<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Elmustian Rahman, Pengarang di Tiga Lorong</title>
	<atom:link href="https://tigalorong.id/author/elmustian-rahman/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tigalorong.id/author/elmustian-rahman/</link>
	<description>Masyarakat Hukum Adat</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Feb 2026 03:56:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/cropped-logo-tiga-lorong-copy-32x32.png</url>
	<title>Elmustian Rahman, Pengarang di Tiga Lorong</title>
	<link>https://tigalorong.id/author/elmustian-rahman/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bono; Beno</title>
		<link>https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elmustian Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2026 03:52:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Saujana]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[adat istiadat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=1004</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gelombang pasang yang disebabkan kuatnya arus yang mengalir ke hilir yang bertabrakan dengan gelombang pasang...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/">Bono; Beno</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Gelombang pasang yang disebabkan kuatnya arus yang mengalir ke hilir yang bertabrakan dengan gelombang pasang laut, khususnya pada bulan purnama, yang naik dengan cepat. Arus <em>bono</em> ini di Riau terdapat di Sungai Kampar, Sungai Siak dan Sungai Rokan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Bono</em> yang paling terkenal adalah yang terjadi di Sungai Kampar. Di sungai ini gelombang pasang naik air laut mendesak aliran sungai hingga 70 kilometer ke hulu. Terjadi mulai dari Pulau Ketam hingga ke Desa Kualapanduk, di dekat muara cabang Sungai Karumutan. Ketinggian <em>bono</em> dapat &nbsp;mencapai dua meter dengan kecepatan 12 kilometer per jam dan dapat berlangsung sampai dua jam. Biasanya, tujuh hingga delapan gelombang tiba-tiba muncul pada permukaan sungai, lalu mendesak arus ke hulu secara berurutan, meliuk-liuk seperti ular. Kemunculan <em>bono</em> diiringi suara gemuruh yang menakutkan, disertai kepulan kabut air di sekelilingnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bono Sungai Kampar dapat dilihat di Kampung Telukmeranti, 8 jam menghilir Sungai Kampar dari Teratak Buluh, di dekat Pekanbaru.   Penduduk muara Sungai Kampar sudah sangat hafal dengan saat-saat datang dan perginya bono untuk menghindari kesulitan berlayar di sungai. Bono meskipun menggerunkan tapi bukan sesuatu yang mesti dihindari. Bono ini dapat disaksikan di Desa Teluk Meranti, Kuala Kampar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena <em>bono</em> sudah menjadi hal yang menarik sejak lama. Pada tahun 1882, penulis Belanda J.A. van Ruijn van Alkemade menulis dalam bukunya “<em>Reis van Siak naar Pulau Lawan</em>”(Perjalanan dari Siak ke Pulau Lawan) dan Faes dalam bukunya “<em>Het Rijk can Pelalawan</em>”menyebutkan Gubernur Sumatera, Spit, yang berkedudukan di Aceh, sengaja datang ke Kualakampar dengan kapal pesiar <em>Diana </em>dari Belawan melewati Selat Melaka, Bengkalis dan Selatpanjang hingga ke Telukmeranti hanya untuk melihat “keajaiban” <em>bono</em>. Di Telukmeranti, Spit disambut oleh Moofd yang menjadi <em>demang </em>(kepala distrik) di Kualakampar. Moofd bahkan membuat menara pengintai agar Spit dapat menyaksikan kehadiran <em>bono</em> di sungai itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi masyarakat Desa Meranti, kedatangan <em>bono</em> menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu anak-anak untuk bermain-main dalam gelombang pasang tersebut. Permainan tradisional yang memanfaatkan <em>bono</em> adalah <em>Bekudo Bono</em>,yang telah menjadi tradisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bono merupakan fenomena alam yang menakjubkan. Di mana, ketika pasang memudiki sungai, maka air sungai akan menggelombang, berombak besar. Tinggi gelombang tersebut mencapai 6 meter. Konon, menurut salah-satu cerita, Bono yang terdapat di daerah Kuala Kampar ini meru­pakan pasangan jantan dari Bono Betina yang ter­dapat di Sungai Rokan. Bono ini akan mengamuk pada awal hari bulan, atau tepatnya ketika pasang lagi naik. Bila pasang mati, maka Bono pun menghilang entah ke mana. Bono ini muncul biasanya antara tanggal 10 sampai 20 bulan Hijriyah. Peristiwa yang menakjubkan ini dimulai dengan bunyi desingan seolah-olah badai akan turun. Oleh masyarakat di sekitar Kuala Kampar, Bono meru­pakan kejadian biasa yang sudah mereka kenal sejak kecil. Tak heran bila tua dan muda di sana menganggap Bono lebih sebagai arena bermain sambil menguji ketangkasan mereka berperahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi masyarakat Tiga Lorong khususnya Baturijal, Bono merupakan permainan tradisional mereka, karena masyarakat Baturijal menjadikan muara Kampar khsususnya Pulau Penyalai menjadi kampung kedua mereka, sejak awal abad ke-19. <sup></sup></p>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph">[<strong>Sumber</strong>: Barnard, Timothy P., <em>Pusat Kekuasaan Ganda: Masyarakat dan alam Siak &amp; Sumatra Timur, 1674-1827</em>, Pekanbaru: P2KK-Unri, 2006; <em>Multiple centres of authority: Society and environment in Siak &amp; eastern Sumatra, 1674-1827</em>, Leiden: KITLV Press, 2003; Ediruslan Pe Amariza (ed.), <em>Warisan Riau, Tanah Melayu Indonesia yang Legendaris</em>, hal. 171-174, Pekanbaru: Yayasan Warisan Riau, 2001Elmustian, dkk. <em>Ensiklopedia Kebudayaan Melayu</em> Riau, bersama Al azhar, Sita Rohana, Junaidi-Syam. Pusat Penelitian dan Kebudayaan Universitas Riau. Pekanbaru. 2012].</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/">Bono; Beno</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/saujana/bono-beno/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tradisi Bertani Padi</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bertani-padi/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bertani-padi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elmustian Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Apr 2022 18:43:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[berladang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=757</guid>

