<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Utama Arsip - Tiga Lorong</title>
	<atom:link href="https://tigalorong.id/category/utama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tigalorong.id/category/utama/</link>
	<description>Masyarakat Hukum Adat</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Feb 2026 03:56:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/cropped-logo-tiga-lorong-copy-32x32.png</url>
	<title>Utama Arsip - Tiga Lorong</title>
	<link>https://tigalorong.id/category/utama/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bono; Beno</title>
		<link>https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elmustian Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2026 03:52:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Saujana]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=1004</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gelombang pasang yang disebabkan kuatnya arus yang mengalir ke hilir yang bertabrakan dengan gelombang pasang...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/">Bono; Beno</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Gelombang pasang yang disebabkan kuatnya arus yang mengalir ke hilir yang bertabrakan dengan gelombang pasang laut, khususnya pada bulan purnama, yang naik dengan cepat. Arus <em>bono</em> ini di Riau terdapat di Sungai Kampar, Sungai Siak dan Sungai Rokan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Bono</em> yang paling terkenal adalah yang terjadi di Sungai Kampar. Di sungai ini gelombang pasang naik air laut mendesak aliran sungai hingga 70 kilometer ke hulu. Terjadi mulai dari Pulau Ketam hingga ke Desa Kualapanduk, di dekat muara cabang Sungai Karumutan. Ketinggian <em>bono</em> dapat &nbsp;mencapai dua meter dengan kecepatan 12 kilometer per jam dan dapat berlangsung sampai dua jam. Biasanya, tujuh hingga delapan gelombang tiba-tiba muncul pada permukaan sungai, lalu mendesak arus ke hulu secara berurutan, meliuk-liuk seperti ular. Kemunculan <em>bono</em> diiringi suara gemuruh yang menakutkan, disertai kepulan kabut air di sekelilingnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bono Sungai Kampar dapat dilihat di Kampung Telukmeranti, 8 jam menghilir Sungai Kampar dari Teratak Buluh, di dekat Pekanbaru.   Penduduk muara Sungai Kampar sudah sangat hafal dengan saat-saat datang dan perginya bono untuk menghindari kesulitan berlayar di sungai. Bono meskipun menggerunkan tapi bukan sesuatu yang mesti dihindari. Bono ini dapat disaksikan di Desa Teluk Meranti, Kuala Kampar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena <em>bono</em> sudah menjadi hal yang menarik sejak lama. Pada tahun 1882, penulis Belanda J.A. van Ruijn van Alkemade menulis dalam bukunya “<em>Reis van Siak naar Pulau Lawan</em>”(Perjalanan dari Siak ke Pulau Lawan) dan Faes dalam bukunya “<em>Het Rijk can Pelalawan</em>”menyebutkan Gubernur Sumatera, Spit, yang berkedudukan di Aceh, sengaja datang ke Kualakampar dengan kapal pesiar <em>Diana </em>dari Belawan melewati Selat Melaka, Bengkalis dan Selatpanjang hingga ke Telukmeranti hanya untuk melihat “keajaiban” <em>bono</em>. Di Telukmeranti, Spit disambut oleh Moofd yang menjadi <em>demang </em>(kepala distrik) di Kualakampar. Moofd bahkan membuat menara pengintai agar Spit dapat menyaksikan kehadiran <em>bono</em> di sungai itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi masyarakat Desa Meranti, kedatangan <em>bono</em> menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu anak-anak untuk bermain-main dalam gelombang pasang tersebut. Permainan tradisional yang memanfaatkan <em>bono</em> adalah <em>Bekudo Bono</em>,yang telah menjadi tradisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bono merupakan fenomena alam yang menakjubkan. Di mana, ketika pasang memudiki sungai, maka air sungai akan menggelombang, berombak besar. Tinggi gelombang tersebut mencapai 6 meter. Konon, menurut salah-satu cerita, Bono yang terdapat di daerah Kuala Kampar ini meru­pakan pasangan jantan dari Bono Betina yang ter­dapat di Sungai Rokan. Bono ini akan mengamuk pada awal hari bulan, atau tepatnya ketika pasang lagi naik. Bila pasang mati, maka Bono pun menghilang entah ke mana. Bono ini muncul biasanya antara tanggal 10 sampai 20 bulan Hijriyah. Peristiwa yang menakjubkan ini dimulai dengan bunyi desingan seolah-olah badai akan turun. Oleh masyarakat di sekitar Kuala Kampar, Bono meru­pakan kejadian biasa yang sudah mereka kenal sejak kecil. Tak heran bila tua dan muda di sana menganggap Bono lebih sebagai arena bermain sambil menguji ketangkasan mereka berperahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi masyarakat Tiga Lorong khususnya Baturijal, Bono merupakan permainan tradisional mereka, karena masyarakat Baturijal menjadikan muara Kampar khsususnya Pulau Penyalai menjadi kampung kedua mereka, sejak awal abad ke-19. <sup></sup></p>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph">[<strong>Sumber</strong>: Barnard, Timothy P., <em>Pusat Kekuasaan Ganda: Masyarakat dan alam Siak &amp; Sumatra Timur, 1674-1827</em>, Pekanbaru: P2KK-Unri, 2006; <em>Multiple centres of authority: Society and environment in Siak &amp; eastern Sumatra, 1674-1827</em>, Leiden: KITLV Press, 2003; Ediruslan Pe Amariza (ed.), <em>Warisan Riau, Tanah Melayu Indonesia yang Legendaris</em>, hal. 171-174, Pekanbaru: Yayasan Warisan Riau, 2001Elmustian, dkk. <em>Ensiklopedia Kebudayaan Melayu</em> Riau, bersama Al azhar, Sita Rohana, Junaidi-Syam. Pusat Penelitian dan Kebudayaan Universitas Riau. Pekanbaru. 2012].</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/">Bono; Beno</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Paralegal Pemangku Adat Tiga Lorong</title>
		<link>https://tigalorong.id/tentangkita/pelatihan-paralegal-pemangku-adat-tiga-lorong/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tentangkita/pelatihan-paralegal-pemangku-adat-tiga-lorong/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elmustian Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 06:39:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[kabar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=678</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pelatihan Paralegal Masyarakat Hukum Adat di Tiga Lorong di Simpang, Baturijal Hulu, Indragiri Hulu. Kegiatan...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tentangkita/pelatihan-paralegal-pemangku-adat-tiga-lorong/">Pelatihan Paralegal Pemangku Adat Tiga Lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pelatihan Paralegal Masyarakat Hukum Adat di Tiga Lorong di Simpang, Baturijal Hulu, Indragiri Hulu. Kegiatan berlangsung pada 27 – 29 November 2020. Pelatihan tsb. diberikan pemahaman intensif tentang masyarakat hukum adat Tiga Lorong, hukum acara pidana, analisis dan manajemen konflik, teknik pengumpulan data dan penulisan laporan, pengorganisasian, dan rencana tindak lanjut. Pemateri dari LAM Riau, Noval Setiawan (LBH Pekanbaru), Okto dan Suryadi (Jikalahari). Narahubung acara adalah Yongki Arisandi dan Roswinda.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tentangkita/pelatihan-paralegal-pemangku-adat-tiga-lorong/">Pelatihan Paralegal Pemangku Adat Tiga Lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tentangkita/pelatihan-paralegal-pemangku-adat-tiga-lorong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rumah Belah Bubung</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/rumah-belah-bubung/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/rumah-belah-bubung/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2021 05:42:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=644</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rumah Melayu khas Masyarakat Tiga Lorong, tepatnya di Baturijal berhampiran dengan Masjid Pusaka, di Tebing...