em> tadi ke badan. Selesai mandi limau tersebut diletakkan di bawah sebuah pohon yang bergetah dan limau tersebut ditutupi dengan tempurung yang memiliki <em>mata</em>. Setelah tiga hari limau tersebut diambil dan kemudian dilihat apa yang terdapat dalam tetasan limau tersebut. Sang murid kemudian memberitahu kepada sang guru apa gerangan isi tempurung limau.&nbsp; Isi limau itu menggambarkan sifat atau karakter dari murid. Setelah guru diberitahu murid kemudian mandi kembali ke sungai dengan menggosokkan limau tersebut kebadan. Kemudian setelah mandi, limau digantungkan di atas perapian rumah untuk dikeringkan. Limau dibungkus dengan kain putih dan kemudian disimpan. Khasiat dari limau ini dapat digunakan sebagai pelindung diri dan sebagai penyembuh penyakit bagi si murid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika ada seorang murid dari sebuah perguruan silat dan kemudian dia ingin pindah ke perguruan yang lain, maka ketika di perguruannya yang baru saat penetasan limaunya terdapat sedikit perbedaan. Jika pada penetasan limau pada calon murid yang belum pernah berguru sekali <em>tetas</em>, maka pada calon murid yang pindah keperguruan penetasan limaunya adalah dua kali <em>tetas</em>. Saat penetasan limau terkadang terjadi kejadian yang aneh. Saat limau <em>ditetas</em> keluar darah dari dalam limau. Ini menandakan bahwa calon murid memiliki jiwa yang tangguh dan akan menjadi pendekar yang luar biasa kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam silat dikenal empat jenis gerakan yang dikenal dengan istilah <em>langkah empat, </em>yaitu<em>:</em></p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Gerakan cincang</li><li>Gerakan tenju</li><li>Gerakan sembar/tepuk</li><li>Dan gerakan tepuk.</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Gerakan-gerakan di atas dalam suatu pertunjukan dimainkan dalam sekali alur main. Sebelum dilakukan permainan silat ini, terdapat beberapa ketentuan, di antaranya:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Menggunakan kain sarung atau kopiah (kain sarung cukup dililitkan di pinggang)</li><li>Bersalaman pada guru</li><li>Kedua pemain duduk menghadap kiblat dan berdoa</li><li>Kedua pendekar bersalaman</li><li>Kemudian berdiri, kaki dirapatkan, dan saat melangkah kaki kanan yang didahulukan (setiap awal gerakan dimulai dengan kaki kanan).</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika bertanding atau bertarung, sang pendekar mengamati gerik dari sang lawan terlebih dahulu, sehingga ketika sang musuh menyerang sang pendekar sudah siap dengan tangkisannya. Dalam silat ini lebih banyak gerakan menangkis dari pada menyerang, karena hakikat dari silat ini adalah untuk membela diri.&nbsp; Setelah bermain, sebagai penutup maka anak berempat bermain dengan sang guru besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa petuah silat ini yaitu <em>segalo jadi</em>, <em>lunak datangnyo lunak </em><em>pulo </em><em>sambutnyo, keras datangny</em><em>o</em><em> keras pulo sambutnyo</em>. Tidak mencari lawan tapi kalau datang pantang menghindar. Tak boleh mengkhianati, jika dilakukan hilang petuah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Silat ini sering&nbsp; dipertunjukkan baik dalam acara-acara resmi daerah Tiga Lorong maupun acara adatnya, seperti penyambutan pejabat pemeritahan, peresmian suatu kegiatan atau lokasi, pesta pernikahan (walimah), sunnatan rasul dan kegiatan-kegiatan lainnya. Pertunjukan silat biasanya diiringi oleh <em>gendang beghegung</em>, alat-alat musiknya terdiri dari gendang (lodi dan bass), gong, dan celempong dengan jenis nyanyian yang disebut dengan <em>kedidi</em>. Ketika pertunjukan silat dimainkan tidak lupa untuk menaruh sirih, kapur, pinang dan rokok dalam sebuah piring. Ini merupakan suatu keharusan, penggunaan benda-benda tersebut