					<description><![CDATA[<p>Padi merupakan bahan makanan pokok orang rantau Melayu Tiga Lorong. Terdapat beberapa penamaan padi di...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bertani-padi/">Tradisi Bertani Padi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Padi merupakan bahan makanan pokok orang rantau Melayu Tiga Lorong. Terdapat beberapa penamaan padi di antaranya yaitu padi <em>ceghai</em> dan padi pulut. Padi <em>ceghai</em> yang ditanam di sawah yakni: padi putih ghendah, padi putih tinggi, padi kuateik ghendah, padi kuateik tinggi, padi katite, padi aceh, padi narun, padi bebe.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padi-padi ini ditanam dalam satu tahun dan panennya pun juga sekali setahun. Dalam teknis penanamannya dari awal penanaman sampai panen ini membutuhkan waktu selama 4 sampai 5 bulan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pantang larang dalam menanam padi yaitu pada saat penanaman yaitu pada saat padi mulai ditancapkan ke tanah ini tidak boleh ada interaksi antara orang yang menanam padi dengan orang lain, karena akan mengakibatkan padi tersebut tidak akan tumbuh. Apabila padi sudah ditanam, si penjaga sawah atau ladang tidak boleh ribut-ribut karena takut <em>menso</em> (babi) menggangu tanaman padi yang berada di areal persawahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Padi pulut</em> terbagi beberapa macam yaitu: pulut siam, pulut cempako, pulut hitam, pulut jambi. Dalam teknis penanaman ini sama halnya dengan penananman padi yaitu selama 4-5 bulan dan satu tahun sekali.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Meti Tanah</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Metih tanah adalah suatu prosesi tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Baturijal ketika mendirikan bangunan, membuka lahan pertanian, dll. Masyarakat percaya bahwa setiap lokasi atau tempat bangunan memiliki penghuni gaib yang menetap pada lokasi tersebut. Dengan demikian pendiri rumah harus meminta izin atau permisi kepada penghuni tersebut untuk mendirikan bangunan atau rumah supaya dalam mendirikan dan menghuni rumah tersebut nantinya tidak diganggu oleh penghuni lain yang menghuni lokasi tersebut terlebih dahulu. Menurut kepercayaan orang zaman dulu, jika hal ini tidak dilakukan maka kemungkinan keluarga yang menghuni rumah tersebut nantinya akan mendapat berbagai masalah dalam keluarganya, misalnya&nbsp; sering sakit-sakitan, rezeki tidak ada, sering bertengkar, dll.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk meminta izin tersebut, maka dilakukanlah metih tanah. Proses ini dilakukan oleh seorang dukun. Bahan-bahan yang digunakan pada proses metih tanah ini adalah anak pisang lidi putih, anak pandan berduri, tebu salah (tebu yang berwarna merah), lengkuas, serai, kunyit, lio (halia), jerangau, bunglai, cekur, kotoran kuda, kotoran angsa, tai besi atau taik kelong atau sisa-sisa tempahan besi, sekam padi, tulang-tulangan hewan yang sudah lama dan kering. kulit alo-alo, pecahan piring batu, yang bukan dari kaca, parang bekas atau tua yang sudah karatan dan tak terpakai lagi, tempurung tua, kemenyan, beras&nbsp; dan air secukupnya. Tepung Tawalimo yang terdiri dari: sepulih; setawa; sedingin; kumpai, dan cekerau</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses Meti Tanah.<strong> </strong>Bahan nomor 1 sampai dengan 10 (ramuan I), diikat rapi dengan tali apa saja. Kemudian Bahan dari nomor 11 sampai dengan 18 (ramuan II) dikumpulakan dan dimasukkan dalam tempurung tua. Setelah kedua ramuan di atas siap maka berikutnya adalah menggali tanah pada lokasi bangunan yang diinginkan. Letaknya boleh sembarang sesuai keinginan yang punya tanah asalkan masih dalam area lokasi pembangunan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ukuran tanah yang digali kira-kira 20&#215;20 cm dengan kedalaman 20 cm juga. Sesuai dengan banyaknya dan tinggi bahan-bahan ramuan metih tanah. Setelah selesai menggali maka ramuan I dimasukkan dengan posisi berdiri, pangkal di bawah dan pucuk di atas. Di samping ramuan I dimasukkan ramuan II berdampingan. Kemudian disamping ramuan I juga di tancapkan Parang Tua dengan posisi pangkal di bawah lalu tanah galian ditutup kembali dengan padat. Setelah selesai menutup maka diasapi dengan kemenyan, lalu memercikkan ramuan Tepung Tawa di atas tanah galian sembari membacakan mantera yang hanya diketahui oleh Pemetih Tanah tersebut. Setelah selesai semua proses Metih Tanah barulah bangunan boleh didirikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada juga versi lain meti tanah, yaitu<strong> </strong>untuk membuka sebuah lahan baru baik itu kilang ataupun tempat usaha baru agar terhindar dari makhluk halus. Bahan-bahan yang digunakan untuk ritual ini adalah: taik besi, taik angso, dan taik kelelawar kemudian dikuburkan di tanah yang akan dibangun tiang yang paling tua.&nbsp; Kemudian dipotongkan ayam dan pentawa limo.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">[Narasumber: Mardan dan Musliadi]</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menumbuk Padi&nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah padi ditanam, disiangi dan dituai, akhirnya dijemur dan ditumbuk baru menjadi beras, siap untuk ditanak. Baturijal tidak familiar dengan “<em>kisa”. </em>Apalagi huller seperti sekarang ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padi yang tersimpan dalam <em>balubua, </em>baik dibuatkan tersendiri di luar rumah atau masih dalam rumah, diambil untuk <em>diighik &#8211; </em>melepaskan butir-butir dari tangkainya. Biasanya padi dijemur untuk ukuran makan seminggu. Tetapi kalau memang ada acara mau menumbuk bersama, maka padi dijemur lebih banyak, misalnya untuk dua minggu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padi dijemur di atas <em>ghumbing &#8211; </em>sejenis tikar dari pandan, dianyam kasar khusus digunakan untuk menjemur padi. Tempat menjemur biasanya di halaman rumah supaya langsung terkena sinar matahari. Musuh menjemur padi biasanya ayam. Kadang-kadang ayam <em>dak telap disiuh. </em>Apabila panasnya cukup, tengah hari padi sudah kering boleh diangkat. Selepas zhuhur sudah boleh ditumbuk. Kalau padinya banyak yang dijemur, menumbuk dapat dilanjutkan sampai malam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekali lagi pekerjaan tumbuk menumbuk ini adalah pekerjaan kaum perempuan. Padi, baru dapat ditumbuk apabila sudah kering. Padi yang belum kering, kalau ditumbuk banyak yang patah, banyak <em>penukutnya. </em>Tetapi kalau cukup kering, berasnya utuh, <em>penukutnya </em>sedikit. Kepala beras yang mempunyai banyak vitamin itu masih menyatu dengan beras. Itu sebabnya beras tumbuk lebih sehat daripada beras giling dengan mesin. Apalagi yang dipoles supaya mengilap putih, tidak higinis lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menumbuk padi ini menggunakan lesung yang terbuat dari kayu yang cukup besar, dibuat lubang yang dapat menampung sekitar 2 atau 3 kg. sekali menumbuk. Padi yang sudah ditumbuk, meskipun beras sudah lepas dari kulitnya, tetapi masih bercampur. Untuk memisahkan kulit yang disebut sekam itu, harus ditampi dengan menggunakan <em>nighu. </em>Dengan menampi tinggal beras dan padi yang disebut dengan <em>atah. </em>Memisahkan beras dengan <em>atahnya </em>diayak sehingga beras bersih dari sekam dan <em>atah. </em>Beras yang sudah bersih ini sudah siap untuk dimasak atau disimpan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menumbuk padi beramai-ramai ini, sangat menyenangkan. Semuanya untuk menghilangkan rasa bosan dan letih. Menumbuk padi bersama, sejak awal sampai selesai selalu dalam keadaan bergembira. Satu lesung adayang sampai 4 atau 5 orang. Kalau satu lesung satu orang atau berdua sudah biasa, tetapi sampai lima orang mengerubuti lubang lesung untuk menjatuhkan antan perlu seni tersendiri. Di sinilah letaknya kenikmatan dalam menumbuk padi bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lima orang secara bergantian, menjatuhkan antan ke dalam lubang lesung yang sudah penuh dengan padi yang sudah dijemur. Masing-masing peserta, sudah siap menurut gilirannya, tidak pernah bentrok antar antan yang satu dengan antan yang lain. Sekali-sekali memang tidak langsung masuk ke lubangnya melainkan di pinggir lesung sebingga bunyinya berbeda. Bagi yang sudah biasa, giliran yang diseling-seling itu mempunyai irama tersendiri. Suaranya terdengar dari kejauhan dan mengundang bujang untuk datang. Suara tingkah menumbuk padi itu lebih indah dari sebuah musik <em>dhangdhut, </em>sekali pun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beras dari padi yang baru dituai, disebut dengan <em>beghas baghu, </em>mempunyai aroma tersendiri, mengundang selera makan. Apalagi kalau ditanak dengan menggunakan kayu api, dalam periuk kuningan yang berleher genting. Lauknya puyu bapanggang dan sambal <em>belacan </em>dan pucuk ubi <em>diuap. </em>Membuat makan semakin nikmat. Supaya nasi tidak cepat sejuk, periuk dibungkus dengan <em>gendam </em>atau selimut tebal, tahan sampai 3-4 jam nasi dalam keadaan hangat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menurun benih</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Upacara kecil dalam pertanian masyarakat Baturijal. Membuat lobang dengan kayu untuk diisi benih padi. Tetapi mengapa menjadi istimewa? Acara <em>manugal </em>ini biasanya juga diikuti oleh bujang dan gadis. Bujang yang <em>manugal, </em>gadis membenih. Selama prosesi <em>manugal </em>itu saling mencurahkan isi hati, menjajagi lebih dalam sifat pribadi masing-masing calon pasangannya, diawali dengan saling menyindir dengan menggunakan pantun, mesra dan mengasyikkan. Manugal dapat dijadikan kesempatan proses melakukan pendekatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menyenggan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak cara, bervariasi penduduk Baturijal menangkap ikan. pula jenis alat untuk menangkap ikan ini. Alatnya sangat sederhana. Bahkan tanpa alat, cukup dengan tangan kosong seperti <em>meghawang </em>dan <em>mengecal. </em>Anak-anak pun tidak ketinggalan melakukan kreativitas dalam menangkap ikan ini dengan cara sendiri, meskipun sekedar untuk kesenangan saja, seperti <em>menyenggan. Menyenggan </em>ini tidak pernah lagi ditemukan di Baturijal, karena sudah dilupakan. Asli ciptaan anak-anak Baturijal tidak akan ditemukan di manapun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekeliling pohon enau dekat pelepahnya terdapat ijuk, hitam seperti rambut. Ada yang halus dan ada yang kasar. Yang halus dapat dibuat menjadi sapu atau dipintal menjadi tali tambang yang sangat kuat. Ijuk dibuat juga untuk lapisan atap pondok atau gubuk. Di kota, ijuk dibuat sebagai saringan ketika membuat septicteng. Sedangkan ijuk yang kasar disebut dengan <em>ghegih, </em>sering dibuat untuk kalam, menjadi alat tulis. Ijuk yang tanggung, tidak terlalu halus, tetapi masih lentur, diambil dan dipotong sepanjang dua senti saja. Kemudian diikat dengan <em>selisia &#8211;</em>benang dari batang pisang &#8211; dan diberi pelampung, disebut dengan <em>&#8220;senggan &#8220;.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Umpan <em>menyenggan </em>menggunakan api-api yang banyak hinggap di daun <em>tebeghau. </em>Api-api yang bersayap warna merah itu lebih kecil dari lalat, tapi lebih panjang. Mata <em>senggan </em>ditekuk dan ditusukkan ke api-api sebagai umpan. Ukuran api-api, pas dengan panjangnya <em>senggan. Senggan </em>dihanyutkan dan diringi sambil berenang dan berendam mengikut arus. Ketika umpan dimakan ikan, api-api pecah, mata senggan menjadi lurus kembali dan menusuk pipi ikan kiri dan kanan sehingga tersangkut. Posisi mata senggan melintang. Sebagai tanda <em>senggan </em>sudah mengena, pelampung mulai berubah arah, melawan arus. <em>Senggan </em>pun diambil perlahan-lahan supaya talinya tidak putus dan ikan tidak lepas. Menarik <em>senggan </em>yang sudah ada ikan tersangkut merupakan kenikmatan tersendiri. Kadar nikmatnya, sama dengan ketika pemain golf melakukan drive bola melambung lurus karena impact bola dengan clubnya tepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Menyenggan </em>biasanya di pulau, khususnya di Pulau Baru. Tidak terlalu deras tetapi ada arus airnya. Biasanya ikan jenis seluang, kepiat, mentulu dan lain-lain, kira-kira sebesar induk jari tangan. Ikan yang lebih besar tidak akan tertahan oleh benang <em>selisia </em>pisang. <em>Menyenggan </em>ini sebagai mainan saja. Ikannya dikumpulkan dalam lubang yang digali pada pasir. Ikan-ikan hasil menyenggan tersebut jarang yang dibawa pulang, dibakar di atas batu <em>kiling </em>dan dimakan di tempat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ikan hasil menyenggan, jangan ditanyakan rasanya. Ikan yang dibakar tanpa garam atau bumbu lainnya di atas batu <em>kiling </em>yang berbau <em>angit. </em>Kesenangan yang luar biasa ketika senggan sudah mengena. Mempermainkan ikan yang mulutnya sudah kena senggan itu nikmatnya tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Dan tidak dapat diceritakan, betapa nikmatnya. Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Harus dirasakan sendiri.<br>[sumber: Tarmizi Yusuf. 2010. <em>Baturijal. </em>Jakarta: La Tira; Elmustian Rahman dan Tarmizi Yusuf. <em>Ensiklopedia Baturijal</em>. Pekanbaru: Unri Press &#8211; Pusat Penelitian Kebudayaan dan Masyarakatan Universitas Riau]</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bertani-padi/">Tradisi Bertani Padi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/tradisi-bertani-padi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sistem Sapaan Masyarakat Adat Tiga lorong</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/sistem-sapaan-masyarakat-adat-tiga-lorong/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/sistem-sapaan-masyarakat-adat-tiga-lorong/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elmustian Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 10:14:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sistem Sapaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=717</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sistem sapaan di wilayah masyarakat adat Tiga Lorong memiliki kekhasan. Namun memiliki beberapa varian dan...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/sistem-sapaan-masyarakat-adat-tiga-lorong/">Sistem Sapaan Masyarakat Adat Tiga lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Sistem sapaan di wilayah masyarakat adat Tiga Lorong memiliki kekhasan. Namun memiliki beberapa varian dan versi dengan wilayah kenegerian Baturijal dan Pematang Selunak dan Peranap. Berikut ini adalah sistem sapaan Baturijal.<br><br>Bentuk sapaan Bahasa Melayu Riau dialek Baturijal dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: adat, agama, jabatan, jenis kelamin, umur, dan faktor status social. Sapaan yang dipakai oelah masyarakat Baturijal berkembang, bentuk sapaan itu ada yang berubah. Perubahan itu disebabkan oleh bahasanya, perkembangan jumlah penduduk serta pembauran antara penduduk asli dengan pendatang. Sapaan yang digunakan masyarakat Baturijal beragam, hal ini karena pengaruh orang yang datang dari luar daerah membawa masuk bahasa dan sapaan yang mereka pakai ke Baturijal.</p>



<ol class="wp-block-list" type="a"><li>Sistem Sapaan Kekerabatan masyarakat Baturijal<ol><li><em>Sapaan terhadap orang tua dari bapak atau ibu</em>. Untuk orang tua bapak atau ibu yang laki-laki “Datuk”, dan untuk orang tua perempuan dari bapak atau ibu disapa “No”</li></ol></li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Contoh sapaan dalam kalimat yaitu:</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; + Datuk lah samayang maghrib?</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = Kakek sudah sembayang maghrib?</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; + No ado buah ghembut lagi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = nenek ada buah rambutan lagi?</p>



<ul class="wp-block-list"><li><em>Sapaan terhadap orang tua laki-laki.</em> Sapaan terhadap orang tua laki-laki yang digunakan dalam masyarakat Baturijal ada beberapa maam, yaitu ‘iyah’, ‘abah’, dan ‘bapak’. Namun yang sering dan banyak digunakan adalah ‘iyah’ dan ‘abah’. Sapaan ‘bapak’ jarang digunakan dan biasanya juga digunakan sapaan oleh anak tiri terhadap bapak tirinya.</li></ul>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; + Di mano yah mengail tadi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; = di mana Ayah memancing tadi?</p>


<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/sistem-sapaan-masyarakat-adat-tiga-lorong/">Sistem Sapaan Masyarakat Adat Tiga lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/sistem-sapaan-masyarakat-adat-tiga-lorong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jago Kampung di Masyarakat Adat Kenegerian Baturijal</title>
		<link>https://tigalorong.id/tentangkita/jago-kampung-di-masyarakat-adat-kenegerian-baturijal/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tentangkita/jago-kampung-di-masyarakat-adat-kenegerian-baturijal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elmustian Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 09:57:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Kita]]></category>
		<category><![CDATA[kabar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=707</guid>