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/rumah-belah-bubung/">Rumah Belah Bubung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Rumah Melayu khas Masyarakat Tiga Lorong, tepatnya di Baturijal berhampiran dengan Masjid Pusaka, di Tebing Tinggi Baturijal Hulu. Atapnya berperabung lipat kajang atau disebut juga lipat pandan. Rumah Belah Bubung atau disebut populer juga disebut dengan &#8220;Rumah Bubung Melayu&#8221; atau &#8220;Rumah Perabung Panjang&#8221;. Bila atapnya agak landai disebut &#8220;Rumah Lipat Kajang&#8221;. Bila atapnya curam disebut &#8220;Rumah Lipat Pandan&#8221;. Bila atapnya dibuat bertingkat, disebut &#8220;Rumah Ampar labu&#8221; atau &#8220;Rumah Bertinggam&#8221; atau &#8220;Rumah Tebar Layar&#8221; atau &#8220;Rumah Bersayap&#8221;. Secara umum dalam ungkapan dikatakan:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Perabung lurus di tengah-tengah</em><br><em>Atap mencucur kiri kanan</em><br><em>Yang mengembang Lipat Kajang</em><br><em>Yang mencuram Lipat Pandan</em><br><em>Lipat dua sama baginya</em><br><em>Sama adil dengan timbangnya</em><br><em>Sama sukat dengan takarnya</em><br><em>Yang bertingkat Rumah Bertinggam</em><br><em>Berempang leher Rumah Bersayap</em><br><em>Bersusun-susun Rumah Ampar Labu</em><br><em>Tadahan angin atap layar</em><br><em>Tempat raja dengan daulatnya</em><br><em>Tempat datuk dengan undangannya</em><br><em>Tempat dubalang dengan kuasanya</em><br><em>Tempat alim berkitabullah</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Perabung lipat kajang ini ada sembilah sebutan dan masing-masing memiliki nilai filosopis, seperti yang terekam dalam ungkapan berikut ini:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Rumah Melayu Perabung Panjang</em><br><em>Banyak nama banyak gelarnya</em><br><em>Banyak sebutan diberikan orang</em><br><em>Pertama disebut Lipat Kajang</em><br><em>Kedua diimbau Lipat Pandan</em><br><em>Ketiga digelar Rumah Bertinggam</em><br><em>Keempat dinamakan Belah Bubung</em><br><em>Kelima disebut Ampar Labu</em><br><em>Keenam disebut Berempang Leher</em><br><em>Ketujuh disebut Perabung Melintang</em><br><em>Kedelapan disebut Perabung Panjang</em><br><em>Kesembilan bernama Bubung Melayu</em><br><em>Walau nama sebanyak itu</em><br><em>Tidak banyak ragam coraknya</em><br><em>Lain nama sama maknanya</em><br><em>Lain bentuk mengandung makna</em><br><em>Lain letak mengandung adat</em><br><em>Lain gaya ada maksudnya</em><br><em>Tanda tuah berkekalan</em><br><em>Tanda hidup mengandung adat</em><br><em>Tanda mati mengandung sifat</em><br><em>Tanda Melayu berkekalan</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ungkapan menyebut</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Terdiri rumah bubung Malayu</em><br><em>Belah bubung atap bertinggam</em><br><em>Bersayap layar berampar labu</em><br><em>Tanda cahaya naik ke muka</em><br><em>Tanda seri naik ke rumah</em><br><em>Tanda tahu adat lembaga</em><br><em>Tanda sesuai luar dalamnya</em><br><em>Tanda berangin membawa tuah</em><br><em>Tanda pasang membawa berkah</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ungkapan-ungkapan di atas menunjukkan dalam bangunan Rumah Melayu atau Rumah Belah Bubung ini terdapat lambang-lambang dan falsafah yang hakekatnya dikaitkan dengan sifat yang lurus, benar, adil, dan menjunjung tinggi musyawarah dan mufakat, kegotong-royongan, kesetiakawanan, kejujuran, dan sebagainya yang berpunca pada akal budi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">[<strong>Rujukan</strong>: H. Tenas Effendy dan Emmy Kadir, <em>Ragam Hias pada Rumah Melayu Riau</em>, Pekanbaru: Sebati Riau Art Gallery, 2003]</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/rumah-belah-bubung/">Rumah Belah Bubung</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/rumah-belah-bubung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masjid Raya Pusaka Kenegerian Baturijal</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/masjid-raya-pusaka-kenegerian-baturijal/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/masjid-raya-pusaka-kenegerian-baturijal/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2021 05:34:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=636</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masjid raya ini merupakan masjid tertua yang ada di kenegerian Baturijal. Masyarakat membangun masjid ini...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/masjid-raya-pusaka-kenegerian-baturijal/">Masjid Raya Pusaka Kenegerian Baturijal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Masjid raya ini merupakan masjid tertua yang ada di kenegerian Baturijal. Masyarakat membangun masjid ini sekitar 27 Agustus 1827 sejak masyarakat Baturijal berpindah dari Kototuo menuju Tebing Tinggi, Baturijal Hulu. Masjid ini dibangun atas kesepakatan bersama oleh masyarakat dan dikerjakan secara gotong royong.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdiri megah di tepi Sungai Inderagiri pada posisi S0 31.526 E101 56.298. Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan gaya Melayu klasik dan gaya Melayu purba&nbsp; yang indah dengan atap berbentuk limas.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="gmr-embed-responsive gmr-embed-responsive-16by9 gmr-video-responsive"><iframe title="Masjid Batu Rijal" width="680" height="383" src="https://www.youtube.com/embed/L7ErVI1S6m0?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Menara masjid yang cukup tinggi ini disangga oleh 4 tiang kokoh. Keempat tiang menandakan bahwa tiang sebelah barat dibangun oleh suku Kampung Besar, sebelah timur dibangun oleh masyarakat dari Baturijalhilir, sebelah selatan dibangun oleh suku Tiga Nenek, dan sebelah utara dibangun oleh suku Kampung Baru dan suku Kampung Kecik. Hal ini menandakan kekerabatan yang sangat erat pada masyarakat kenegerian Tiga Lorong, khasnya Baturijal sejak zaman dahulu kala.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam masjid ada juga terdapat tabuh yang sangat besar dan panjang. Diameternya mencapai satu meter dan panjangnya kira-kira 15 meter, sebuah tabuh terpanjang di Inderagiri. Dahulunya bunyi tabuh ini terdengar sampai berkilometer, hingga di negeri Baturijal Hilir. Tabuh ini juga bertujuan untuk memanggil atau membangunkan masyarakat Baturijal apabila tejadi kebakaran, gempa, mati lemas, atau bencana lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konon di bawah masjid ini terdapat tajau atau tempayan yang berisi emas. Kalau sempat melihat dan memukul tajau dengan kain besah maka tajau ini akan pecah dan emas tersebut akan berserakan serta bisa diambil. Konon peneliti dari Jepang sempat ingin membeli Masjid ini hanya untuk sekedar meneliti keberadaan tajau ini. Namun tindakan ini tidak disetujui oleh masyarakat kenegerian Baturijal.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Mesjid di tepi arus batang Kuantan yang berubah</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="alignleft size-medium is-resized"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="196" height="300" src="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Masjid-Baturijal2-196x300.jpg" alt="" class="wp-image-638" style="width:196px;height:300px" srcset="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Masjid-Baturijal2-196x300.jpg 196w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Masjid-Baturijal2-668x1024.jpg 668w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Masjid-Baturijal2-768x1178.jpg 768w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Masjid-Baturijal2-1002x1536.jpg 1002w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Masjid-Baturijal2.jpg 1200w" sizes="(max-width: 196px) 100vw, 196px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Masjid Raya Pusaka Kenegerian Baturijal di pinggir Batang Kuantan</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Arus Sungai Inderagiri Kuantan itu setiap hari, detik per detik mengikis tebing tinggi yang berbatu-batu, <em>kaghak </em>terjal. Meskipun setengah mili setiap hari tebing terkikis, berapa banyak kalau sudah berlalu selama sepekan, sebulan, setahun atau seabad. Hanya sekitar satu meter lagi, sudut bagian <em>selasa </em>Masjid Raya itu akan <em>terjuntai. </em>Menurut perhitungan, dalam sepuluh tahun, tebing itu tergerus