adalah sebagai makanan buat <em>sang bathin </em>(para leluhur) jika datang pada saat silat dimainkan. Ada juga hubungan antara silat dengan harimau. Setiap membuka halaman silat, sering harimau berada di sekitar itu, seolah-olah memperhatikan orang latihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">[<strong>Rujukan</strong>: Wilkinson, R.J., <em>A Malay</em>&#8211;<em>English</em> <em>Dictionary</em>, London: Macmillan &amp; Co. Ltd., 1959; Taslim F., dan Junaidi Syam, <em>Trombo Rokan</em>, Pasirpengarayan: Yayasan Garasibumy, 2007; Elmustian Rahman dan Tarmizi Yusuf. 2012 <em>Ensiklopedia BaturijaÏ. </em>Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan; Elmustian, dkk, <em>Ensiklopedia Kebudayaan Melayu Riau</em>, Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau, 2012].</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/silat/">Silat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/silat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bajikea</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/bajikea/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/bajikea/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Dec 2021 17:30:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://tigalorong.id/?p=455</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bajike adalah seni perrtunjukan khas puji-pujian masyarakat Tiga Lorong. Berasal dari kata jike, dikir, atauzikir,...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/bajikea/">Bajikea</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Bajike adalah seni perrtunjukan khas puji-pujian masyarakat Tiga Lorong. Berasal dari kata jike, dikir, atauzikir, menggunakan teks lisan dan tulisan. Diiringigendang gebano (gendang satu muka kulit). Kekhasannya karena gendangnya lebih besar dari kebanyakan group dikir yang ada di alam Melayu. Karena kekhasannya itu pulalah seni pertunjukan ini terancam punah karena dibuat dari pohon besar dan pohon besar itu sudah punah oleh skenario makro pemerintah.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Bejike</em>seni pertunjukan khaspuji-pujian(menggunakan teks lisan dan tulisan) diiringigendang gebano (gendang satu muka kulit) di kenegerian Baturijal, wilayah Tiga Lorong Inderagiri, tempat bertapak Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau<em>. Bejike</em>awalnya mirip berzanji kemudian dikembangkan dalam bentuk teks-teks profan seperti genre pantun dan syair. Gendang gebano berukuran besar dengan garistengahmuka atas lebih dari90 centimeter untukpermukaannyasedangkangaristengahkulitnyamencapai 80-95 cm. Ukuranmukabawahberkisar50-60 cm. Tingginyaberkisar 20 cm. Gendang gebano dengan ukuran besar-besar dimiliki oleh <em>jike</em> kenegerian Baturijal, Indragiri.Ukurangebanotidaksamabesar, sehingga menghasilkan nada yang berbeda-beda, dan menjadi sebuah simponi, sedap di dengar telinga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istilah <em>jike</em> ini diambil dari kata zikiryakni kegiatan puja-puji kepada Allah. Di beberapa tempat disebut juga dengan<em>dike</em> dan sebagian disebut juga dengan <em>jike gebano</em> atau <em>dike berdah</em> untuk penamaan seni pertunjukan yang sama. Memberikanpuji-pujiandengandiiringigebano, dan terkadang dilengkapi dengan gong dan ketawak. Meskipun teks nyanyiannya tergolong sakral, namun <em>be</em><em>jike</em>atau berzikir dilaksanakansebagaiacarahiburandalamacaraberhelat upacara adat dan kegiatan resmi pemerintahan di Inderagiri Hulu, Riau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap kelompok jike biasanya terdiri dari belasan hingga puluhan orang untuk menjaga terpeliharanya kemerduan nyanyian terutama jika mereka saling sambut-menyambut atau bersahut-sahutan suara di samping paluan rebana masing-masing. Para pejike atau penzikir biasanya memakai pakaian Islami atau baju Melayu. Acara diawali dengan makan, kemudian diselingi dengan jedah dengan makan nasi dan juadah bersama, sambil duduk bersela.