					<description><![CDATA[<p>Awalnya bual-bual di balai gerbangsari Baturijal Hulu dengan Datuk Anton Surya Atmaja dari DPH LAM...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tentangkita/jago-kampung-di-masyarakat-adat-kenegerian-baturijal/">Jago Kampung di Masyarakat Adat Kenegerian Baturijal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Awalnya bual-bual di balai gerbangsari Baturijal Hulu dengan Datuk Anton Surya Atmaja dari DPH LAM Riau dianggap bual belaka. Bahkan ketika pekerjaan dimulai pun sebagian masyarakat enggan ikut serta. Tapi kini masyarakat yg tak ikut itu menyesal karena lahan seluas 6 ha itu kini sudah nampak membuahkan hasil. Jagung akan panen 2 pekan lagi, sementara padi sudah mulai &#8220;berperut&#8221;. Kacang, cabe rawit dan keriting, terung, labu, kundur, dll. sudah mulai &#8220;bebuah belajar&#8221;, begitu juga sayur2an seperti kangkung, bayam, dll. Ketika mulai ditanam dulu memang musim kemarau, itulah sebabnya tinggi padi dan jagung tidak merata. Namun penduduk tak kehilangan akal, mereka menyemprotkan air dari sungai Inderagiri. Sayangnya meski laporan ke Kapolda Riau ada 10 hektar tapi yang wujud cuma lebih kurang 6 hektar di Baturijal Barat. Alhamdulillah masyarakat sangat berterimakasih. Masyarakat Tiga Lorong berharap akan datang dapat lagi bantuan lagi.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/WhatsApp-Image-2020-09-22-at-06.35.073-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-710" srcset="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/WhatsApp-Image-2020-09-22-at-06.35.073-1024x576.jpeg 1024w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/WhatsApp-Image-2020-09-22-at-06.35.073-300x169.jpeg 300w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/WhatsApp-Image-2020-09-22-at-06.35.073-768x432.jpeg 768w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/WhatsApp-Image-2020-09-22-at-06.35.073.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-gallery columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"><figure><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/WhatsApp-Image-2020-09-22-at-06.35.072-1024x576.jpeg" alt="" data-id="711" data-full-url="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/WhatsApp-Image-2020-09-22-at-06.35.072.jpeg" data-link="https://tigalorong.id/?attachment_id=711" class="wp-image-711" srcset="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/WhatsApp-Image-2020-09-22-at-06.35.072-1024x576.jpeg 1024w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/WhatsApp-Image-2020-09-22-at-06.35.072-300x169.jpeg 300w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/WhatsApp-Image-2020-09-22-at-06.35.072-768x432.jpeg 768w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/WhatsApp-Image-2020-09-22-at-06.35.072.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></li></ul></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Masyarakat adat Kenegerian Baturijal berharap bantuan dari Polri dan pihak terkait, karena kini tersedia batang Kuantan yg sudah menjadi danau lebih kurang 100 ha untuk keramba ikan. Meski PH air rendah mengakibatkan ikan tak cepat besar tapi dapat diusahakan dengan menutup bagian hilir sungai sehingga air sungai Sebungkul bisa mengalir ke hulu dan menstabilkan keasaman air.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kegiatan ini adalah Program Jago Kampung yang disponsori Polda Riau dan LAM Riau dengan fokus pertanian padi dan palawija.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tentangkita/jago-kampung-di-masyarakat-adat-kenegerian-baturijal/">Jago Kampung di Masyarakat Adat Kenegerian Baturijal</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tentangkita/jago-kampung-di-masyarakat-adat-kenegerian-baturijal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Batang Kuantan</title>
		<link>https://tigalorong.id/tradisi/batang-kuantan/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tradisi/batang-kuantan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elmustian Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 09:39:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kosabudaya]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[ensiklopedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=700</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aliran sungai yang bernama Kuantan, sebelah hilir batang Ombilin dan sebelah hulu sungai Indragiri. Kehidupan...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/batang-kuantan/">Batang Kuantan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Aliran sungai yang bernama Kuantan, sebelah hilir batang Ombilin dan sebelah hulu sungai Indragiri. Kehidupan penduduk Baturijal tergantung dengan Batang Kuantan. Sebelum berkembang alat transportasi modern, pesawat terbang dan mobil, sarana transportasi menggunakan air, laut atau sungai. Baik kapal bermesin maupun kapal layar yang menggunakan tenaga angin, merupakan alat transportasi dunia, menggunakan laut. Melalui laut, kapal-kapal Belanda datang ke Indonesia. Saudagar dari Arab, Persia maupun Gujarat, melalui laut menyinggahi pelabuhan-pelabuhan untuk bemiaga, sambil mengembangkan agama Islam. Tempat persinggahan saudagar itu, berkembang menjadi kota-kota yang ramai sebagai Bandar tempat bersandar kapal-kapal yang membawa para saudagar. Kota-kota besar di Indonesia pada umumnya berada tidak jauh dari laut atau sungai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Batang Kuantan pun tidak berbeda dengan laut. Sepanjang tepi Batang Kuantan, merupakan tempat berdiam penduduk. Batang Kuantan merupakan sarana transportasi utama. Air Batang Kuantan yang dijadikan air minum mengandung banyak jenis ikan. Batang Kuantan menjadikan sumber kehidupan bagi penduduk Baturijal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">a.&nbsp;&nbsp; Aliran Batang Kuantan, dijadikan sarana transportasi. Melalui Batang Kuantan, perahu dan motor <em>babelungkang &#8211; </em>sejenis perahu besar khusus sebagai gandengan, hilir mudik. Perahu sebagai alat transportasi penduduk yang berada sepanjang tepi Batang Kuantan. Motor dengan <em>belungkangnya </em>sebagai kendaraan mudik membawa barang dagangan ke pedalaman, sampai ke Teluk Kuantan yang berjarak lebih 300 km dari pantai. Kemudian hilir membawa hasil bumi, teratama karet, kayu rotan dan lain-lain. Pada musim kemarau, motor <em>babelungkang </em>itu tidak dapat mudik, takut <em>tersanggat &#8211; </em>kandas, karena <em>ayek usak.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">b.&nbsp;&nbsp; Air Batang Kuantan merupakan tempat berkembang-biak berjenis-jenis ikan, baik kecil mau pun besar. Mulai dari ikan sekecil kelingking seperti seluang, sampai ikan sebesar paha manusia dewasa seperti tapah. Ikan yang hanya beberapa senti, sampai ikan yang panjangnya melebihi satu meter. Kalau dipikul, <em>ikuknya </em>sampai <em>menyesea </em>ke tanah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">c.&nbsp;&nbsp; Kuantan dijadikan MCK, mandi, mencuci dan kakus tempat buang hajat. Selain sebagai tempat mandi dan mencuci, Batang Kuantan menjadi WC terpanjang di dunia. Tempat mandi dan tempat menambatkan perahu, disebut dengan <em>tepian. </em>Beberapa <em>tepian </em>dibuat rakit dari kayu-kayu besar yang timbul dan diberi berlantai tempat mencuci. Di bagian ujung sebelah hilir dibuat kotak berdinding, . tempat buang hajat. Keseluruhan perangkat rakit itu, disebut dengan <em>jamb an.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">d.&nbsp;&nbsp; Batang Kuantan sebagai sumber air minum selain air hujan. Sambil mandi <em>mencibuk ayek, </em>dengan menggunakan <em>labu </em>atau <em>geluk. </em>Ada juga yang menggunakan <em>beladi. </em>Penduduk tidak ada yang mengambil air tanah melalui mata air untuk air minum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">e.&nbsp;&nbsp; Di tepi Batang Kuantan itu khususnya di Baturijal, ada pasir dan batu kerikil yang disebut dengan<em>pulau. </em>Pada musim kemarau,<em>pulau </em>yang terdiri dari pasir putih bersih, ini sangat luas. Pasir dan batu kerikil dapat dijual kepada pemborong untuk pembuatan jalan. Pada waktu itu rumah belum banyak menggunakan semen, sehingga pasir belum diperlukan penduduk, kecuali untuk jalan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">f.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di pasir itu pula tempat <em>tuntung </em>sejenis penyu, bertelur. Setiap malam, pada musimnya tuntung naik ke pasir untuk bertelur. Telur yang jumlahnya berpuluh-puluh itu ditimbun dalam pasir oleh induknya sampai menetas. Kadang-kadang belum sempat ditimbun oleh induk <em>tuntung, </em>penduduk sudah datang. Telur <em>tuntung merupakan </em>makanan bergizi tinggi. Berburu <em>tuntung mi </em>merupakan kesenangan tersendiri. Konon kabarnya, tuntung itu mudik sampai Baturijal saja. Orang Cerenti, Inuman, Baserah, Pangean, apalagi Simandolak dan Benai tidak mendapatkan keberkahan telur tuntung. Patut dan perlu mensyukurinya, sehingga mendapat tambahan nikmat yang lebih banyak lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun Batang Kuantan ini mengalami banjir setiap tahun, tidak menjadi masalah bagi penduduk. Banjir yang datang setiap tahun, merupakan dinamika hidup penduduk di sepanjang aliran Batang Kuantan Dengan menggunakan perahu, perjalanan tidak terhalang. Kunjung mengunjung silaturrahim antara penduduk yang berdiam berseberangan, tidak terhalang oleh banjir. Lumpur-lumpur yang ditinggalkan setelah ; banjir, merupakan pupuk yang menyuburkan tanah. Penduduk Baturijal tidak mengenal pupuk untuk bertani, walaupun pupuk kandang, apalagi pupuk kimia. Cukup lumpur sisa banjir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banjir, baru membawa masalah ketika padi belum sempat dituai. Karena salah dalam perhitungan waktu bertanam, padi belum masak banjir sudah datang. Kalau padi belum masak, banjir sudah datang, penduduk berlomba menuai padi dengan banjir. Musuh petani dalam menanam padi selain hama, adalah banjir. Tetapi, bersamaan dengan datangnya banjir, ikan pun ada di mana-mana. Di Kuantan sampai ke <em>ghowang-ghowang, </em>begitu banyaknya ikan, merupakan rezeki tersendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belasan perahu hilir mudik di Batang Kuantan dekat Pulau Jambu, merupakan tontonan menarik bagi penduduk dari atas tebing tinggi. Perahu masing-masing dengan dua penumpang, seorang duduk di belakang berkayuh dan <em>mengecuik </em>perahu. Sedangkan yang seorang lagi berdiri di depan dengan jala siap untuk <em>diseghakken. </em>Peristiwa itu disebut mengepung. Mengepung ikan patin, ketika musim patin mudik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada waktu musim patin mudik, patin-patin ini berhijrah ke hulu, menyongsong aras Batang Kuantan. Menyongsong arus ini disebut dengan mudik. Sedangkan mengikuti arus disebut, menghilir atau hilir saja. Ikan yang hidup di sungai, mempunyai kebiasaan menyongsong arus termasuk patin. Sejenis ikan jua dengan ukuran sebesar jempol kaki, kalau lagi musim mudik, permukaan air terlihat bergelombang. Melihat gelombang itu, mempermudah untuk menjalanya. Rombonganjua mudik yang tampak bergelombang, disebut dengan jua <em>mauno.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menjala patin mudik sangat mengasyikkan. Selain mendapat patin, ikan lain pun tidak sedikit yang kena jala, seperti baung, tapah atau juara. Begitu juga ikan yang lebih kecil seperti kepiat, mentulu atau jua. Khusus seluang, tidak kena jala karena lebih kecil. Kecuali dengan jala rapat, khusus untuk ikan yang kecil-kecil. Untuk mendapatkan ikan seluang, menggunakan <em>segho. </em>Sekali membangkit <em>segho </em>bisa mendapatkan seluang <em>sebeladi.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak jenis ikan yang hidup di Batang Kuantan. Ikan-ikan yang hidup di Batang kuantan, penduduk menyebutnya ikan kuantan atau ikan sungai, sedangkan yang hidup di <em>ghawang, </em>disebut dengan <em>ikan ghawang. </em>Ikan <em>ghawang </em>jarang ditemukan di Kuantan, sebaliknya ikan kuantan khususnya berjenis lecil, banyak terdapat di <em>ghawang. </em>Di Kuantan ini, udang pun tidak ketinggalan. Khususnya udang kecil-kecil sebesar kelingking.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menangkap ikan di Batang Kuantan tidak semata-mata dengan menjala saja. Banyak cara lain untuk menangkap ikan, sesuai dengan situasinya. Ada yang menggunakan lukah gedang, sebuah bubu dengan diameter dua meter lebih. Selain dengan <em>lukah gedang, </em>ada <em>pangila, menteban </em>juga dengan jaring dan <em>atnbai. </em>Ikan juga dapat ditangkap dengan mengailnya, <em>menguntang </em>dan bisa juga dengan <em>meghawai. </em>Dengan <em>mengenjut </em>perahu, ikan kecil-kecil akan berlompatan, sebagian masuk ke dalam perahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tebing dekat teluk, ketika musimnya, puluhan orang mengail dengan melemparkan ke tengah. Kail dengan umpan lipas tanah yang dapat ditemukan di bawah papan, kayu atau apa saja yang ada di bawah rumah penduduk yang kering. Lipas ditangkap dijadikan umpan masih hidup untuk memancing ikan lais, patin atau juara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi yang tidak biasa, takut menceburkan kaki ke Batang Kuantan. Ikan-ikan kecil ini membuat kaki geli, terasa digitik kalau direndam di dalam air. Ikan dengan mulutnya yang kecil itu akan mengigit-gigit kaki kita. Kalau kaki <em>berkudis, tukik, tukak, kedal, pughu </em>atau <em>bubul, </em>kulit-kulitnya yang sudah kering atau terkelupas, bahkan daging yang terbuka, bersih digigit ikan. Orang yang baru bersunat, hams memakai canting untuk menutup barang yang belum <em>betah </em>itu, supaya tidak <em>disisil </em>ikan. Apalagi kalau ada yang buang hajat besar. Ikan akan berebut dan mengerubuti kotoran yang timbul sedang hanyut. Sulit melukiskan dengan kata-kata, begitu banyaknya ikan di Batang Kuantan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun kaya ikan, tidak lengkap kalau tidak menyebutkan makhluk lain yang ada dalam Batang Kuantan, apalagi kalau bukan buaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biasanya buaya senang tinggal dekat air yang teduh dan tenang. Tidak jauh dari muara Sebungkul merupakan tempat ideal bagi buaya. Di tempat lain bukannya tidak ada. Meskipun demikian, penduduk tidak takut dengan buaya, karena di Baturijal itu ada tiga beradik sebagai pemburu buaya. Tiga beradik yang ini, bukan dari Koto Simbung, melainkan asli Baturijal. Mereka itu ialah, Ali Tihim yang tertua, Serah yang tengah dan adiknya Thalib.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan peralatan hanya tempuling, sejenis tombak pakai <em>ghuit </em>diberi bertali yang cukup panjang dan lampu sinang cap gajah tiga. Tiga beradik, dengan sebuah perahu, turun ke Batang Kuantan. Sebelum mengayuh perahu, diam sejenak, mereka langsung tahu di mana buaya sedang berada. Perahu dikayuh menuju ke sana. Ketika buaya ditemukan, langsung ditombak dengan tempuling. Tempuling menancap tidak mudah terlepas karena <em>adaghuitnya, </em>tambahan pula kulit buaya itu keras. Setelah kena tombak, buaya tidak langsung menyerah. Kadang-kadang bisa sampai satu jam melakukan tarik ulur, sampai buaya kelelahan. Tidak jarang sampai terbelit tunggak. Kalau sudah demikian, tanpa ragu salah seorang terjun menyelam, melepaskan belitan tali itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga beradik ini bukan sekedar jago kandang, mereka sudah kesohor sampai ke daerah lain. Seorang anak pejabat di Minang, menjadi korban keganasan buaya. Mendengar ada tiga beradik sebagai pemburu buaya, pejabat itu langsung menghubungi dan minta bantuan untuk menangkap buaya yang memakan anaknya. Dengan membawa perahu sendiri yang dinaikkan ke atas bis, tiga beradik berangkat memburu buaya atas permintaan pejabat tersebut. Menggunakan perahu yang dibawa sendiri, tempuling mulai beraksi. Puluhan buaya, sudah menggeletak di atas pasir di tepi danau. Satu persatu dibantai dan perutnya dibelah. Dari perut salah satu buaya terdapat bagian dari tubuh dan pakaian anak pejabat yang menjadi korban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Karena senangnya hati pejabat tersebut, sampai memberikan lahan kebun untuk tiga beradik itu sebagai hadiah. Selain hadiah dan mendapatkan upah, kulit buaya yang mahal harganya itu pun menjadi milik mereka bertiga dan dibawa pulang. Kulit buaya mahal harganya, mereka jual dijadikan uang.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tradisi/batang-kuantan/">Batang Kuantan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tradisi/batang-kuantan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Paralegal Pemangku Adat Tiga Lorong</title>
		<link>https://tigalorong.id/tentangkita/pelatihan-paralegal-pemangku-adat-tiga-lorong/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tentangkita/pelatihan-paralegal-pemangku-adat-tiga-lorong/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elmustian Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 06:39:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tentang Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Utama]]></category>
		<category><![CDATA[kabar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=678</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pelatihan Paralegal Masyarakat Hukum Adat di Tiga Lorong di Simpang, Baturijal Hulu, Indragiri Hulu. Kegiatan...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tentangkita/pelatihan-paralegal-pemangku-adat-tiga-lorong/">Pelatihan Paralegal Pemangku Adat Tiga Lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pelatihan Paralegal Masyarakat Hukum Adat di Tiga Lorong di Simpang, Baturijal Hulu, Indragiri Hulu. Kegiatan berlangsung pada 27 – 29 November 2020. Pelatihan tsb. diberikan pemahaman intensif tentang masyarakat hukum adat Tiga Lorong, hukum acara pidana, analisis dan manajemen konflik, teknik pengumpulan data dan penulisan laporan, pengorganisasian, dan rencana tindak lanjut. Pemateri dari LAM Riau, Noval Setiawan (LBH Pekanbaru), Okto dan Suryadi (Jikalahari). Narahubung acara adalah Yongki Arisandi dan Roswinda.</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tentangkita/pelatihan-paralegal-pemangku-adat-tiga-lorong/">Pelatihan Paralegal Pemangku Adat Tiga Lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tentangkita/pelatihan-paralegal-pemangku-adat-tiga-lorong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kawasan Masyarakat Hukum Adat Tiga Lorong</title>
		<link>https://tigalorong.id/saujana/kawasan-masyarakat-hukum-adat-tiga-lorong/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/saujana/kawasan-masyarakat-hukum-adat-tiga-lorong/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elmustian Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2021 05:57:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Saujana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=649</guid>