runtuh berikut bagian dari masjid. Masyarakat berpikir keras bagaimana mencegah tebing tidak erosi, supaya masjid tua yang penuh sejarah, dapat diselamatkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya tebing tinggi dekat masjid itu relatif aman. <em>Pertama</em>, tanah tebingnya keras, <em>bakaghak &#8211; </em>tanah bercampur bebatuan. <em>Kedua</em>, aliran Batang Kuantan di depan masjid lurus. Tebing tinggi dekat masjid , itu jatuhnya di seberang <em>beting </em>Pulau Jambu. Sifat <em>beting </em>tidak melebar lagi, mengambil jatah tebing di seberangnya. Karena lurus, di situ dijadikan tempat pacu perahu. Karena lurus pula, terjangan arus air ke tebing tidak begitu kuat. Terjangan arus mulai dari Telang tepat di seberang pulau, sebelah hulu Pulau Jambu. Lanjutan arus berbelok menuju Teluk, sebelah hulu tebing tinggi. Itu sebabnya, terjadi sebuah teluk. Arus kemudian lurus dan baru membentur tebing dekat muara sungai Sebungkul. Akibatnya, tebing di seberang pulau dan di bencah, setiap tahun selalu runtuh ketika banjir. Sedangkan tebing tinggi aman. Ternyata orang tua-tua dahulu kala<em>, </em>sangat tepat memilih lokasi mendirikan masjid, tebingnya aman. Perhitungan mereka sangat jitu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sungai Inderagiri runtuh sudah biasa. Setiap banjir, pasti runtuh. Bahkan dalam setahun ada yang mencapai lima meter tebing runtuh. Jalan yang tadinya di tepi Batang Kuantan, sering pindah karena jalan itu sudah runtuh. Jangankan jalan, Istana Raja di Rengat tidak luput dari serangan tebing runtuh. Hanya tebing tinggi dekat masjid yang aman, agak lambat proses runtuhnya. Namun cepat atau lambat, menurut perhitungan, tebing itu pasti akan tergerus juga. Untung tebing tinggi itu berjenis <em>kaghak, </em>kalau tanah biasa apalagi berpasir, sudah lama masjid tercebur. Seperti di Seberang Pulau, <em>lebak lebua </em>tebing runtuh ketika banjir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti sungai-sungai yang lain, tidak ada yang lurus. Berbelok-belok seperti ular raksasa. Pemandangan seperti itu akan jelas kalau dilihat dari pesawat terbang. Begitu juga dengan Batang Kuantan. Batang Kuantan yang berbelok-belok dan berliku-liku itu, hampir bertemu kembali dekat Silunak. Terjadilah tanah genting. Jarak antara dua tebing, di tanah genting itu, kurang dari 100 meter. Timbul ide untuk mengamankan masjid dengan membuat terusan. Dengan menggali dan membuat parit. Parit sebagai jalan pintas air. Dengan mengalirkan air sebagian melalui parit itu otomatis akan mengurangi derasnya arus melalui kenegerian Baturijal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di luar perhitungan, bukan terjangan air ke tebing tinggi berkurang, lebih dari itu, habis sama sekali, tanpa arus. Galian parit yang semula kecil itu, dihantam air dengan debit yang sangat besar. Parit melebar, sama dengan Batang Kuantan itu sendiri. Tak ada yang mampu nenahan arus yang semakin besar. Aliran Batang Kuantan berpindah. Air yang mengalir berkilo-kilo meter itu, mendapatkan jalan pintas, melalui parit itu. Batang Kuantan yang melewati negeri Baturijal menjadi tenang, mirip sebuah danau. Benar, masjid selamat, sesuai dengan harapan, tetapi dampaknya sangat luas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terjadi perubahan situasi. Kalau dulu, minimal sekali sepekan ada motor mudik dengan tiga <em>belungkang, </em>atau hilir, sekarang sudah tidak ada lagi. <em>Cincu </em>motor tidak khawatir lagi mudik, karena tidak melewati kenegerian Baturijal. Tinggal kenangan. Anak-anak yang berenang dan <em>begayut </em>pada tali <em>belungkang </em>pun hanya tinggal cerita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah arus Batang Kuantan tidak lagi melalui Kenegerian Baturijal, Kuantan menjadi tenang. Lumpur banyak mengendap dan pendangkalan terjadi dengan cepat. Di Pulau Raman, mobil pun sudah dapat menyeberang tanpa melalui jembatan atau rakit. Pada musim kemarau dengan sedikit <em>menyensek </em>kain atau celana dapat menyeberang dengan berjalan kaki tanpa berbasah-basah. Terjadi suatu perubahan ekologi yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Selain dampak ekologis, juga terjadi dampak sosiologis. Wilayah Pulau Jambu, banyak ditinggalkan orang. Batang Kuantan khususnya bagi penduduk Baturijal, tidak lagi menjadi alat transportasi dan sumber kehidupan yang banyak menghasilkan ikan. Tidak ada lagi puluhan perahu yang menjala ketika patin mudik. Juga tidak ada lagi jua <em>mauno, </em>menggoda penduduk <em>menyeghakken jalo.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sedangkan dampak ekonomisnya belum pernah dihitung. Batang Kuantan tidak dapat lagi dijadikan sumber penghidupan. Jangankan ikan besar seperti patin, baung, tapah, juara, ikan lemak atau lampam, ikan-ikan kecil pun sudah banyak berkurang. Airnya, jangankan untuk diminum, untuk niandi saja, airnya keruh. Maklum airaya tidak mengalir lagi. Air hanya <em>berkunak-kunak </em>di situ saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, jelaslah peran Batang Kuantan bagi penduduk kenegerian Baturijal selama ini, sebagai sumber kehidupan yang berkaitan dengan kebutuhan ekonomis, sosiologis, spiritual dan seni budaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Batang Kuantan tinggal kenangan. Tidak ada lagi lagu dan pantun, air yang deras jernih mengalir sudah berubah menjadi tenang. Tadinya berkilauan karena sinar bulan purnama, menjadi kelam dan sirna. Tenang dan diam, seperti orang termenung mengenangkan nasibnya. Sejak Batang Kuantan menjadi tenang, kehidupan Pulau Jambu pun menjadi lesu, ditinggalkan penduduknya, menjadi sunyi, sepi. Hanya suara <em>beghiang </em>yang melengking nyaring, terdengar dari tempat hinggapnya, menempel di batang duku atau batang pinang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">[Sumber: Tarmizi Yusuf. 2010. <em>Baturijal. </em>Jakarta: La Tira]</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/masjid-raya-pusaka-kenegerian-baturijal/">Masjid Raya Pusaka Kenegerian Baturijal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/masjid-raya-pusaka-kenegerian-baturijal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tembo Tiga Lorong tinjauan kodikologis</title>
		<link>https://tigalorong.id/utama/tembo-tiga-lorong-tinjauan-kodikologis/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/utama/tembo-tiga-lorong-tinjauan-kodikologis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Dec 2021 16:30:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tembo]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=520</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tembo adalah sejarah adat dan asal-usul yang diyakini kebenarannya. Tembo Tiga Lorong dibacakan dalam setahun...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/utama/tembo-tiga-lorong-tinjauan-kodikologis/">Tembo Tiga Lorong tinjauan kodikologis</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Tembo adalah sejarah adat dan asal-usul yang diyakini kebenarannya. Tembo Tiga Lorong dibacakan dalam setahun sekali dihadapan Orang Negeri. Biasanya, pembacaan Tambo diadakan pada hari-hari keagamaan seperti Isra’ Mi’raj atau Maulid Nabi. Orang Negeri adalah Orang yang berada di wilayah Tiga Lorong. Pembaca Tambo disebut Ketua Tambo, Ahli Tambo atau Pengetahu Tambo. Manuskrip tambo ditulis oleh Muhammad Thaib menggunakan aksara Jawi (Arab Melayu) pada tanggal 3 Februari 1917.