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Jike gebano</em>Tiga Lorong sudah ada sejak turun-temurun yang tidak diketahui tahun berapa pastinya. Namun, dari beberapa narasumber menjelaskan bahwa jike gebano awal sudah ada berabad-abad lalu di Daik Lingga, Kepulauan Riau, kemudian dibawa ke Kerajaan Inderagiri dan beberapa pesisir Pulau Sumatra lainnya, lalu disebarkan ke Betawi. Dari Betawi dibawa oleh pendakwah ke Semenanjung Malaya, seperti Kampung Berhala Gantang, Temerloh, Pahang dan kemudian tersebar ke daerah Pekan, Temerloh dan Lipis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jike gebano dapat juga dikatakan sebagai seni kata.Dalam pertunjukan <em>jikegebano</em>pada awalnya banyak memakai bahasa Arab yang memuji kebesaran Tuhan dan memuliakan Rasul. Khusus Mereka berdikir dengan panduan teks khusus yang mempunyai 14 keturunan dalam bentuk nazam, tetapi tidak memakai tanda yang sebenarnya. <em>Pajike</em>(seniman jike gebano) biasanya tegakdan berjalan, namun di pesisir Pulau Sumatera, <em>pajike</em> lebih beradab, mereka duduk bersila membentuk lingkaran mengelilingi teks yang diletakkan di tengah-tengah di atas bantal. Mereka berjike gebano secara bergiliran mengikuti putaran ke kiri atau ke kanan. Pada peringkat pertama berjike, rebano yang ditepuk diletakkan di atas lantai di hadapan sila, dan pada pering­kat kedua, rebana diletakkan di atas riba. Rebana ditepuk dengan menggunakan empat jari. Terdapat tiga jenis tepukan yaitu tepukan cop, tepukan tung dan jentikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Bejike</em> untuk meramaikan  acara yang dilakukan pada saat perayaan perkawinan, semalam suntuk. Setelah selesai makan bersama, mulai dari sekitar pukul 9 malam, sampai waktu subuh, menyelesaikan beberapa pasal atau bab dalam kitab khusus <em>jike. Bejike </em>dibagi beberapa sesi atau pasal. Setiap menyelesaikan satu pasal, diadakan istirahat atau <em>jedah</em> dengan minum-minuman teh atau kopi dengan penganan. Waktu <em>jedah </em>hanya sekitar 15 menit, digunakan rehat kopi atau teh atau minum-minuman melapangkan suara. Sedangkan <em>jedah </em>besar dengan makan nasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketikawaktu <em>jedah</em>, gebano yang besarituditelungkupkansekaliandijadikantempatmeletakkantalam (nampan) tempatmakanan.Bagianak-anakjarang yang mampubertahantidaktidursemalaman.Tetapianak-anaktetapramai di tempat orang <em>b</em><em>e</em><em>jike, </em>dan mendapatkanmakanankuepadawaktujedah, ataumakanmalamdenganlauk yang istimewa.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Bajike</em>tidakhanya dengansuarapelandanrendah, sebagaimana orang berdoadanmemohon kepada Tuhan, melainkanada juga dengan suara keras dan tinggi, kadang-kadangsampaimelengking.Suara<em>jike</em>yangkerasituditimpaliolehsuararebana yang juga keras, karenadipukulsekuattenagaataubisajugapukulannyadihentikanataudikosong, hanyasemata-matasuarasaja.Karena<em>bajike</em>inimerupakansuatugrup, harus seirama. Anggota grup selalu berlatih untuk memperbaiki penampilan supaya pelanggan tidak kecewa. Suara orang <em>bejike </em>ini terdengar sampai jauh. Ketika malam semakin sunyi, suara orang <em>bejike </em>semakin jelas. Terdengarnya semakin merdu. Acara-acara ini biasanya di rumah pengantin perempuan.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/bajikea/">Bajikea</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/bajikea/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 0/201 objects using Memcache
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching using Redis

Served from: tigalorong.id @ 2026-10-03 01:18:26 by W3 Total Cache
-->