					<description><![CDATA[<p>1. Gambaran UmumLuas kawasan masyarakat hukum adat Tiga Lorong Inderagiri, Riau seluas 168.166 Ha. Dalam...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/saujana/kawasan-masyarakat-hukum-adat-tiga-lorong/">Kawasan Masyarakat Hukum Adat Tiga Lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>1. Gambaran Umum</strong><br>Luas kawasan masyarakat hukum adat Tiga Lorong Inderagiri, Riau seluas 168.166 Ha. Dalam peta administrasi politik saat ini diapit oleh dua kabupaten di Riau, yakni Kabupaten Indragiri Hulu di bagian hilir sungai dan Kabupaten Kuantan Singingi di bagian hulu sungai. Sebagian lagi berada di Provinsi Jambi. Secara budaya juga diapit oleh dua wilayah budaya, yakni wilayah budaya Inderagiri yang patriarkhat dan wilayah budaya Rantau Kuantan yang matriarkhat. Secara geografi politis wilayah Tiga Lorong sebagian besar berada di Kabupaten Inderagiri Hulu, mulai dari kampung Pura di bagian hilir hingga ke Bukit Bertingkah di bagian hulu yang berada di Rantau Kuantan. Secara geo-administratif politik beberapa dusun yang merupakan anak kemenakan Lorong Baturijal Hulu berada di wilayah adat Cerenti. Beberapa wilayah Tiga Lorong masuk dalam aktivitas perkongsian Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Kuantan Singingi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa hal perkongsian itu adalah:</p>



<p class="wp-block-paragraph">a. Rawang Landai. <br>Nama sebuah kawasan larangan yang merupakan lahan pertanian dan perikanan yang berbentuk rawang. Rawang Landai ini terletak di perbatasan antara Indragiri hulu dengan rantau Kuantan. Dinamakan Rawang Landai karena rawang maksudnya adalah dataran rendah yang digenangi air dan landai berarti permukaan yang rendah atau tebing yang landai. Sudah menjadi tradisi dari dahulu masyarakat Tiga Lorong khasnya kenegerian Baturijal dan masyarakat adat Cerenti sekali setahun melaksanakan <em>meghawang basamo, </em>tradisi menangkap ikan bersama. Mereka bersatu atau bergabung untuk <em>meghawang</em> bersama-sama di kawasan ini. Tradisi <em>menghawang</em> ini menjadi semacam momen perdamaian antara masyarakat adat Baturijal dengan Cerenti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">b. Lahan Perkebunan<br>Sejumlah 834 hektar lahan perkembunan milik masyarakat hukum Tiga Lorong terletak di masyarakat Rantau Kuantan. Lahan ini menjadi HGU PT Perkebunan V.</p>