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Manuskrip <em>Tembo</em> Tiga Lorong ditulis oleh Mohammad Thaib menggunakan aksara Jawi atauArab Melayu pada tanggal 3 Februari 1917. Dalam naskah manuskrip Tiga Lorong tidak ada tertulis kata <em>tembo</em> menggunakan aksara jawi (Arab Melayu), kecuali pada sampul naskah manuskrip Syafi’i Thaib tahun 1971, tertulis kata &#8216;tambo&#8217; dalam aksara latin. Naskah asli disimpan oleh Syafei Thaib, sekarang disimpan ahli warisnya dalam kondisi masih terpelihara baik. Naskah yang digunakan untuk menulis buku ini berasal dari <em>photo copy</em>, diperoleh dari Isjoni Ishak. Halaman pertama naskah ditandatangani langsung oleh Mohammad Thaib. Halaman isi didominasi tetang kisah tiga orang bersaudara yang datang dari Jambi, yang berhasil menjalankan titah tugas dari Sultan Inderagiri untuk membunuh Siaja Dubalang. Lembar halaman 29 dan 30 terdapat risalah rapat di kantor Sutan Muda Peranap, antara penghulu-penghulu Tiga Lorong dengan Engku Raja Sulung (menteri jabatan Sutan Muda), penghulu Peranap, penghulu Gumanti, dan menti-menti lainnya. Diterakan pula tanggal pelaksanaan rapat 16 April 1918. Keseluruhan naskah manuskrip <em>tembo</em> Tiga Lorong terdiri atas 37 lembar, terdiri atas 5 kategori, antara lain:</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="alignleft size-medium"><img decoding="async" width="300" height="175" src="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/tembo-300x175.jpg" alt="" class="wp-image-522" srcset="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/tembo-300x175.jpg 300w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/tembo-1024x596.jpg 1024w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/tembo-768x447.jpg 768w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/tembo-820x480.jpg 820w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/tembo.jpg 1200w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption><strong>Gambar 1</strong>. Tambo Tiga Lorong</figcaption></figure></div>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>halaman judul atau kulit naskah sengaja ditambah oleh Syafi’i Thaib pada tahun 1971</li><li>satu halaman kosong bertempel secarik kertas bertulisan latin dan aksara kanji Jepang, penanda folder arsip masa pendudukan Jepang di Inderagiri</li><li>lembar surat keterangan dan pernyataan; (1) lembar pernyataan Sutan Muda Inderagiri, No. 47, 10 September 1926, beraksara latin. Isinya mengakui keabsahan pengangkatan Mohammad Thaib sebagai penghulu Baturijal Hilir. Surat pernyataan Sutan Muda ini diterbitkan berdasarkan surat Mohammad Thaib No. 126, 27 Juli 1926. Ditandatangani sekaligus berbubuh cap assisten residen wedana, cap pejabat Sutan Muda Inderagiri, dan cap Soetan Muda Inderagiri, (2) surat pernyataan bertulisan Jawi, ditandatangani sendiri oleh Mohammad Thaib tertanggal 3 Februari 1917. Berisi keterangan keabsahan riwayat Tiga Lorong, dihimpun dari pengulu Pematang bernama Raja Janggut (Danang Lelo), sekaligus diyakini keabsahannya</li><li>halaman 01 &#8211; 20 berisi riwayat orang tiga beradik, dimulai sejak berangkat dari Batujangko, hingga memperoleh kurnia pangkat dan tanah Tiga Lorong</li><li>halaman 21 &#8211; 33 berisikan persoalan batas tanah dengan Peranap, dan risalah rapat soal pembangunan jalan raya Taluk-Rengat.</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/utama/tembo-tiga-lorong-tinjauan-kodikologis/">Tembo Tiga Lorong tinjauan kodikologis</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/utama/tembo-tiga-lorong-tinjauan-kodikologis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum dan Aturan Adat</title>
		<link>https://tigalorong.id/utama/hukum-dan-aturan-adat/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/utama/hukum-dan-aturan-adat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Dec 2021 15:33:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[hukum adat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=514</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hukum dan Aturan Adat Kawasan masyarakat adat Tiga Lorong memiliki hukum dan aturan adat berdiri...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/utama/hukum-dan-aturan-adat/">Hukum dan Aturan Adat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Hukum dan Aturan Adat</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kawasan masyarakat adat Tiga Lorong memiliki hukum dan aturan adat berdiri sendiri. Hukum diatur dan ditetapkan <em>sepanjang adat.</em>Hukum Adat ditegakkan dari dulu hingga sekarang, sebagai contoh: <em>salah berhutang, gawal manyembah, dibayarsepanjang adat</em>. Dapat dilihat dari hukum dan aturanberikut ini, yakni a) <em>adat silang sangketo baumah tanggo; </em>b) <em>adat wagheh; </em>c) <em>adat nikah-kawin; </em>d) <em>adat mangangkat anak; </em>e) <em>adat babuat seghong; </em>f) <em>adat silang sangketo;</em>g) <em>hukum sewo-manyewo dan bapaduo; </em>h) <em>adat sewo umah; </em>i) <em>adat sewo sampan-paghawu;</em>j) <em>adat silih-manyileh duit; </em>k) <em>adat bapaduo getah dan nio; </em>l) <em>adat mambagi ghetto dan ceghai;</em>m) <em>adat menegakken umah; </em>n) <em>adat mangadang daghian.</em></p>



<ol class="wp-block-list" type="a"><li>Adat Sewa Sampan-Perahu. Dalam sewa-menyewa sampan biasanya melihat keadaan dengan hanya berupa kesepakatan antara pemilik dan si peminjam.Sampan harus dijaga dan dirawat dengan baik dan dikembalikan sesuai keadaan sebelum dipinjam dan diletakkan ketempat. Imbalan jasa yang sering diberikan ialah dengan memberikan sebungkus rokok atau senilai dengan sebungkus rokok itu.<br></li><li>Adat Bepaduo getah dan kelapa, sistem bagi hasil tanaman (karet dan kelapa).Sistem bagi hasil tanaman karet/kelapa antara pemilik dan pekerja adalah sama besar pembagian hasilnya, dan pengeluaran juga ditanggung berdua antara pemilik dan pekerjanya,  di kenegerian Baturijal sistem ini dikenal dg istilah ”<em>bapaduo”</em>.Apabila seseorang ingin mengelola kebun orang lain yang mempunyai lahan luas dan kosong maka pembagiannya juga seimbang. Jika kebun tersebut akan ditanami lebih kurang 1000 batang karet maka si pemilik lahan berhak atas separuh dari jumlah keseluruhan pohon karet yaitu 500 batang dan sisanya menjadi kepunyaan si pengelola.<br></li><li>Adat silit-menyilih duit (Pinjam-meminjam uang). Dasarnya sesuai dengan hukum Islam tanpa bunga. Ketika pinjam-meminjam uang antara dua orang atau lebih maka hukum yang berlaku bagi pihak-pihak yang terlibat adalah hubungan bersifat kekeluargaan di mana tidak ada ditentukan bunga atau imbalan saat pengembaliannya. Besar nilai uang yang dipinjam dengan uang yang akan dikembalikan adalah tetap. Jika terjadi keterlambatan pengembalian juga tidak ada sanksi ataupun denda yang dijatuhkan.<em>Hutang dianggap bukan hanya beban material, tetapi lebih lagi sebagai beban moral. </em>Sebab itu hutang bersifat negatif, jika terpaksa juga berhutang, maka hendaklah selesai semasa hidup, jangan mati dalam keadaan berhutang.<br></li><li>Adat silang sengketa aniaya. Adat silang sengketa berkelahi, aturan jika terjadi perkelahian ataupun penganiayaan maka pihak yang bersalah akan dikenakan <em>utang tenganai</em>. Bentuk dari perlakuan akan dinilai untuk mengetahui besar kecil ganti rugi yang akan diberikan. Jika <em>bintul</em> (bengkak) maka tidak dikenakan sanksi ataupun denda dapat hanya diobati dan upaya damai saja. Bila terkena <em>bantai</em> (daging) seperti luka ringan dan berat maka akan diberi sanksi. Sanksi yang diberikan tergantung dari letak luka, jika masih dapat ditutupi baik dengan topi atau pakaian lainnya maka sanksi yang diberikan dengan member kain atau uang perobatan, bila luka tersebut tidak dapat ditutupi maka pihak yang bersalah akan diberi sanksi denda dengan membayar seekor kambing, beras segantang, dan kelapa setali.<br></li><li>Adat Silang Sangketa Berumah Tangga. Jika terjadi suatu konflik pertengkaran antara suami-istridalamsatu keluarga, maka penyelesaiannya secara kekeluargaan untuk mendamaikannya. Perundingan dilaksanakan sepenuhnya oleh perwakilan pihak yang berperkara melalui tenganai (kepala suku masing-masing) Para Tenganai ialah wakil dari pihak suami dan istri yang akan berkumpul danduduk bersama utk merundingkan jalan keluar.Usaha damai dilaksanakan dg memperhatikan besar-kecilnya masalah. Bila terjadi kesalahan yang bersifat kesengajaan maka akan timbul <em>utang tenganai</em> di mana pihak yang dinyatakan dan terbukti bersalah di hukum dgn membayar denda atau memberikan sesuatu (pakaian, beras, kelapa atau hewan ternak). Jika kesalahandinilai berat maka pihak yang salah akan dihukum dg memberikan <em>sekabung pakaian atau seekor kambing</em> sebagai pernyataan permohonan untuk berdamai. Sedangkan terhadap kesalahan yang kecil, maka para tenganai dapat dengan hanya memberikan nasehat kepada kedua belah pihak agar berdamai. Apabilaterjadi kesalahan berulang2(gelang batang) dan melampaui batas, maka pihak yang bersalah harus pergi darirumahnyadan meninggalkan seluruh harta benda dg hanya membawa pakaian yang menempel dibadannya saja. Secara hirarkis, penyelesaian konflik rumah tangga diawali oleh <em>tenganai rumah</em> jika konflik tak terselesaikan oleh tenganai rumah akan dilanjutkan kepada tenganai <em>bawah perut</em>, jika tenganai bawah perut juga tak mampu maka dibawa kepada <em>tenganai suku</em>dan kemudian <em>datuk menti</em>sbg puncak penyelesaian konflik tsb.