<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bahasa Arsip - Tiga Lorong</title>
	<atom:link href="https://tigalorong.id/category/bahasa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tigalorong.id/category/bahasa/</link>
	<description>Masyarakat Hukum Adat</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Dec 2021 15:00:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/cropped-logo-tiga-lorong-copy-32x32.png</url>
	<title>Bahasa Arsip - Tiga Lorong</title>
	<link>https://tigalorong.id/category/bahasa/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bahasa Tiga Lorong</title>
		<link>https://tigalorong.id/bahasa/bahasa-tiga-lorong/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/bahasa/bahasa-tiga-lorong/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Dec 2021 15:00:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=509</guid>

					<description><![CDATA[<p>Masyarakat Tiga Lorong memiliki entitas sendiri dan karenanya memiliki bahasa tersendiri pula, yang termasuk dalam...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/bahasa/bahasa-tiga-lorong/">Bahasa Tiga Lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Masyarakat Tiga Lorong memiliki entitas sendiri dan karenanya memiliki bahasa tersendiri pula, yang termasuk dalam salah satu rumpun Melayu Riau. Ada dua dialek khas Tiga Lorong, yakni dialek Baturijal dan dialek Pematang Selunak. Dialek Baturijal dipakai oleh masyarakat Baturijal Barat, Baturijal Hulu, dan Baturijal Hilir.Dialek Pematang/Selunak lebih berdekatan dengan Peranap, Gumanti, dan Semelinang Darat dan Semelinang Tebing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dialek Tiga Lorong dianggap sebagai salah satu yang unik, terutama bahasa Baturijal yang masih dipelihara secara turun-temurun. Keunikannya menjadi ciri khas dan kebanggaan bagi masyarakat Tiga Lorong. Dalam percakapan sehari-hari, misalnya lebih kentara pemakaian kata ganti orang aku dengan kata <em>ngan</em>, kamu (laki-laki) dengan kata <em>kan</em>, kamu (perempuan) dengan kata <em>kau:, </em>dan kalian dengan kata klen, dan seterusnya. Dan pemakaian huruf [r]dengan [R]atau ghain. Biasanya orang-orang lain akan menirukan bahasa Tiga Lorong dengan meniru ungkapan yang banyak menggunakan <em>ghain</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahasa Peranap dan Pematang Selunak lebih berdekatan karena pengaruh yang kentara sekali dengan para pedagang dari hulu Kuantan. Sedangkan Bahasa Baturijal lebih mengarah ke wilayah budaya Jambi atau Kerajaan Melayu kuno Damasraya terutama di kampung-kampung di Kabupaten Muaro Bungo, seperti Lubuk Landai, Tanah Tumbuh dll. dan di beberapa kampung di Tebo Ulu Provinsi Jambi. Hal ini dapat dipahami karena sebagian wilayah Tiga Lorong memang secara administratif politik termasuk kepada provinsi Jambi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai etnik yang terbuka dialek Baturijal juga dipengaruhi oleh unsur-unsur asing seperti Bahasa Inggeris yang digunakan oleh orang-orang tua dulu, seperti; towala, berus, wayar, bisikal, motoka, stokar, seluh, ayan, injin, bisin dan lain-lainnya. Kata seperti <em>towel, brush, bycicle, motor car, stop car, slow, iron, engine </em>dan <em>basin </em>adalah dari bahasa Inggeris yang berarti handuk, sikat, kawat, sepeda, mobil, kenek, lambat atau pelan, besi dan baskom. Kalau orang Baturijal menyebut <em>pinggan ayan, </em>berarti piring kaleng menurut umum &#8211; bukan piring besi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian besar, istilah yang digunakan orang Baturijal, sama dengan istilah bahasa Melayu Riau. Kalau orang Melayu Riau menyebut /a/ pada akhir kata dengan bunyi /e/, maka orang Baturijal menyebutnya dengan bunyi /o/. Misalnya <em>siapa</em> dalam bahasa Indonesia, orang Melayu mengucapkannya dengan siape, sedangkan orang Baturijal <em>siapo. </em>Dalam bahasa Indonesia berapa, Melayu <em>beRape</em>, maka Baturijal menjadi <em>baRapo.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bahasa Indonesia kata berakhiran /-ar/, diucapkan orang Melayu dengan menghilangkan huruf /r/. Misalnya <em>lapar</em>, menjadi <em>lapa</em> sama dengan yang diucapkan orang Baturijal seperti pasar, tikar, selasar, takar, tukar menjadi pasa, tika, selasa, taka, dan tuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbedaan terdapat pada kata-kata yang berakhiran /as/ dan /at/. Orang Melayu dan orang Baturijal tidak mengadakan perubahan, sedangkan orang Minangkabau menjadi /eh/ dan /ek/. Misalnya lepas dan dapat, orang Melayu mengucapkannya tidak berubah yaitu lepas atau <em>lepaih</em> dan dapat. Sedangkan orang Minangkabau, fonem <em>lepas</em> menjadi <em>lapeh, </em>dapat menjadi <em>dapek.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara topografi Baturijal tampak lagi, bahasa orang Peranap di sebelah hilir dan Cerenti di sebelah hulu, hampir sama dialeknya yakni mengucapkan kata yang huruf akhirnya a dengan bunyi o Perbedaan hanya pada huruf /e/ pada suku pertama. Kalau orang Minangkanau mengucapkannya dengan /a/ sedangkan orang Peranap dan Cerenti dengan /o/. Kata <em>dekat</em> dalam bahasa Melayu, orang Peranap dan Cerenti menyebutnya dengan <em>dokek, </em>sedangkan orang Baturijal menjadi <em>dekat.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa kata-kata, belum diketahui apakah ada kesamaannya dengan di tempat lain seperti; <em>daRoko, saRanu, t</em><em>əko, pəteh, mengaRit, Rengam, taniso, tempong, saRah, sepai, tajum, leak, kencong, kicup, leReng, cameh, sənting, təging, kinyam, diRuih, lepot </em>dan sebagainya. Maksud kata tersebut adalah, dahulu kala, dulu, baru saja, sangat sulit, bergerak sedikit dan berisik, tak sempat, buah berlobang digigit binatang, peti, sapu, runcing, becek, tidak lurus, menyempit, tanah miring, hampir, kunci, keras, cicip, siram, tidak gesit dan sebagainya. Kata-kata ini akan lebih jelas sesuai dengan konteksnya. Seperti contoh: <em>&#8220;ghembut itu dak taniso nek keluang.&#8221; </em>Rambutan itu tidak sempat dipetik oleh pemiliknya, sudah habis dimakan kalong.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/bahasa/bahasa-tiga-lorong/">Bahasa Tiga Lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/bahasa/bahasa-tiga-lorong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 0/97 objects using Memcache
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching using Redis

Served from: tigalorong.id @ 2026-09-30 17:42:59 by W3 Total Cache
-->