<p class="wp-block-paragraph">2. Sejarah Awal Kawasan Tiga Lorong<br>Disebutkan dalam manuskrif Tembo Baturijal bahwa kawasan Tiga Lorong itu berada: <em>“di atas <strong>tanah yang sejuk, rumput yang muda, air yang jernih, ikan yang jinak</strong> yang diberikan oleh raja yang berdua datuk yang berdua pada pengulu yang bertiga beradik dengan ditetapkan di watas-watasnya seperti yang tersebut”. </em><strong>Tanah yang sejuk</strong>, maksudnya; wilayah pemberian ikhlas dari raja atas mufakat menteri-menteri, pengulu-pengulu serta orang tuatua, dan bukanlah tanah rebutan. <strong>Rumput yang muda</strong>, maksudnya; tanah baru, atau wilayah kekuasaan baru yang belum pernah dihuni sebelumnya. <strong>Air yang jernih</strong>, maksudnya; diberikan otoritas dalam membangun pemerintahan kepenghuluan sendiri, tanpa harus merujuk pada kekuasaan adat di Inderagiri. <strong>Ikannya jinak</strong>, maksudnya; dianugerahkan masyarakat yang patuh setia dalam wilayah kuasa perintah penghulu yang bertiga itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara historis, kawasan Tiga Lorong terdiri dari beberapa tahap sejarah, yakni a) batas Tiga lorong versi awal; b) Batas Tiga Lorong Anugerah Raja Inderagiri, c) Batas Kawasan Tiga Lorong 1918, d) Batas Tiga Lorong tahun 1938, d) Kawasan Tiga kepenghuluan, dan e) Batas Tiga Lorong Sekarang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">a. Batas Tiga Lorong versi Awal<br>Batas Tiga Lorong versih awal ini tercatat dalam manuskrif Tambo Tiga Lorong, Tiga Beradik Menang Taruhan. Diperkiran sejak abad ke-16 dalam peristiwa huru-hara yang dilakukan Rajo Dubalang mengintervensi kerajaan Inderagiri. Dalam pelbagai catatan tentang kekuasaan di sebelah hulu dari batang Kuantan yang bernama Pagaruyung perkirakan abad ke-13 hingga abad ke-14. Tiga beradik ditugaskan untuk menumpas raja zalim dari Pagaruyung. Dalam Tambo itu disebutkan batas-batas kawasan Tiga Lorong, yakni:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>orang tiga beradik &#8211; tanya – berapa &#8211; taruhnya &#8211; Tuanku? &#8211; jawab &#8211; Siaja- Dubalang &#8211; taruhnya &#8211; tanah – Inuman &#8211; di sebelah kiri mudik – sungai Inderagiri &#8211; lebar &#8211; panjangnya &#8211; penghabisan &#8211; pemandangan – di gelanggang &#8211; Sibuayatinggi taruh &#8211; orang tiga beradik &#8211; tanah &#8211; Danau &#8211; Koto &#8211; Seambung – di sebelah kiri mudik Sungai Inderagiri lebar &#8211; panjangnya – penghabisan pemandangan &#8211; juga &#8211; di tempat itu</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">b. Batas Tiga Lorong Anugerah Raja Inderagiri<br>Diangkatlah tiga beradik itu jadi penghulu Tiga Lorong. Sembilu Jati, saudara tuanya diangkat jadi penghulu Pematang bergelar Dana Lela, diberi bendera hitam. Kawasannya Pematang mengarah ke Batanghari. Yang tengah kemenakannya  bernama Jo Mahkota, diangkat jadi pengulu Baturijal Hulu. Kawasannya mengarah ke Kuantan. Dianugerahi bendera merah. Jo Mahkota mendapat satu lagi bendera hitam yang merupakan karunia raja Kuantan.  Sedangkan anaknya bernama Tiala diangkat menjadi Lela Diraja diangkat menjadi pengulu Baturijal Hilir. Kawasan kekuasaannya mengarah ke Inderagiri. Lela Diraja diberi bendera putih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Tembo disebutkan:<br><em>adapun &#8211; disebutkannya &#8211; tiga orang tiga beradik itu pada raja memintak: &#8211; tiada lengkang nek panas &#8211; tiada lapuk &#8211; nek ujan &#8211; seumur hidup – Jawab Raja: – baiklah &#8211; seandainya &#8211; raja &#8211; tempoh 8 hari.50 Di dalam 8 hari itu &#8211; rapat menteri dengan orang &#8211; tua-tua di kampung &#8211; di istana raja &#8211; mencari – perihal &#8211; tuju cakap pemintaan – orang tiga beradik itu segala menteri-menterinya51 dengan orang tua-tua &#8211; di kampung &#8211; nasip digarangkan Allah pikirannya52 – masingmasing sepakat dapat – jawabnya &#8211; tuju cakap pemintaan &#8211; orang tiga beradik itu diberi pangkat &#8211; sampai 8 hari &#8211; disebutkan pada orang tiga beradik itu &#8211; oleh raja &#8211; betul &#8211; tuju cakap pamintaan – orang tiga beradik? &#8211; jawab &#8211; orang tiga beradik &#8211; betul &#8211; itu &#8211; dipanggil – oleh raja &#8211; segala &#8211; menteri-menterinya &#8211; serta dengan &#8211; rakyat kumpul – di istana raja &#8211; teruslah &#8211; diangkat – jadi pengulu &#8211; Tiga Lorong53 nen tua &#8211; saudaranya – nama Sembilu Jati &#8211; diangkat Dana Lela54 pengulu Pematang &#8211; lawan ke Batanghari hitam benderanya &#8211; kurnia raja Inderagiri55 &#8211; nen tengah &#8211; kemenakannya &#8211; nama Jo Mahkoto &#8211; diangkat &#8211; Jo Mahkoto pengulu Baturijal Hulu &#8211; lawan ke Kuantan &#8211; merah &#8211; benderanya56 &#8211; kurnia raja Inderagiri &#8211; dan bendera hitamnya &#8211; kurnia raja Kuantan &#8211; nen kecik &#8211; anaknya &#8211; nama – Tiala &#8211; diangkat &#8211; Lela Diraja57 – pengulu Baturijal Hilir &#8211; lawan &#8211; ke Inderagiri &#8211; putih benderanya58 kurnia raja Inderagiri &#8211; sudah diangkat jadi pengulu dapat tempat dikurnia raja &#8211; yang berdua &#8211; datuk yang berdua &#8211; tanah &#8211; Tiga Lorong59 – kepada pengulu bertiga beradik &#8211; adalah &#8211; pengulu yang bertiga &#8211; beradik – itu dijadikan &#8211; anak mas60 &#8211; oleh raja berdua &#8211; datuk yang berdua61 – dan dapat kurnia mati62 &#8211; tanah – Tiga Lorong &#8211; serta berjanji buat &#8211; atas sumpah &#8211; pengulu &#8211; yang bertiga beradik &#8211; dengan raja &#8211; yang berdua – datuk yang berdua &#8211; tiadalah boleh ‘akal buruk63 &#8211; budi merangkak64 &#8211; menggunting dalam lipatan65 &#8211; memakan darah &#8211; di dalam66 &#8211; dimakan sumpah &#8211; seribu siang dan seribu malam &#8211; ke atas dak bepucuk &#8211; ke bawah dak &#8211; beurat – dikutuki kuran &#8211; tiga puluh jus67 &#8211; itulah janji buat &#8211; yang dipegang penghulu &#8211; yang bertiga beradik &#8211; dengan raja &#8211; yang berdua &#8211; datuk yang berdua &#8211; waktu dapat kurnia &#8211; tanah – Tiga Lorong &#8211; pada raja &#8211; yang berdua &#8211; datuk yang berdua &#8211; sudah &#8211; membunuh Siaja-Dubalang – di Sibuayatinggi &#8211; seandainya &#8211; pengulu-pengulu yang ada &#8211; berjanji buat &#8211; dengan sumpah &#8211; dengan raja yang dua &#8211; datuk yang dua &#8211; pengulu yang bertiga beradik &#8211; ditetapkan &#8211; tempat tinggalnya –</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">(angka-angka pada teks di atas merupakan letak baris dalam naskah kuno Tambo Tiga Lorong, sebagai pertanggung jawaban filologis).</p>



<p class="wp-block-paragraph">c. Batas Kawasan Tiga Lorong 1918</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Pada tanggal 16 April 1918 pengulu-pengulu bahagian Peranap mengadakan rapat di kantor Sutan Muda Peranap. Disepakati bahwa aturan-aturan batas pengulu-pengulu bahagian Peranap. Rapat dihadiri raja dan  menteri jabatan Sutan Muda Peranap. Adapun kesepakatan adalah:
<ol class="wp-block-list">
<li>Pengulu Haji Sungut (Pematang)</li>



<li>Pengulu Haji Husin (Pematang)</li>



<li>Pengulu Sahit (Baturijal Hulu)</li>



<li>Pengulu Haji Usman (Baturijal Hilir)</li>



<li>Pengulu Jusuf (Gumanti)</li>



<li>Pengulu Lugun (Peranap)</li>



<li>Pengulu Mara Sutan (menteri kota Peranap)</li>



<li>Taib Pengulu (wakil pengulu Baturijal Hilir)</li>



<li>Pengulu Salim (Gumanti)</li>



<li>Pengulu Darus (Peranap) dan lain-lain manti juga.</li>
</ol>
</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>d. Batas Kawasan Tiga Lorong 1938</strong></p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Batas kawasan Tiga Lorong 20 tahun kemudian disepakati lagi dengan batas wilayah dapat dilihat pada tembo sebagai berikut:</li>
</ul>



<ul class="wp-block-list">
<li>Di sebelah hilir &#8211; sebelah kanan mudik sungai Inderagiri &#8211; di tebing Kuantan Siampu Babu &#8211; menuju ke Tanah Bukit atau Tanah Betingkah &#8211; dan jalan raya Rengat &#8211; Taluk – dari jalan raya &#8211; Rengat &#8211; Taluk sebelah darat &#8211; menuju Sungai Siampa &#8211; Muara Jalai jaraknya &#8211; 3600 meter &#8211; dari Sungai Siampa &#8211; Muara Jalai lurus ke darat &#8211; menuju Bekal Bekuak72 &#8211; watas dengan Paduka Raja – Cerenti dilihat kar (<em>kaart </em>Blnd.) pemerintah tahun 1938 dari butir Cerenti pada tanggal 21/8 61 bersetuju dengan riwayat &#8211; pengulu Tiga Lorong &#8211; watas pengulu Baturijal dengan pengulu Cerenti &#8211; dari Sungai Danau Lesung &#8211; ke hulu sampai ke Tanah Bukit atau Tanah Betingkah &#8211; berukur &#8211; 1200 meter &#8211; itulah – watas pengulu &#8211; yang dulu &#8211; di sebelah kiri mudik Sungai Inderagiri &#8211; di tebing Kuantan &#8211; Sungai Tolo-tolo -di tengah-tengah Sungai Kelengkeleng menuju Air Berkuak – watas dengan pengulu &#8211; Cerenti di sebelah hilir &#8211; sebelah kanan berjalan ke hilir &#8211; Sungai Inderagiri &#8211; di tebingKuantan &#8211; Kayu Ara &#8211; Anjing Balik73 &#8211; watas dengan pengulu – Perdana atau Koto Baru &#8211; di tengah-tengah Penyeberangan Gajah &#8211; lurus ke darat &#8211; berwatas dengan Datuk Patih74 &#8211; di sebelah kiri &#8211; hilir -Sungai Inderagiri di tebing Kuantan &#8211; ekor pulau diapit atau bambin &#8211; badiri &#8211; menuju Serik (Sorek?) berjajar &#8211; tengah-tengah Sungai Malin &#8211; menuju Bekal Bekuak – Dua &#8211; lurus &#8211; menuju Bakal Bakuak &#8211; watas dengan Orang Kaya &#8211; Setia &#8211; Muara &#8211; maka diterangkan dengan sebenarnya &#8211; di muka &#8211; yang ramai &#8211; pada orang-orang cerdik pandai – di kampung Pematang &#8211; (1) tuan hakim &#8211; (2) tukang Metaja Lela &#8211; (3) datuk Berambin &#8211; di kampung Pematang &#8211; maka memenyalah75 buattan &#8211; orang yang &#8211; bertiga beradik itu &#8211; akan buattan &#8211; pengulu – yang bertiga itu &#8211; maka adalah – buattan &#8211; pengulu yang bertiga &#8211; di dalam &#8211; Tiga Lorong &#8211; yang dipegang &#8211; buattan &#8211; yang bertiga itu – maka tiadalah beroleh seperti buattan tua-tua membagi ‘adat – istiadat &#8211; yang beribu76 kalau masa gagak hitam &#8211; kuntul putih &#8211; ber’adat &#8211; istiadat &#8211; berpesaka &#8211; berunding &#8211; berbaris &#8211; berlarang – berpantangan &#8211; maka tiadalah &#8211; bertukar dan &#8211; berselang pakaian &#8211; pengulu yang bertiga di dalam Tiga Lorong77 &#8211; maka diterangkan – buattan pengulu yang bertiga beradik – itu pada Tiga Lorong mendapat – tanah &#8211; berlaba &#8211; jika kehilangan sama kerugian &#8211; jika &#8211; hilang sama – hilang &#8211; jika &#8211; timbul &#8211; sama &#8211; timbul &#8211; jika &#8211; baik &#8211; sama baik &#8211; jika &#8211; buruk – sama &#8211; buruk &#8211; itulah &#8211; buattan pengulu &#8211; tiga beradik78 &#8211; maka adalah – yang memberi ‘adat &#8211; istiadat – pengulu yang bertiga beradik &#8211; raja berdua &#8211; datuk yang berdua &#8211; masa &#8211; mengurniakan &#8211; tanah Tiga Lorong &#8211; sudah &#8211; membunuh &#8211; Siaja-Dubalang &#8211; di di Sibuayatinggi &#8211; demikianlah adanya – perjanjian kami dengan sumpah raja berdua &#8211; datuk yang berdua – dengan pengulu &#8211; yang bertiga beradik – di =Tiga Lorong=</li>
</ul>



<ul class="wp-block-list">
<li> keputusan rapat pengulu-pengulu bahagian Peranap &#8211; menurut ‘adat watas pengulupengulu bahagian Peranap yang sudah dilakukan &#8211; tiap-tiap pengulu &#8211; tidak dapat &#8211; diubah lagi – seandainya ialah sepakat &#8211; pengulu-pengulu &#8211; menentapkan &#8211; menurut – aturan aturan yang resmi sebagaimana yang sudah &#8211; dilakukan – tiaptiap pengulu &#8211; menteri – jabatan Sutan Muda &#8211; Peranap mengatur membuat jalan tanah 1918 seperti yang tersebut –</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>e. Kawasan Tiga kepenghuluan.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan datuk di kenegerian Tiga Lorong itu kemudian berubah nama menjadi datuk penghulu. Penghulu diangkat secara adat dengan kesepakatan bersama dengan kriteria sebagai berikut: mempunyai budi (moral) yang tinggi, berbicara halus dan berani mengatakan yang benar, sabar dan murah hati, berpengetahuan, dan bertanggung jawab. Kewenangan Datuk Penghulu itu “ditinggikan seranting, didahulukan selangkah” yang bermahkotakan alur dan patut. Adapun hierarki kekuasaannya adalah, sbb.:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kamanakan baghajo ka nenek mamak</em><br><em>Nenek Mamak baghajo ke pangulu</em><br><em>Pangulu baghajo ka mufakat</em><br><em>Mufakat baghajo ka nen bena&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</em><br><em>Nen bena badighi saniri</em><br><em>Nen dilingkup alua nen patut</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Penghulu menjalankan kewajibannya menegakkan adat. Kewenangannya dikatakan sebagai “penghulu menghukum sepanjang adat”. Dalam menjalankan kewajibannya ini penghulu dibantu oleh:&nbsp; <em>m</em><em>e</em><em>nti</em>/<em>dupati</em>, dan <em>dubalang</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kawasan tiga kepenghuluan berikut ini</p>