<br></li><li>Hukum adat berbuat serong (selingkuh). Aturan adat/hukuman terhadap perbuatan asusila. Jika seorang laki-laki yang telah berkeluarga kedapatan dan terbukti melakukan zina dengan Istri orang lain maka ia akan di arak beramai2 oleh penduduk kampung sambil memukul tempurung. Laki-laki tersebut akan didenda dg kambing seekor, kain sekayu,beras segantang, kelapa, bumbu lainnya.Apabila istri yang berselingkuh tersebut langsung diceraikan oleh suami sahnya maka ia akan turun dgn <em>pakaian sehelai dipinggang </em>(pakaian dibadan) yang maksudnya perempuan tersebut harus meninggalkan rumahnya hanya dgn pakaian yang ada di badan saja. Ucapan cerai diucapkan dengan kata “engkau aku talak”dan harus disaksikan minimal 2 orang saksi yang telah dewasa.Jika sepasang muda-mudi kedapatan dan terbukti melakukan hubungan suami istri di luar nikah maka muda-mudi tsb dinikahkan.Dalam hal ini Datuk Menti berhak untuk menjatuhkan hukuman tsb. Apabila terdapat unsur pemaksaan atau pemerkosaan dan di satu pihak tidak mengakui perbuatannya maka si terduga akan disumpah dengan Al-Quran dengan mengucapkan <em>Ngan bajanji kalu ngan basalah mako ngan akan dikutuk kitab al-Qur’an sabanyak 30 jus” </em>(Saya berjanji kalau saya bersalah maka saya akan dikutuk kitab al-Qur’an sebanyak 30 juz).<br></li><li>Adat silang sengketa tanah. Aturan yang apabila terjadi sengketa kepemilikan sebidang tanah antara 2 pihak atau lebih maka jalan penyelesaiannyadgn menanyakan asal keberadaan tanah tsb.kepada pihak-pihak yang mengklaim memiliki tanah tersebut dan juga menentukan kepastian kepemilikan tanah tsb pada tetangga atau renteng tanah itu berada.Apabila upaya tsb.tidak menemukan solusi ataupun kesepakatan bersama maka akan dilanjutkan pada tenganai kedua belah pihak untuk memusyawarahkan permasalahan tsb. Jika pada tahapan peyelesaian pada tenganai juga mengalami kegagalan maka datuk menti akan turun langsung untuk memutuskan jalan keluarnya.<br></li><li>Adat mengadang daghian (Ada menunggu durian jatuh). Durian khas Melayu Riau. Durian menjadi milik kolektif. Kalau durian larangan, sewaktugugur tidak boleh diambilorang lain selain pemiliknya. Ketika durian gugur, siapa yang pertama memegang tampuknya lebih berhak untuk memiliki durian daripada yang memegang badannya.Ketika durian gugur dan menimpa orang, maka orang tersebutlah yang berhak atas durian tersebut walaupun ada si pemiliknya pada saat itu. Jika durian larangan:Merupakan durian yang dilarang oleh yang empunya batang disebabkan oleh hal-hal tertentu misalnya akan dijual keesokan harinya pada <em>pekan Setu </em>(pasar Peranap) atau Pasar Cerenti untuk membeli beras.Atau kemungkinan ada saudaranya yang datang dan ingin merasakan durian miliknya. Meski demikian jarang ada durian yang dilarang, selain hal-hal yang penting dan darurat.Masyarakatpercaya, jika duriannya dilarang diambil orang lain, maka durian tersebut tidak akan mau berbuah lagi pada musim berikutnya.<br></li><li>Adat membagi warisan. Pembagian berdasarkan musyawarah.Dipimpin ninik-mamak atau ngku/paman. Jika <em>ninik mamak </em>atau<em> engku</em> tidak ada maka akan digantikan oleh sepupu dari ibu.Anggota keluargaberkumpul bersama untuk mendengarkan <em>ninik mamak atau engku</em> menyebutkan hak dan bagian yang akan diterima masing-masing anggota keluarga. Bagian/warisan yang akan dibagi biasanya tidak sama besar, para ninik mamak menentukan bagian warisan dgn memperhatikan keadaan atau taraf hidup dari si pewaris. Apabila si pewaris dinilai sudah berkecukupan maka akan mendapatkan bagian yang lebih kecil dari saudaranya yang lebih membutuhkan bantuan. Besarnya ukuran yang ditetapkan adalah anak laki-laki mendapat 3/8 dari total keseluruhan harta peninggalan, anak perempuan setengah dari bagian anak laki-lakidan sisanya untuk ibu/bapanya yang masih hidup. Wasiat tentang pembagian warisan biasanya ditinggalkan dengan tulisan maupun lisan. Jangka waktu pembagian warisan paling cepat 30 hari dari waktu meninggalnya pewaris.<br></li><li>Adat membagi harta dan cerai. Aturan ihwal harta gono-gini dan aturan Perceraian.Jika pasangan tdk mempunyai anak maka harta yang dimiliki dibagi 2secara adil dikenal dgn <em>“seorang berbagi harta berbagi”. </em>Jika dalam keluarga tersebut memiliki keturunan/anak maka rumah akan ditinggalkan pada anak dan menjadi milik anak tsb kemudian harta yang lainnya akan dibagi 2 secara seimbang.</li></ol>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/utama/hukum-dan-aturan-adat/">Hukum dan Aturan Adat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/utama/hukum-dan-aturan-adat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bahasa Tiga Lorong</title>
		<link>https://tigalorong.id/bahasa/bahasa-tiga-lorong/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/bahasa/bahasa-tiga-lorong/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Dec 2021 15:00:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=509</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masyarakat Tiga Lorong memiliki entitas sendiri dan karenanya memiliki bahasa tersendiri pula, yang termasuk dalam...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/bahasa/bahasa-tiga-lorong/">Bahasa Tiga Lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Masyarakat Tiga Lorong memiliki entitas sendiri dan karenanya memiliki bahasa tersendiri pula, yang termasuk dalam salah satu rumpun Melayu Riau. Ada dua dialek khas Tiga Lorong, yakni dialek Baturijal dan dialek Pematang Selunak. Dialek Baturijal dipakai oleh masyarakat Baturijal Barat, Baturijal Hulu, dan Baturijal Hilir.Dialek Pematang/Selunak lebih berdekatan dengan Peranap, Gumanti, dan Semelinang Darat dan Semelinang Tebing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dialek Tiga Lorong dianggap sebagai salah satu yang unik, terutama bahasa Baturijal yang masih dipelihara secara turun-temurun. Keunikannya menjadi ciri khas dan kebanggaan bagi masyarakat Tiga Lorong. Dalam percakapan sehari-hari, misalnya lebih kentara pemakaian kata ganti orang aku dengan kata <em>ngan</em>, kamu (laki-laki) dengan kata <em>kan</em>, kamu (perempuan) dengan kata <em>kau:, </em>dan kalian dengan kata klen, dan seterusnya. Dan pemakaian huruf [r]dengan [R]atau ghain. Biasanya orang-orang lain akan menirukan bahasa Tiga Lorong dengan meniru ungkapan yang banyak menggunakan <em>ghain</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahasa Peranap dan Pematang Selunak lebih berdekatan karena pengaruh yang kentara sekali dengan para pedagang dari hulu Kuantan. Sedangkan Bahasa Baturijal lebih mengarah ke wilayah budaya Jambi atau Kerajaan Melayu kuno Damasraya terutama di kampung-kampung di Kabupaten Muaro Bungo, seperti Lubuk Landai, Tanah Tumbuh dll. dan di beberapa kampung di Tebo Ulu Provinsi Jambi. Hal ini dapat dipahami karena sebagian wilayah Tiga Lorong memang secara administratif politik termasuk kepada provinsi Jambi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai etnik yang terbuka dialek Baturijal juga dipengaruhi oleh unsur-unsur asing seperti Bahasa Inggeris yang digunakan oleh orang-orang tua dulu, seperti; towala, berus, wayar, bisikal, motoka, stokar, seluh, ayan, injin, bisin dan lain-lainnya. Kata seperti <em>towel, brush, bycicle, motor car, stop car, slow, iron, engine </em>dan <em>basin </em>adalah dari bahasa Inggeris yang berarti handuk, sikat, kawat, sepeda, mobil, kenek, lambat atau pelan, besi dan baskom. Kalau orang Baturijal menyebut <em>pinggan ayan, </em>berarti piring kaleng menurut umum &#8211; bukan piring besi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian besar, istilah yang digunakan orang Baturijal, sama dengan istilah bahasa Melayu Riau. Kalau orang Melayu Riau menyebut /a/ pada akhir kata dengan bunyi /e/, maka orang Baturijal menyebutnya dengan bunyi /o/. Misalnya <em>siapa</em> dalam bahasa Indonesia, orang Melayu mengucapkannya dengan siape, sedangkan orang Baturijal <em>siapo. </em>Dalam bahasa Indonesia berapa, Melayu <em>beRape</em>, maka Baturijal menjadi <em>baRapo.