<ol style="list-style-type:lower-alpha" class="wp-block-list">
<li><strong>Kawasan Penghulu Pematang</strong></li>



<li>Di sebelah hulu &#8211; di tebing Kuantan -sebelah kiri mudik Sungai InderagiriSungai Silunak &#8211; watas dengan pengulu Baturijal Hilir &#8211; di sebelah hilir &#8211; di tebing Kuantan &#8211; Sungai Inderagiri kanan hilir -dengan Sungai Cik Mati – atau Sungai Batang Peranap – watas dengan pengulu &#8211; Peranap –</li>
</ol>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Kawasan Penghulu Baturijal Hilir</strong></li>



<li>Di sebelah hilir – di tebing Kuantan &#8211; Sungai Inderagiri &#8211; di sebelah kiri hilir &#8211; dengan &#8211; Muara Sungai &#8211; Kuantan Babu – atau &#8211; Sungai Kali Mas &#8211; watas dengan Pulau Gumanti &#8211; lurus ke darat &#8211; sampai Air Simpang Dua &#8211; Kali Mas &#8211; di sebelah hulu &#8211; di tebing Kuantan &#8211; Sungai Inderagiri &#8211; di sebelah kanan berjalan ke hulu &#8211; dengan Sungai Paluh &#8211; Batulaga &#8211; atau &#8211; Gaung &#8211; Tengah &#8211; tepian pengulu &#8211; yang dua beradik di Batu Ijau &#8211; waktu merintis tanah membuat kampung Batu Ijau &#8211; watas dengan Pengulu – Jo Mahkota di Batu Ijau &#8211; hulu –</li>
</ul>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Kawasan Penghulu Baturijal Hulu</strong></li>



<li>Di sebelah hulu kanan mudik – diBatang Kuantan &#8211; Sungai Inderagiri- Siampo Babu &#8211; menuju ke tanahBukit &#8211; itu tanah Betingkah – danjalan raya &#8211; watas dengan PadukaRaja Cerenti &#8211; di sebelah hulu kirimudik &#8211; di tebing Kuantan – SungaiInderagiri &#8211; Sungai Tolo-tolo ditengah-tengah Sungai Kelengkelengmenuju Air Berkuak – watasdengan pengulu Cerenti &#8211; di sebelah hilir kanan hilir – ditebing Kuantan &#8211; Sungai Inderagiri- Rawang Koto Tuo &#8211; watas denganpengulu Baturijal Hilir &#8211; di sebelahhilir &#8211; kiri hilir &#8211; di tebing Kuantan -Sungai Inderagiri &#8211; dengan Paluh- Batulaga &#8211; atau Gaung Tengah -watas dengan Baturijal Hilir.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>e. Batas Tiga Lorong Sekarang</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kawasan masyarakat adat Tiga Lorong sekarang setelah masa reformasi secara umum tetap tidak berubah yakni berbatasan dengan sebelah hulu Rantau Kuantan, sebelah hilir dengan masyarakat adat Dusun nan Limo.</p>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow">
<figure class="wp-block-table alignwide"><table><tbody><tr><td><strong>No.</strong></td><td><strong>Kawasan Adat</strong></td><td><strong>Wilayah Administratif</strong></td><td><strong>Keterangan</strong></td></tr><tr><td>1.</td><td>Peranap</td><td>Kelurahan Peranap</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>2.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Pauh Ranap</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>3.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Gumanti</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>4.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Setako Raya</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>5.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Semelinang Laut</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>6.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Semelinang Tebing</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>7.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Ketipo Pura</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>8.</td><td>Baturijal Hulu</td><td>Desa Baturijal Barat</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>9.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Baturijal Hulu</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>10.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa pandan wangi</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>11.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Serai Wangi</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>12.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Semelinang Darat</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>14.</td><td>Baturijal Hilir</td><td>Kel. Baturijal Hilir</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>15.</td><td>Pematang/Selunak</td><td>Desa Pematang</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>16.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Pematang benteng</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>17.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Selunak</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>18.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Sukamaju</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>19.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Koto Tuo</td><td>Dulu kawasan adat Baturijal Hulu</td></tr><tr><td>20.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Pesajian</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>21.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Punti kayu</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>22.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Sencano jaya</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>23.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Sungai Aur</td><td>&nbsp;</td></tr><tr><td>24.</td><td>&nbsp;</td><td>Desa Peladangan</td><td>&nbsp;</td></tr></tbody></table></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Peta Partisipatif Kawasan Masyarakat Hukum Adat Tiga Lorong</strong></p>
</div></div>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="484" height="355" src="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/peta.jpg" alt="" class="wp-image-654" srcset="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/peta.jpg 484w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/peta-300x220.jpg 300w" sizes="(max-width: 484px) 100vw, 484px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/saujana/kawasan-masyarakat-hukum-adat-tiga-lorong/">Kawasan Masyarakat Hukum Adat Tiga Lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/saujana/kawasan-masyarakat-hukum-adat-tiga-lorong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Masyarakat Hukum Adat Tiga Lorong</title>
		<link>https://tigalorong.id/tembo/sejarah-masyarakat-hukum-adat-tiga-lorong/</link>
					<comments>https://tigalorong.id/tembo/sejarah-masyarakat-hukum-adat-tiga-lorong/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Elmustian Rahman]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Dec 2021 08:05:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tembo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tigalorong.id/?p=622</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tiga Lorong adalah kawasan kekuasaan yang otonom di bawah Kerajaan Inderagiri yang berbatasan dengan Rantau...</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tembo/sejarah-masyarakat-hukum-adat-tiga-lorong/">Sejarah Masyarakat Hukum Adat Tiga Lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Tiga Lorong adalah kawasan kekuasaan yang otonom di bawah Kerajaan Inderagiri yang berbatasan dengan Rantau Kuantan. Kawasan ini merupakan anugerah yang diberikan oleh Yang Dipertuan Besar Raja Inderagiri kepada Tiga Beradik karena dengan gemilang menjaga marwah dan martabat Kerajaan Inderagiri. Kawasan ini dihuni masyarakat hukum adat yang kini ditempati dua kecamatan, yakni Kecamatan Peranap dan Kecamatan Batang Peranap Kabupaten Inderagiri Hulu, Riau, Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kerajaan Inderagiri diperkirakan berdiri pada tahun 1298 dengan rajanya yang pertama Raja Merlang. Pada masa kekuasaannya urusan pemerintahan dijalankan oleh Perdana Menteri Datuk Patih dan Datuk Temenggung Kuning. Setelah Raja Merlang wafat Kerajaan Inderagiri kemudian digantikan putranya Nara Singa. Masyarakat Kerajaan Inderagiri hidup makmur rukun dan sentosa. Tercatat 23 raja atau sultan yang berkuasa di kerajaan ini sampai berakhirnya imperium ini (Ahmad Yusuf; 1994:37-80).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada masa pemerintahan Raja Hasan yang bergelar Sultan Salahuddin Syah yang berlangsung 1735-1765, pendu­duk Inderagiri mulai mencemaskan oleh kedatangan ekspansi dari Kerajaan Pagaruyung. Mereka melihat kawasan Kerajaan Inderagiri memiliki lahan pertanian yang subur dan keadaan aman, nyaman, dan sepertinya mudah dikuasai. Inderagiri merupakan sebuah kerajaan yang memiliki hasil bumi yang berlimpah. Ada dua kali ekspansi Raja Dobalang atau Siaja Dobalang ke kawasan Inderagiri, yakni perluasan kekuasaan hingga ke Sumpur Kudus. Kerajaan Pagaruyung pun berambisi pula memperluas kekuasaan berikutnya di daerah-daerah hilir. Penaklukan terjadi di daerah-daerah seperti Taluk, Baserah, dan Cerenti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Siapakah Siaja Dubalang ini? Tembo mengisahkan:</p>



<pre class="wp-block-verse">Siaja Dubalang di Sibuayatinggi sebabnya ialah meraja-rajakan diri serta meramaikan gelanggang sabung judi melarikan anak gadis orang dan anak bini orang, melawan rakyatnya dibunuh</pre>



<p class="wp-block-paragraph">Istana Inderagiri di Pekantua sangat merisaukan situasi yang genting itu dan mulai mencari usaha-usaha mengatasinya. Yang Dipertuan Besar turun tangan, berangkat ke hulu. Keadaan yang genting ini dapat dilihat pada tembo Tiga Lorong berikut ini:</p>



<pre class="wp-block-verse">Maka berangkatlah mudik Duli Yang Dipertuan Besar4 di Inderagiri pada zaman Raja duduk di Pekantua lalu berangkat ke Peranap karena susah mendengarkan budi Siaja Dubalang5 karena Siaja-Dubalang itu meraja-rajakan dirinya6 di Koto Sibuayatinggi. Setelah sampai raja itu di Peranap lalulah berfikir hendak mencari hulubalang. Lalu dipanggilnya Siaja Pengulu7 mintak carikan hulubalang. Lalu dilihatnya kayu anyut ada bagainya cencang orang pada kayu itu.8 Jikalau begitu ada orang duduk di hulu air.9 Maka mudiklah Siaja Pengulu itu. Telah sampai di Koto Sembung lalu bertemulah dengan orang yang bertiga itu. Maka kata Siaja Pengulu – raja memanggil hilir ke istananya di Pekantua.10 &nbsp;Orang yang bertiga itu pun datanglah mengadap raja di Pekantua. Jadi, kata raja – kami ada hajat pada orang tiga beradik.</pre>



<p class="wp-block-paragraph">Kedatangan Sultan ke Peranap yang merupakan tempat Sutan Muda bertahta sebagai wakil Yang Dipertuan Besar dengan kekuasaan mengurus bagian hulu Inderagiri menandakan sesuatu yang sangat serius. Keberangkatan Yang Dipertuan Besar Sultan Hasan Salahuddin Syah ke Peranap (1735-1784) untuk menemui siapa saja yang mampu menghalangi dan mengatasi Siaja Dubalang. Sutan Muda mengetahui memberitahukan kepada Siaja Pengulu atau datuk Temenggung yang memerintah sebagai Raja di Rantau ketika itu. Tiga beradik menang tanding melawan angkara murka, zalim, dan durjana yang bernama Rajo Dubalang. Selamatlah Kerajaan Inderagiri. Tiga Beradik berjuang dengan keikhlasan, namun besarnya jasa raja Dubalang kepada kerajaan membuat sultan menitahkan kepada Tiga Beradik, apa sebaiknya anugerah yang diberikan. Akhirnya, Tiga beradik pun menjelaskan melalui metafora: <em>tiada lengkang nek</em><em> </em><em>panas</em> <em>tiada lapuk nek ujan</em><em>.</em> Sultan Inderagiri pun tidak mau gegabah memahaminya dan meminta pertimbangan menteri-menteri dan para pembesar kerajaan.</p>



<pre class="wp-block-verse">Dipanggil oleh raja segala menteri-menterinya serta dengan rakyat kumpul di istana raja. Teruslah diangkat jadi pengulu Tiga Lorong. Nen tua&nbsp; saudaranya nama Sembilu Jati diangkat Dana Lela pengulu Pematang lawan ke Batanghari, hitam benderanya kurnia raja Inderagiri. Nen tengah kemenakannya nama Jo Mahkota diangkat Jo Mahkota pengulu Baturijal Hulu lawan ke Kuantan, merah benderanya kurnia raja Inderagiri dan bendera hitamnya kurnia raja Kuantan. Nen kecik - anaknya nama Tiala diangkat Lela Diraja, pengulu Baturijal Hilir lawan ke Inderagiri, putih benderanya kurnia raja Inderagiri.</pre>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak itu ditetapkanlah tiga beradik itu menjadi penghulu Tiga Lorong, yang terbagi menjadi tiga wilayah kepenghuluan. Istilah <em>lorong</em> yang diberikan di sini untuk wilayah kepenghuluan tersebut memang menarik untuk ditelusuri, karena istilah ini dikenal di Sulawesi, bahwa makna ‘lorong’ sama dengan ‘kampung’. Setelah terbunuhnya Si Aja Dubalang, pernah terjadi peperangan antara pihak Minangkabau dengan Inderagiri, sempat pula Sultan Hasan dapat dikalahkan. Inderagiri direbut oleh Raja Bayang beserta saudaranya Raja Hijau, Raja Mestika, dan Raja Lais. Raja Haji datang ke Inderagiri memerangi empat anak raja Minangkabau itu sehingga tewas keempatnya (Hooker VM 1991;312 &amp; 313). Istilah Tiga Lorong tersebut dikait-kaitkan pula pengaruh keberadaan Raja Haji beserta pasukan bugisnya (Junaidi Syam, Mardan Jo Mangkuto, dan Elmustian, 2013: 99).</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="alignleft size-medium"><img loading="lazy" decoding="async" width="300" height="175" src="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/tembo-300x175.jpg" alt="" class="wp-image-522" srcset="https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/tembo-300x175.jpg 300w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/tembo-1024x596.jpg 1024w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/tembo-768x447.jpg 768w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/tembo-820x480.jpg 820w, https://tigalorong.id/wp-content/uploads/2021/12/tembo.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption>Gambar 1. Tembo Tiga Lorong</figcaption></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan dianugerahnya kekuasaan kepada tiga Beradik sekaligus juga ditandai dengan penyerahan bendera. Bendera warna hitam diserahkan kepada Datuk Danang Lela. Bendera merah kurnia Raja Inderagiri diserahkan kepada Datuk Jo Mahkota. Jo Mahkota selain itu juga mendapatkan bendera hitam dari Raja Kuantan. Bendera hitam adalah lambang kebesaran adat bagi masyarakat kebanyakan. Karena raja Inderagiri berasal dari Johor yang memakai adat waris menurut jalur anak, maka tepatlah jika Datuk Bendahara atau Datuk Temenggung Inderagiri menyerahkan waris bendera adat hitam kepada Sembilu Jati, karena dia adalah pihak anak bagi Datuk Kibaya.56 Bendera merah dikurniakan Yang Dipertuan Besar Inderagiri karena keberaniannya. Itu tergambar ketika Jo Mahkoto memilih pedang jenawi sebagai senjata. Pedang adalah lambang kebesaran panglima dan hulubalang. Sembilu Jati memilih keris, yang hubungannya dengan adat. Lagi pula, bendera hitam telah dikurniakan oleh raja Kuantan kepada Jo Mahkota, sehingga Jo Mahkota memiliki dua karunia sekaligus. Posisi Baturijal Hulu dalam pemerintahan Jo Mahkoto strategis diletakkan di perbatasan langsung dengan raja Kuantan, agar bila-bila masa ada serangan dari pihak Pagaruyung dapat diantisipasi terlebih dahulu. (Junaidi Syam, Mardan Jo Mangkuto, dan Elmustian, 2013: 94).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga Lorong setelah peristiwa itu menjadi anak emas Sultan Inderagiri, yang juga diimbangi oleh sumpah setia Tiga Beradik, seperti yang dijelaskan dalam Tembo Tiga Lorong.</p>



<pre class="wp-block-verse">sudah diangkat jadi pengulu dapat tempat dikurnia raja yang berdua datuk yang berdua, tanah Tiga Lorong kepada pengulu bertiga beradik adalah &nbsp;pengulu yang bertiga beradik itu dijadikan anak mas oleh raja berdua datuk yang berdua dan dapat <em>kurnia mati</em> tanah Tiga Lorong serta berjanji buat atas sumpah pengulu yang bertiga beradik dengan raja yang berdua datuk yang berdua: Tiadalah boleh ‘akal buruk budi merangkak menggunting dalam lipatan memakan darah di dalam dimakan sumpah, seribu siang dan seribu malam, ke atas dak bepucuk ke bawah dak beurat, dikutuki Qur’an tiga puluh jus. Itulah janji buat yang dipegang penghulu yang Bertiga Beradik dengan raja yang berdua datuk yang berdua.</pre>



<p class="wp-block-paragraph">Dari fakta ini, wajar pulalah Tiga Lorong diberi hak khusus dalam mengatur ekonomi negerinya, seperti yang dituliskan pada dokumen Belanda yang berjudul “Eenige berigten omtrent Indragiri op de Ooskust van Sumatra” yang terbit tahun 1842, di dalam <em>Tijdschrift voor Nederlands Indie</em> [Majalah untuk Hindia-Belanda], tahun keempat jilid pertama, halaman 540-546. Batavia: Land Drukkerij. Tidak disebutkan siapa penulisnya.:</p>



<pre class="wp-block-verse">Tanah kerajaan Inderagiri, kecuali Tiga Lorong, adalah milik raja, para pembesar, dan anak-anak raja atau kerabat yang bertalian darah dengan raja. Masing-masing mereka memiliki bagian tertentu, dan dari tanah bagiannya itu ia mendapatkan hasil, baik dengan mengolahnya sendiri, maupun dengan menyewakannya. Bila ada orang lain ingin menggarap tanah bagiannya itu untuk berladang, maka setiap kali orang itu menggunakannya, ia harus membayar. Untuk tanah milik Sutan, pajak tidak dibayar langsung padanya. Orang-orang yang mengolah tanah Sutan ini mempersembahkan sebagian kecil dari hasil yang diperolehnya kepada Sang Raja</pre>



<p class="wp-block-paragraph">Perlakuan khusus juga berlaku pada pengaturan hukum misalnya, seorang peneliti Belanda ketika berkunjung ke Tiga Lorong, melihat bahwa wilayah Tiga Lorong diberi hak otonomi dalam penegakan hukum, seperti yang dinukilkan dalam sebuai esai pendek berjudul “Eenige berigten omtrent Inderagiri op de Ooskust van Sumatra” yang terbit tahun 1842, di dalam <em>Tijdschrift voor Nederlands Indie</em> [Majalah untuk Hindia-Belanda], tahun keempat jilid pertama, halaman 540-546. Batavia: Land Drukkerij. Tidak disebutkan siapa penulisnya.</p>



<pre class="wp-block-verse">Lebih ke hulu, terdapat kampung Peranap yang namanya sama dengan sungai yang ada di situ, dan bermuara ke Sungai Inderagiri. Empat jam lebih ke hulu, di tepi Inderagiri, terletak Baturijal; dan enam jam dari Peranap ke hulu, terdapat kampung Pematang. Ketiga tempat ini merupakan satu kesatuan wilayah yang disebut Tiga Lorong. Penduduk kerajaan ini sejak awalnya adalah orang-orang Melayu. Ada beberapa perbedaan mencolok antara mereka dan orang-orang Melayu di Pantai Barat Sumatera; antara lain dalam hal pergantian pemimpin, hukuman terhadap kejahatan, dan sebaginya. Di Tiga Lorong, sudah diadatkan bahwa anak kandung dan anak saudara perempuan memiliki hak yang sama untuk menggantikan pemimpin; tidak seperti di Pantai Barat, hanya anak-anak dari saudara perempuan yang boleh mewarisi kekuasaan. Selanjutnya, tentang hukuman atas kejahatan, di sini dengan baik berlaku hukuman denda secara pribadi untuk kejahatan ringan; untuk kasus pembunuhan, ada hukuman mati dengan keris; sedangkan untuk pencurian, hukumannya potong tangan dan kaki. Bila timbul perselisihan antara penduduk Kuantan dan Inderagiri, diterapkan hukum adat yang disebut <em>talian</em>. Hukum ini menyatakan bahwa apabila masih ada beberapa ketidaksepakatan atau belum diselesaikan, maka komunitas antara kedua orang atau pihak yang bersengketa itu terputus. Untuk memperbaikinya, pihak yang tersinggung atau penuntut, dapat menggunakan dua cara. Pertama, <em>manuk mati</em>, yaitu ia pergi menantang pihak dari komunitas lawannya itu dengan senjata; dan yang kedua, <em>manuk hidup</em>, yaitu mengekang dan membekukan barang-barang komersial yang diperkirakan diangkut oleh komunitas itu. Ketika pihak yang tersinggung atau penuntut ingin menerapkan adat ini, maka ia memberi tanda dengan mengikat tali rotan di seberang sungai, dan menunggu di tali itu. Dari situlah kata “<em>tali+an</em>” dalam konteks adat berasal.</pre>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dilihat dari luas wilayah Kecamatan Peranap dan Kecamatan Batang Peranap sekarang ini maka wilayah Tiga Lorong pada mulanya jauh lebih luas, berikut ini kutipan Tembo Tiga Lorong.</p>



<pre class="wp-block-verse">Semasa anugerah Tiga Lorong memiliki batas-batasnya: di sebelah hilir - sebelah kanan mudik sungai Inderagiri - di tebing Kuantan Siampu Babu - menuju ke Tanah Bukit atau Tanah Betingkah - dan jalan raya Rengat - Taluk – dari jalan raya - Rengat - Taluk sebelah darat - menuju Sungai Siampa - Muara Jalai jaraknya - 3600 meter - dari Sungai Siampa - Muara Jalai lurus ke darat - menuju Bakal Bekuak - watas dengan Paduka Raja Cerenti dilihat kar (<em>kaart </em>Blnd.) pemerintah tahun 1938 dari butir Cerenti pada tanggal 21/8 61 bersetuju dengan riwayat - pengulu Tiga Lorong - watas pengulu Baturijal dengan pengulu Cerenti - dari Sungai Danau Lesung - ke hulu sampai ke Tanah Bukit atau Tanah Betingkah - berukur - 1200 meter - itulah – watas pengulu - yang dulu - di sebelah kiri mudik Sungai Inderagiri - di tebing Kuantan - Sungai Tolo-tolo - di tengah-tengah Sungai Kelengkeleng menuju Air Berkuak – watas dengan pengulu - Cerenti di sebelah hilir - sebelah kanan berjalan ke hilir - Sungai Inderagiri - di tebing Kuantan - Kayu Ara - Anjing Balik- watas dengan pengulu – Perdana atau Koto Baru - di tengah-tengah Penyeberangan Gajah - Datuk Patih - di sebelah kiri - hilir - Sungai Inderagiri di tebing Kuantan - ekor pulau diapit atau bambin - badiri - menuju Serik (Sorek?) berjajar - tengah-tengah Sungai Malin - menuju Bekal Bekuak – Dua - lurus - menuju Bakal Bakuak - watas dengan Orang Kaya - Setia - Muara –</pre>



<p class="wp-block-paragraph">Batas-batas ini sudah disahkan sedemikian rupa oleh masyarakat dan pemimpin negeri pada waktu itu, seperti yang dinukilkan dari Tembo Tiga Lorong berikut ini:</p>



<pre class="wp-block-verse">maka diterangkan dengan sebenarnya - di muka - yang ramai - pada orang-orang cerdik pandai – di kampung Pematang - (1) tuan hakim - (2) tukang Metaja Lela - (3) datuk Berambin - di kampong Pematang – &nbsp;maka memenyalah buattan - orang yang - bertiga beradik itu - akan buattan - pengulu – yang bertiga itu - maka adalah – buattan - pengulu yang bertiga - di dalam - Tiga Lorong - yang dipegang - buattan - yang bertiga itu – maka tiadalah beroleh seperti buattan tua-tua membagi ‘adat – istiadat - yang beribu kalau masa gagak hitam - kuntul putih - ber’adat - istiadat - berpesaka - berunding - berbaris - berlarang – berpantangan - maka tiadalah - bertukar dan - berselang pakaian - pengulu yang bertiga di dalam Tiga Lorong - maka diterangkan – buattan pengulu yang bertiga beradik – itu pada Tiga Lorong mendapat – tanah - berlaba - jika kehilangan sama kerugian - jika - hilang sama – hilang - jika - timbul - sama - timbul - jika - baik - sama baik - jika - buruk – sama - buruk - itulah - buattan pengulu - tiga beradik - maka adalah – yang memberi ‘adat - istiadat – pengulu yang bertiga beradik - raja berdua - datuk yang berdua - masa - mengurniakan - tanah Tiga Lorong - sudah - membunuh - Siaja-Dubalang - di di Sibuayatinggi - demikianlah adanya – perjanjian - datuk yang berdua – dengan pengulu - yang bertiga beradik – di =Tiga Lorong=</pre>