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bahasa Indonesia kata berakhiran /-ar/, diucapkan orang Melayu dengan menghilangkan huruf /r/. Misalnya <em>lapar</em>, menjadi <em>lapa</em> sama dengan yang diucapkan orang Baturijal seperti pasar, tikar, selasar, takar, tukar menjadi pasa, tika, selasa, taka, dan tuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbedaan terdapat pada kata-kata yang berakhiran /as/ dan /at/. Orang Melayu dan orang Baturijal tidak mengadakan perubahan, sedangkan orang Minangkabau menjadi /eh/ dan /ek/. Misalnya lepas dan dapat, orang Melayu mengucapkannya tidak berubah yaitu lepas atau <em>lepaih</em> dan dapat. Sedangkan orang Minangkabau, fonem <em>lepas</em> menjadi <em>lapeh, </em>dapat menjadi <em>dapek.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara topografi Baturijal tampak lagi, bahasa orang Peranap di sebelah hilir dan Cerenti di sebelah hulu, hampir sama dialeknya yakni mengucapkan kata yang huruf akhirnya a dengan bunyi o Perbedaan hanya pada huruf /e/ pada suku pertama. Kalau orang Minangkanau mengucapkannya dengan /a/ sedangkan orang Peranap dan Cerenti dengan /o/. Kata <em>dekat</em> dalam bahasa Melayu, orang Peranap dan Cerenti menyebutnya dengan <em>dokek, </em>sedangkan orang Baturijal menjadi <em>dekat.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa kata-kata, belum diketahui apakah ada kesamaannya dengan di tempat lain seperti; <em>daRoko, saRanu, t</em><em>əko, pəteh, mengaRit, Rengam, taniso, tempong, saRah, sepai, tajum, leak, kencong, kicup, leReng, cameh, sənting, təging, kinyam, diRuih, lepot </em>dan sebagainya. Maksud kata tersebut adalah, dahulu kala, dulu, baru saja, sangat sulit, bergerak sedikit dan berisik, tak sempat, buah berlobang digigit binatang, peti, sapu, runcing, becek, tidak lurus, menyempit, tanah miring, hampir, kunci, keras, cicip, siram, tidak gesit dan sebagainya. Kata-kata ini akan lebih jelas sesuai dengan konteksnya. Seperti contoh: <em>&#8220;ghembut itu dak taniso nek keluang.&#8221; </em>Rambutan itu tidak sempat dipetik oleh pemiliknya, sudah habis dimakan kalong.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/bahasa/bahasa-tiga-lorong/">Bahasa Tiga Lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/bahasa/bahasa-tiga-lorong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tradisi Bersunat</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bersunat/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bersunat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2021 06:24:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=477</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bersunat atau khitan disebut juga dengan sunat rasul adalah prosesi memotong kulit ujung zakar laki-laki....</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bersunat/">Tradisi Bersunat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Bersunat atau khitan disebut juga dengan sunat rasul adalah prosesi memotong kulit ujung zakar laki-laki. Biasanya dilakukan ketika masih kanak-kanak. Dari sudut adat istiadat, bersunat merupakan upacara peralihan dari keadaan kotor masa bayi atau kanak-kanak kepada keadaan suci selepas bersunat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam adat istiadat Baturijal anak laki-laki yang akan disunat terlebih dahulu direndam di dalam sungai pagi-pagi. Lama perendaman tersebut adalah sampai anak tersebut <em>kecut</em> atau menggigil kedinginan. Tujuan dari merendam tersebut adalah agar kulit anak terseabut lembut dan tidak terasa sakit ketika disunat. Sementara <em>mudin</em> menyiapkan segala peralatnya, seperti: pisau, penjepit, pembalut, obat dan sebagainya. Batang pisang diletakkan di tempat berlangsungnya upacara sebagai tempat duduk. Beberapa orang pembantu <em>mudin</em> telah bersiap untuk membantu memegang anak yang akan disunat. Setelah selesai berendam anak tersebut diangkat, lalu didudukkan di atas batang pisang yang telah disediakan. Pembantu-pembantu <em>mudin</em> membantu memegangi anak yang akan disunat. Kepalanya ditegakkan ke atas agar ia tidak dapat melihat apa yang dikerjakan oleh <em>mudin</em>. Kemudian <em>mudin</em> mengulur dan menarik kulub anak-anak memanjang dan menjepit kulit itu melebihi kepala kemaluan untuk melindungi kepala kemaluan. Satu lagi sepit  dikenakan diujung kulit yang berlebihan. Kemudian anak tersebut diangkat ke tempat tidur dan <em>punco</em> kain sarungnya digantung supaya tidak mengenai kemaluannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah itu, diadakan acara <em>bajikea</em> atau zikir bardah. <em>Bajikea</em> ini dilakukan dari malam hari sampai menjelang subuh. Ini dilakukan agar dapat menjaga anak yang bersunat tadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biasanya pelaksanaan upacara bersunat itu dapat dilaksanakan denagan menggabungkan dengan khatam Alqur’an. Sebab sebagai seorang muslim, anak harus khatam membaca Al Qur’an di bawah bimbingan seorang guru mengaji. Orang tua merasa megah dan kehormatannya tinggi apabila ia melaksanakan upacara bersunat rasul anaknya bersamaan dengan berkhatam Al Qur’an.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama luka bersunatnya belum sembuh, anak yang bersunat itu tidak dibenarkan minum air banyak-banyak, agar lukanya tidak sampai gelembung. Dan menurut pantang larang masyarakat Baturijal selama anak disunat dan lukanya belum sembuh, anak tersebut harus memakai alas kaki bila keluar rumah karena jika terpijak kotoran ayam maka lukanya akan lama sembuh. Anak tersebut dilarang memegang tangga rumah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara simbolik, upacara bersunat rasul menandai peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa dan sudah boleh memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bersunat/">Tradisi Bersunat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bersunat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Beghaghak (Berarak)</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/beghagha-berarak/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/beghagha-berarak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2021 06:22:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=471</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tradisi Khas Tiga Lorong Upacara adat MKH Tiga Lorong. Disebut dengan prosesi arak-arakan mengantar atau...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/beghagha-berarak/">Beghaghak (Berarak)</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tradisi Khas Tiga Lorong</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Upacara adat MKH Tiga Lorong. Disebut dengan prosesi arak-arakan mengantar atau menjemput tabak ke rumah anak panca (anak dari adik beradik yang laki-laki atau mak bako (saudara perempuan dari bapak). Di kenegerian Baturijal ada dua bentuk berarak, yaitu berarak <em>manganta tabak</em> dan berarak <em>manyeput tabak</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Beghaghak </em></strong><strong><em>Manganta tabak</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Upacara mengantar tabak oleh <em>mak bako</em> ke rumah <em>anak panca</em> yang sedang melaksanakan perhelatan sunat rasul atau nikah kawin yang diiringi <em>jike berdah</em>. Tabak diantar dengan oleh seperangkat iring-iringan. Sebelum upacara manganta tabak dilakukan, terlebih dahulu dilaksanakan <em>jikea berdah</em> dan makan <em>kacindul umo</em> bersama.Sementara itu, di rumah anak panca juga disediakan pula kolak kacang atau kolak pisang untuk dimakan bersama pengunjung yang datang.