<p class="wp-block-paragraph">Perkembangan berikutnya kawasan Tiga Lorong juga dijelaskan dalam Tiga Lorong, pada tanggal 16 April 1918</p>



<pre class="wp-block-verse">pengulu-pengulu bahagian Peranap - rapat di kantor Sutan Muda Peranap - buat masurat – perihal aturan-aturan watas pengulupengulu bahagian Peranap – dengan dihadiri raja - menteri jabatan Sutan Muda Peranap -1) pengulu Haji Sungut (Pematang). 2)pengulu Haji Husin (Pematang). 3)pengulu Sahit (Baturijal Hulu). 4)pengulu Haji Usman (Baturijal Hilir). 5)pengulu Jusuf (Gumanti). 6)pengulu Lugun (Peranap). 7)pengulu Mara Sutan (menteri kota Peranap) 8) Taib Pengulu (wakil pengulu Baturijal Hilir) 9)pengulu Salim (Gumanti) 10)pengulu Darus (Peranap) dan lain-lain manti juga.</pre>



<pre class="wp-block-verse">keputusan rapat pengulu-pengulu bahagian Peranap- menurut ‘adat watas pengulupengulu bahagian Peranap yangsudah dilakukan - tiap-tiap pengulu - tidak dapat - diubah lagi – seandainya ialah sepakat - pengulu-pengulu - menentapkan - menurut - aturanaturanyang resmi sebagaimana yang sudah - dilakukan – tiaptiap pengulu - menteri – jabatan Sutan Muda - Peranap mengatur membuat jalan tanah 1918 seperti yang tersebut - pengulu – Pematang di sebelah hulu - di tebing Kuantan - sebelah kiri mudik Sungai Inderagiri Sungai Silunak - watas dengan pengulu Baturijal Hilir - di sebelah hilir - di tebing Kuantan - Sungai Inderagiri kanan hilir - dengan Sungai Cik Mati – atau Sungai Batang Peranap – watas dengan pengulu - Peranap – pengulu Baturijal Hilir - di sebelah hilir – di tebing Kuantan - Sungai Inderagiri - di sebelah kiri hilir - dengan - Muara Sungai - Kuantan Babu – atau - Sungai Kali Mas - watas dengan Pulau Gumanti - lurus ke darat - sampai Air Simpang Dua - Kali Mas - di sebelah hulu - di tebing Kuantan - Sungai Inderagiri - di sebelah kanan berjalan ke hulu - dengan Sungai Paluh - Batulaga - atau - Gaung - Tengah - tepian pengulu - yang dua beradik di Batu Ijau - waktu merintis tanah membuat kampung Batu Ijau - watas dengan Pengulu – Jo Mahkoto di Batu Ijau - hulu - pengulu Baturijal Hulu di sebelah hulu kanan mudik – di Batang Kuantan - Sungai Inderagiri - Siampo Babu - menuju ke tanah Bukit - itu tanah Betingkah – dan jalan raya - watas dengan Paduka Raja Cerenti - di sebelah hulu kiri mudik - di tebing Kuantan – Sungai Inderagiri - Sungai Tolo-tolo di tengah-tengah Sungai Kelengkeleng menuju Air Berkuak – watas dengan pengulu Cerenti - di sebelah hilir kanan hilir – di tebing Kuantan - Sungai Inderagiri - Rawang Koto Tuo - watas dengan pengulu Baturijal Hilir - di sebelah hilir - kiri hilir - di tebing Kuantan - Sungai Inderagiri - dengan Paluh - Batulaga - atau Gaung Tengah - watas dengan Baturijal Hilir</pre>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ini, tanah Tiga Lorong telah terbagi menjadi dua Kecamatan, <em>pertama </em>kecamatan Peranap, dan <em>kedua </em>kecamatan Batang Peranap. Komposisi kecamatan Peranap terdiri atas dua (2) kelurahan, sepuluh (10) desa, 16 kelurahan, dan 178 desa. Batas-batas desa serta kelurahannya antara lain;</p>



<ol class="wp-block-list" type="1"><li>Kelurahan Peranap: [U] Semelinang Darat, [S] Setako Raya, [T] Semelinang darat &amp; Gumanti, [B] Baturijal Hilir</li><li>Kelurahan Baturijal Hilir: [U] Pelalawan, [S] Kec Batang Peranap, [T] Setako raya; Kel. Peranap; Semelinang; Pandan Wangi; dan Serai Wangi, [B] Baturijal Hulu</li><li>Desa Baturijal Hulu: [U] Pelalawan, [S] Kec Batang Peranap, [T] Kel. Baturijal Hilir, [B] Baturijal barat</li><li>Desa Baturijal Barat: [U] Pelalawan, [S] Kec Batang Peranap, [T] Baturijal Hulu, [B] Kec Cerenti Kab Kuantan Sengingi</li><li>Desa Setako Raya: [U] Kel. Peranap, [S] Pauh Ranap; &amp; Kec Batang Peranap, [T] Gumanti, [B] Kel. Baturijal Hilir</li><li>Desa Pauh Ranap: [U] Setako Raya, [S] Prop Jambi, [T] Gumanti; Semelinang Tebing; &amp; Kec Batang Cenaku, [B] Kec Batang Peranap</li><li>Desa Semelinang Tebing: [U] Katipo Pura, [S] Pauh Ranap, [T] Kec Rakit Kulim, [B] Gumanti</li><li>Desa Gumanti: [U] Semelinang Darat, [S] Pauh Ranap, [T] Katipo Pura, [B] Kel. Peranap; Setako Raya; dan Pauh Ranap</li><li>Desa Katipo Pura: [U] Semelinang Darat, [S] Semelinang Tebing, [T] Semelinang Darat, [B] Gumanti</li><li>Desa Semelinang Darat: [U] Pandan Wangi, [S] Kel. Peranap; Gumanti; &amp; Katipo Pura, [T] Kec Kelayang, [B] Kel. Baturijal Hilir</li><li>Desa Pandan Wangi: [U] Serai Wangi, [S] Semelinang Darat, [T] Kec Kelayang, [B] Kel. Baturijal Hilir</li><li>Desa Serai Wangi: [U] Kab Pelalawan, [S] Pandan Wangi, [T] Kec Kelayang, [B] Baturijal Hilir</li></ol>



<p class="wp-block-paragraph">Penduduk kecamatan Peranap berjumlah 327.141 Jiwa. Komposisi jenis kelamin laki-laki 14,906 jiwa, dan perempuan sebanyak 13,974 jiwa. Rasio komparasi jumlah pria dan wanita; setiap 100 jiwa Pr terdapat 106 jiwa Lk. Artinya, 6% lebih banyak jumlah laki-laki dibandingkan jumlah perempuan. Rasionya antara lain; 1) Peranap; Lk. 4.012 &amp; Pr. 3.804, 2) Pauh Ranap; Lk. 3.446 &amp; Pr. 3.024, 3) Semelinang Tebing; Lk. 1.598 &amp; Pr. 1.447, 4) Baturijal Hulu; Lk. 895 &amp; Pr. 819, 5) Semelinang Darat; Lk. 881 &amp; Pr. 900, 6)Baturijal Hilir; Lk. 836 &amp; Pr. 840, 7)Pandan Wangi; Lk. 744 &amp; Pr. 717, 8)Gumanti; Lk. 690 &amp; Pr. 706, 9) Serai Wangi; Lk. 555 &amp; Pr. 529, 10) Baturijal Barat; Lk. 473 &amp; Pr. 478, 11) Setako Raya; Lk. 392 &amp; Pr. 348, 12) Katipo Pura; Lk. 384 &amp; Pr. 362.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jumlah penduduk terbesar 7816 jiwa menetap di Kelurahan Peranap. Jumlah kepala rumah tangga 7.187, dengan kepadatan penduduk sebanyak 37 jiwa per Km2. Jarak desa terjauh dari pusat ibukota kecamatan 89 Km., sedangkan jarak terdekat 2 Km. Jumlah aparat pemerintahan setingkat desa dan kelurahan sejumlah 379 orang, dengan komposisi 50 orang staf kantor kelurahan dan desa, 64 ketua RW, 162 orang ketua RT, 64 orang Linmas/Hansip.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fasilitas pendidikan di kecamatan Peranap sejumlah 68 bangunan sekolah. Terdiri atas 7 unit sekolah TK, 27 unit SD, 24 unit MDA, 5 unit SMP, 1 unit MTS, 2 unit SMU, 1 unit SMK, dan 1 unit MA. Unit bangunan SMP dan SMU hanya ada di desa Baturijal Hulu, Baturijal Hilir, Gumanti, Pandan Wangi, Pauh Ranap, dan kota Peranap. Sarana rumah ibadah antara lain; 25 masjid, 76 surau/musholla, dan 2 gereja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di desa Pauh Ranap terdapat 3 lokasi pasar dengan 4 rumah makan. Di Peranap 1 pasar, 74 rumah makan, dan 3 unit hotel/ penginapan. Di Baturijal Hilir terdapat 1 penginapan. Di Baturijal Hulu, Semelinang Tebing, Baturijal Hilir, Baturijal Barat masing-masing terdapat 1 rumah makan, di Gumanti 3 rumah makan, dan di Semelinang Darat 4 rumah makan. Sektor pertanian dan peternakan, terdapat 102 hektar lahan tanaman padi, dengan total produksi sebesar 232.74 ton, atau 5,83% dari total produksi Inderagiri Hulu (Th. 2011). Jumlah ternak; 120 ekor kerbau, 1.474 ekor sapi, dan 1.242 ekor kambing. Wilayah populasi sapi pedaging terbesar ada di Baturijal Hulu, dan Baturijal Hilir. Populasi kerbau ada di desa Gumanti, Baturijal Hulu, dan Semelinang Tebing. Dipelihara oleh 482 orang peternak.&nbsp; Di Kecamatan Peranap berdiri dua perusahaan perkebunan kelapa sawit, yakni PT. Indri Plantations, dan PT. Rigunas Agri Utama. Jumlah luas keseluruhan kebun kelapa sawit 1.072 hektar. Kebun karet milik pribadi lebih mendominasi dengan luas 3.197 hektar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kecamatan Batang Peranap terdiri dari 10 (sepuluh) desa, dan 24 (duapuluh empat) dusun. [U] berbatas dengan Kecamatan Peranap, [S] dengan provinsi Jambi, [T] kecamatan Peranap, dan [B]</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Elmustian dan Tarmizi Yusuf. 2012.<em> Ensiklopedia Baturijal</em><em> </em>(Pekanbaru: kerjasama Unri Press – Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Unri)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Elmustian, Al azhar, Sita Rohana, Junaidi-Syam. 2012. <em>Ensiklopedia Kebudayaan Melayu</em> Riau, bersama Al azhar, Sita Rohana, Junaidi-Syam. Jilid 1, 2, 3, 4, 5. Pekanbaru: Pusat Penelitian dan Kebudayaan Universitas Riau.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Isjoni Ishaq dan Mira Dwi Minarsih. 2003. <em>Tiga Lorong dalam sejarah Kerajaan Indragiri (1735 – 1765)</em>, Pekanbaru:Unri Press.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Junaidi Syam dan Elmustian. 2014. <em>Tiga Lorong Tumpuan, Arus, dan Mitos </em>(Pekanbaru: Unri Press).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Junaidi Syam, Elmustian, Mardan. 2013. <em>Tiga Lorong Teguh Berdiri di Tengah Persimpangan Riuh Ramai</em>. Pekanbaru: Unri Press)</p>
<p>Artikel <a href="https://tigalorong.id/tembo/sejarah-masyarakat-hukum-adat-tiga-lorong/">Sejarah Masyarakat Hukum Adat Tiga Lorong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://tigalorong.id">Tiga Lorong</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tigalorong.id/tembo/sejarah-masyarakat-hukum-adat-tiga-lorong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 0/209 objects using Memcache
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching using Redis

Served from: tigalorong.id @ 2026-10-05 08:25:10 by W3 Total Cache
-->