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="alignleft size-medium"><img loading="lazy" decoding="async" width="300" height="188" src="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Berarak-300x188.jpg" alt="" class="wp-image-473" srcset="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Berarak-300x188.jpg 300w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Berarak-1024x642.jpg 1024w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Berarak-768x481.jpg 768w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/Berarak.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption>Beghaghak</figcaption></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Beghaghak</em></strong><strong><em> Manyeput tabak</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Upacara adat menjemput tabak ke rumah <em>mak bako</em> oleh <em>anak panca</em> yang sedang melakukan sunat rasulatau nikah kawin. Tabak dalam hal ini dijemput oleh seperangkat iring-iringan.Manyeput tabak juga dilakukan bagi anak murid yang khatam kaji. Seperti halnya <em>manganta tabak </em>pada<em> manyeput tabak</em> juga diiringi oleh <em>jikea berdah</em>danrombongan lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baik <em>manganta tabak</em> maupun <em>manyeput tabak</em> mempunyai urutan iring-iringan, seperti berikut ini:</p>



<ul class="wp-block-list"><li>Iringan&nbsp; pertama adalah anak yang mengangkat&nbsp; kayu tanak sekebat, nio bakulit satali, dan sekumpulan segagang sirih, setandan pinang, sesisir pisang.Kayu sekebat merupakan simbol kemandirian.</li><li>Iringan&nbsp; kedua ninik mamak, mak dan pak bako, orang adat, dan orang syarak.</li><li>Iringan&nbsp; ketiga yaitu pengantin atau anak yang bersunat rasul.</li><li>Iringan&nbsp; keempat arak-arakan&nbsp; tabak, didahului oleh tabak sirih sebagai pembuka jalan diikuti oleh tabak-tabak lainnya. Biasanya jumlah tabak tergantung dari jumlah mak bakonya. Ada kalanya satu&nbsp; mak bako memberi lebih dari satu tabak. Jenis-jenis tabak&nbsp; antara lain tabak nasi manis, tabak ghasidah, dan tabak kue bolu bakar.</li><li>Iringan kelima rombongan <em>jikea</em> berdah.</li><li>Iringan terakhir ialah para jemputan.</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Membantai tabak</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Membongkar tabak untuk dibagi-bagikan disebut <em>membantai tabak</em>.Orang yang mendapat bagian tabak ialah anak zikir, orang adat, orang syarak, mak bako dan pak bako,&nbsp; ninik mamak, dan jemputan lainnya.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/beghagha-berarak/">Beghaghak (Berarak)</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/beghagha-berarak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Silat</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/silat/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/silat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2021 06:07:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=461</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masyarakat Hukum Adat Tiga Lorong sudah memiliki seni bela diri mulai dari nenek moyang mereka...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/silat/">Silat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Masyarakat Hukum Adat Tiga Lorong sudah memiliki seni bela diri mulai dari nenek moyang mereka sejak dahulu kala. Tercatat dalam Tembo Tiga Lorong ketika Tiga Beradik pendekar utusan dari Inderagiri menang tanding melawan Ajo Dubalang dari Pagaruyung. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Seni bela diri asli Tiga Lorong dilengkapi dengan unsur-unsur seni dan tatasusila adat khas Tiga Lorong. Dari segi estetika, pencak silat memadukan gerakan indah dan lemah lembut, namun mengandung kekuatan bahkan kekuatan magis. Teknik silat seperti tercatat dalam Tembo itu kemudian berkembang dalam beragam jenis. Sebagian besar bersifat ringan, cepat, dan mengecoh lawan ketika menyerang. Silat membela diri lebih bersifat menghindar mengelak pertikaian. Ketika diri tak dapat lagi mengelak ada juga jurus-jurus untuk menyerang lawan. Silat juga dikembangkan dengan memakai senjata seperti keris, pisau, dan lembing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain sebagai seni beladiri, silat juga dikembangkan sebagai kesenian yang ditampilkan untuk menyambut pengantin, penabalan datuk-datuk, perayaan hari besar Islam dan upacara adat lainnya. Silat permainan atau silat laman diiringi musik gendang, celempong, dua buah gong (satu suara tinggi satu suara rendah), dua buah gendang panjang; Permainan celempong atau gendang ada juga dimainkan oleh wanita sedangkan untuk musik gong dimainkan oleh laki-laki dan penyanyinya juga laki-laki. Silat tersebar begitu meluas di alam Melayu dan diamalkan oleh berbagai-bagai rumpun Melayu. Terkenal dengan berbagai panggilan dan terdiri dari berbagai genis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Silat Sembah</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Inderagiri hingga Tiga Lorong dikenal dengan silat sembah yang merupakan rangkaian dari adat perkawinan. Pertunjukkan dua orang laki-laki menampilkan unsur seni gerak silat sembah, diiringi oleh musik gong, gendang tingkah. Silat Sembah ditampilkan pada saat menyambut kedatangan arakan pengantin laki-laki, arakan <em>ba</em><em>sunat </em><em>r</em><em>asul</em> dan juga menyambut tamu, orang-orang besar negeri yang datang ke Indragiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara silat yang sempat tercatat adalah Silat Pangean. Disebut demikian karena berasal dari Pangean, Rantau Kuantan. Awal kisah berkembangnya Silat ini di Tiga Lorong bermula ketika pemuda<em>Jarib</em><em> </em>dan ayahnya<em>,</em> yang merupakan tokoh terkemuka masyarakat Baturijal bermastautin di Semenanjung Malaya. Pada suatu saat mereka berjumpa dengan Haji Somad yang merupakan seorang guru silat terkenal di Kuala Lumpur. Saat itu balatentara Malaya menyiapkan pasukan Melayu yang tangguh menghadapi balatentara Inggris dan Jepun. Jepun berpura-pura menjanjikan akan membantu pasukan Melayu, tetapi hanya cerita belaka. <em>Jarib</em> masih muda belia dan siap sedia berjuang ikut membebaskan Malaya dari penjajahan asing seperti Inggris dan Jepun. Perang tanding secara terbuka belum berlangsung, Jarib dan kawannya sudah menyiapkan diri. Jarib dan ayahnya merasa Malaya sudah aman, mereka pun pulang ke kampung halamannya Baturijal. Mereka pun kemudian mengembangkan ilmu silat ini di Pangean, kemudian mereka menamakan silat mereka ini dengan Silat Pangean.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Kampung halamannya, Jarib mendirikan lapangan silat di Danau. Tercatatlah murid <em>Pak Jarib</em> awalnya berjumlah 30 orang. Murid-murid ini diajar oleh induk berempat. Kemudian disebutlah nama induk berempat, yakni Hanafi, Kafli, Simandundung, dan Muhammad Noer, dengan pak Jarib sebagai guru besarnya. Pada 14 juni 1963 <em>Jarib </em>wafat. Tugas perguruan diteruskan oleh putranya <em>Muhammad Noer</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dahulunya Laman silat ini banyak bertebaran di kenegerian Baturijal. Di awal kemerdekaan terdapat banyak <em>laman </em>silat, di antaranya:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Laman Muhamad Nur di Kampung Danau</li><li>Laman Ismail di Kampung Cempedak</li><li>Laman Amirullah di Tanjung Rasau</li><li>Laman Datuk tongka di Pulau Jambu</li><li>Laman Haji salam di Gaung</li><li>Laman Ma’arif di Batuaceh</li><li>Laman Dighun di Tanjung Rasau</li><li>Laman Yusuf di Sibungkul (Baturijal Hilir)</li><li>Laman Harmaini atau Tan Kiting di Pulaupadang</li><li>Laman Haji Syafi’i di kampong Cempedak</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Silat Tiga Lorong ini menggunakan ilmu batin yang bertujuan untuk menjalin silaturahmi. Silat ini tidak boleh digunakan sembarangan, kecuali jika sangat-sangat dibutuhkan, misalnya untuk membela diri, ketika sang pendekar berada dalam keadaan terpojok atau terdesak. Untuk menjadi murid dalam silat ini, harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu dengan menyerahkan 4 macam benda berikut kepada sang guru:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Sebuah limau, limau yang dimaksud adalah jenis limau <em>mato k</em><em>aghe</em><em>bau </em>atau limau mantimun<em>.</em></li><li>Sekabung kain putih.</li><li>Seekor ayam kampong untuk disembelih dan akan dimakan bersama.</li><li>Sebuah cincin besi. Cincin tidak boleh diganti dengan cincin jenis lain, misalnya cincin emas, intan atau berlian sekalipun. Seandainya sang calon murid tidak bisa menemukan jenis cincin ini, maka sang murid boleh menggunakan cincin yang dimilki oleh sang guru dengan cara meminjam, dan sebagai simbol mereka menggantinya dengan uang seikhlasnya. Uang seikhlasnya itu karena cincin besi milik sang guru itu tidak dapat dinilai harganya.</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Jika persyaratan yang tersebut di atas telah terpenuhi maka sudah sah lah si pemohon menjadi murid dari keguruan silat ini. Tetapi, terkadang beberapa calon murid ada yang menambahkan selain empat persyaratan di atas, seperti beras, kain, uang, dan bahan makanan lainnya. Barang-barang ini bukanlah sebagai persyaratan, melainkan hanya sebagai sedekah untuk menghormati seorang guru. Dalam silat ini juga terdapat “undang-undang”, di antaranya:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Susunan keguruan di kenegerian silat Tiga Lorong ini sama seperti:</li><li>Guru besar sebagai pejabat tertinggi di kenegerian silat Pangean</li><li>Wakil guru besar, sebagai pembantu dari guru besar.</li><li>Anak tuo</li><li>Induk berempat</li><li>Murid-murid di ajar oleh induk berempat, jika induk berempat tidak mampu maka anak tuo yang turun, jika tidak mampu juga maka wakil guru besar yang turun. Dan jika tidak mampu juga barulah guru besar yang turun untuk mengajar para murid.</li><li>Murid jika ingin menikahi janda dari temannya yang sesame murid maka harus minta izin terlebih dahulu kepada teman yang bersangkutan</li><li>Murid jika menikahi janda dari induk berempat maka akan&nbsp; dikenakan denda berupa seekor kambing</li><li>Murid jika menikahi janda dari guru besar, wakil guru besar dan anak tuo maka dikenakan sanksi berupa seekor jawi atau kerbau.</li><li>Melaksanakan sholat lima waktu</li><li>Tidak boleh berkata sombong atau bersikap riya</li><li>Harus siap sakit, siap patah, siap buta, siap tuli,&nbsp; dan berhutang demi kegiatan persilatan. Berhutang yang dimaksudkan ialah hutang laman, yakni setiap sudah hari raya Idul Adha harus&nbsp; berziarah dan menyumbang seikhlasnya saja.</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Di atas disebutkan menyerahkan sebuah limau. Limau ini nanti akan <em>ditetas </em>(dipotong) oleh sang guru. Lalu sang murid disuruh untuk mandi ke sungai atau air yang mengalir dengan menggosok-gosokkan limau yang sudah <em>ditetas</em> tadi ke badan. Selesai mandi limau tersebut diletakkan di bawah sebuah pohon yang bergetah dan limau tersebut ditutupi dengan tempurung yang memiliki <em>mata</em>. Setelah tiga hari limau tersebut diambil dan kemudian dilihat apa yang terdapat dalam tetasan limau tersebut. Sang murid kemudian memberitahu kepada sang guru apa gerangan isi tempurung limau.&nbsp; Isi limau itu menggambarkan sifat atau karakter dari murid. Setelah guru diberitahu murid kemudian mandi kembali ke sungai dengan menggosokkan limau tersebut kebadan. Kemudian setelah mandi, limau digantungkan di atas perapian rumah untuk dikeringkan. Limau dibungkus dengan kain putih dan kemudian disimpan. Khasiat dari limau ini dapat digunakan sebagai pelindung diri dan sebagai penyembuh penyakit bagi si murid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika ada seorang murid dari sebuah perguruan silat dan kemudian dia ingin pindah ke perguruan yang lain, maka ketika di perguruannya yang baru saat penetasan limaunya terdapat sedikit perbedaan. Jika pada penetasan limau pada calon murid yang belum pernah berguru sekali <em>tetas</em>, maka pada calon murid yang pindah keperguruan penetasan limaunya adalah dua kali <em>tetas</em>. Saat penetasan limau terkadang terjadi kejadian yang aneh. Saat limau <em>ditetas</em> keluar darah dari dalam limau. Ini menandakan bahwa calon murid memiliki jiwa yang tangguh dan akan menjadi pendekar yang luar biasa kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam silat dikenal empat jenis gerakan yang dikenal dengan istilah <em>langkah empat, </em>yaitu<em>:</em></p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Gerakan cincang</li><li>Gerakan tenju</li><li>Gerakan sembar/tepuk</li><li>Dan gerakan tepuk.</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Gerakan-gerakan di atas dalam suatu pertunjukan dimainkan dalam sekali alur main. Sebelum dilakukan permainan silat ini, terdapat beberapa ketentuan, di antaranya:</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Menggunakan kain sarung atau kopiah (kain sarung cukup dililitkan di pinggang)</li><li>Bersalaman pada guru</li><li>Kedua pemain duduk menghadap kiblat dan berdoa</li><li>Kedua pendekar bersalaman</li><li>Kemudian berdiri, kaki dirapatkan, dan saat melangkah kaki kanan yang didahulukan (setiap awal gerakan dimulai dengan kaki kanan).</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika bertanding atau bertarung, sang pendekar mengamati gerik dari sang lawan terlebih dahulu, sehingga ketika sang musuh menyerang sang pendekar sudah siap dengan tangkisannya. Dalam silat ini lebih banyak gerakan menangkis dari pada menyerang, karena hakikat dari silat ini adalah untuk membela diri.&nbsp; Setelah bermain, sebagai penutup maka anak berempat bermain dengan sang guru besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa petuah silat ini yaitu <em>segalo jadi</em>, <em>lunak datangnyo lunak </em><em>pulo </em><em>sambutnyo, keras datangny</em><em>o</em><em> keras pulo sambutnyo</em>. Tidak mencari lawan tapi kalau datang pantang menghindar. Tak boleh mengkhianati, jika dilakukan hilang petuah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Silat ini sering&nbsp; dipertunjukkan baik dalam acara-acara resmi daerah Tiga Lorong maupun acara adatnya, seperti penyambutan pejabat pemeritahan, peresmian suatu kegiatan atau lokasi, pesta pernikahan (walimah), sunnatan rasul dan kegiatan-kegiatan lainnya. Pertunjukan silat biasanya diiringi oleh <em>gendang beghegung</em>, alat-alat musiknya terdiri dari gendang (lodi dan bass), gong, dan celempong dengan jenis nyanyian yang disebut dengan <em>kedidi</em>. Ketika pertunjukan silat dimainkan tidak lupa untuk menaruh sirih, kapur, pinang dan rokok dalam sebuah piring. Ini merupakan suatu keharusan, penggunaan benda-benda tersebut adalah sebagai makanan buat <em>sang bathin </em>(para leluhur) jika datang pada saat silat dimainkan. Ada juga hubungan antara silat dengan harimau. Setiap membuka halaman silat, sering harimau berada di sekitar itu, seolah-olah memperhatikan orang latihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">[<strong>Rujukan</strong>: Wilkinson, R.J., <em>A Malay</em>&#8211;<em>English</em> <em>Dictionary</em>, London: Macmillan &amp; Co. Ltd., 1959; Taslim F., dan Junaidi Syam, <em>Trombo Rokan</em>, Pasirpengarayan: Yayasan Garasibumy, 2007; Elmustian Rahman dan Tarmizi Yusuf. 2012 <em>Ensiklopedia BaturijaÏ. </em>Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan; Elmustian, dkk, <em>Ensiklopedia Kebudayaan Melayu Riau</em>, Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau, 2012].</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/silat/">Silat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/silat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 0/244 objects using Memcache
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching using Redis

Served from: tigalorong.id @ 2026-10-01 00:33:06 by W3 Total Cache
-->